PURWOREJO, purworejo24.com – Kabupaten Purworejo tak hanya dikenal lewat Tari Dolalak yang telah menjadi ikon budaya, namun juga menyimpan ragam kesenian tradisional bernuansa Islami yang sarat makna spiritual.
Salah satunya adalah Kencrengan atau yang akrab disebut Kencreng Jedor — kesenian religius khas Purworejo yang kini kembali menggeliat di tengah masyarakat.
Meski tak sepopuler Dolalak, Kencrengan memiliki nilai sejarah dan keislaman yang kuat. Kesenian ini telah hidup berabad-abad di tengah masyarakat pedesaan Purworejo, terutama di wilayah yang masih kental dengan tradisi Islam Jawa.
Tabuhan ritmis dan lantunan sholawatnya senantiasa mengiringi berbagai acara keagamaan seperti Maulid Nabi, pengajian Rajaban, tahlilan, puputan bayi, hingga upacara kematian.
Seiring berjalannya waktu, minat masyarakat terhadap kesenian tradisional mulai menurun. Namun, semangat sejumlah tokoh muda Purworejo justru menyalakan kembali bara tradisi ini.
Pada 20 Juni 2013, mereka membentuk Komunitas Pecinta Kencreng (KPK) sebagai wadah pelestarian dan regenerasi. Kini, lebih dari 100 grup Kencrengan tersebar di berbagai wilayah Purworejo bergabung dalam komunitas tersebut.
Ketua KPK, Bagus Purnomo asal Bayem, Kutoarjo, menuturkan bahwa komunitas ini hadir untuk menjaga warisan budaya Islam Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kencrengan itu bagian dari budaya Islam Nusantara. Kami ingin terus melestarikan dan mengenalkannya sebagai identitas budaya Purworejo. Biasanya kami adakan kopdar antargrup Kencrengan se-Kabupaten Purworejo, terutama saat hari-hari besar Islam,” jelasnya.
Bagus menambahkan, meskipun sepintas mirip dengan rebana, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
“Kencrengan dengan rebana itu mirip tapi tidak sama. Personelnya lebih sedikit dan alatnya berbeda. Kencrengan biasa digunakan untuk mengiringi sholawat Al-Barzanji, sedangkan rebana mengiringi Simtudduror seperti yang dibawakan Habib Syech,” terangnya.
Lebih dari sekadar hiburan, Kencrengan menjadi sarana dakwah dan perekat sosial masyarakat.
Achmad Luthfi Khakim, anggota KPK asal Pituruh, menyebut bahwa kegiatan komunitas ini menjadi ruang silaturahmi dan pembelajaran lintas generasi.
“Setiap daerah punya gaya tabuhan dan sholawat yang berbeda. Dari pertemuan KPK, kita bisa saling belajar. Selain itu, ini juga wadah positif bagi anak muda agar tidak terjerumus ke hal negatif,” ujarnya.
Kencrengan biasanya dimainkan oleh empat hingga lima orang dengan alat berupa tiga hingga empat kencreng (terbang) dan satu bedug.
Terbuat dari kayu bundar berlapis kulit hewan yang disamak, alat ini menghasilkan bunyi khas “tek”, “dug”, dan “dung” — membentuk irama yang sederhana namun menggugah hati.
Salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi ini adalah Dusun Tegal, Desa Karangwuluh, Kecamatan Kutoarjo.
Menurut para sesepuh setempat, Kencrengan di wilayah tersebut telah ada sejak sebelum masa kemerdekaan dan dipercaya sebagai warisan dari masa awal penyebaran Islam di Jawa — hasil akulturasi budaya Arab dan tradisi lokal.
Sempat mengalami masa vakum, kesenian ini kembali hidup berkat semangat para pemuda desa yang membawa ilmu dari pesantren.
Kini, setiap malam Minggu, masyarakat Dusun Tegal rutin mengadakan pembacaan Al-Barzanji yang diiringi tabuhan Kencrengan, menciptakan suasana religius dan penuh kebersamaan.
“Dengan kegiatan seperti ini, anak muda lebih terarah. Mereka tidak menghabiskan malam minggu untuk hal yang tidak bermanfaat, tapi ikut bershalawat bersama,” ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat.
Selain untuk hiburan dan ritual keagamaan, tabuhan Kencrengan juga digunakan sebagai penanda waktu salat di sejumlah desa.
Saat bedug Kencrengan berbunyi, masyarakat tahu bahwa waktu ibadah telah tiba.
Dalam acara seperti khitanan, khataman, atau cukur rambut bayi, Kencrengan hadir sebagai pengiring yang sakral.
Lebih dari sekadar permainan musik, Kencrengan mengandung nilai luhur tentang kerja sama, kesabaran, kekompakan, dan rasa hormat antaranggota.
Setiap alunan dan lantunan sholawat menjadi wujud cinta kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus pengingat untuk terus berbuat kebaikan.
“Kencrengan bukan hanya budaya, tapi juga ladang dakwah. Di dalamnya ada nilai religius, sosial, dan pendidikan yang penting untuk generasi muda,” tutur Bagus Purnomo.
Di tengah derasnya arus globalisasi, keberadaan KPK menjadi semangat baru bagi pelestarian tradisi. Kini, beberapa sekolah dan komunitas remaja di Purworejo mulai memperkenalkan Kencrengan dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan.
Harapannya, kesenian ini tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang sebagai jembatan antara tradisi dan dakwah, budaya dan spiritualitas.
“Kencrengan adalah warisan nenek moyang yang membawa pesan damai dan cinta Nabi. Kami ingin anak muda Purworejo tahu bahwa di balik tabuhan sederhana, tersimpan nilai besar yang patut dijaga,” pungkas Bagus Purnomo. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







