BANYUURIP, purworejo24.com – Ratusan warga Dusun Karangjati, RW 04, Desa Popongan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, menggelar tirakatan malam 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah di kawasan Petilasan dan Makam Atas Angin, Senin (15/6/2026) malam.
Kegiatan yang telah berlangsung turun-temurun tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk berdoa bersama, mengenang jasa leluhur, sekaligus melestarikan tradisi budaya Jawa yang sarat nilai spiritual.
Suasana khidmat tampak menyelimuti area Atas Angin saat warga berkumpul mengikuti mujahadah, pembacaan Yasin, tahlil, dan doa bersama.
Sejumlah tumpeng dan ingkung yang dibawa warga turut disajikan sebagai bagian dari tradisi kenduri atau walimahan yang telah lama menjadi ciri khas peringatan malam 1 Suro di wilayah tersebut.
Kepala Dusun Karangjati, Sumarman, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk ikhtiar spiritual masyarakat untuk memohon keberkahan kepada Allah SWT pada momentum pergantian tahun Hijriah.
“Setiap malam 1 Suro warga bersama-sama mengadakan walimahan dan mujahadah di Atas Angin. Tujuannya untuk berdoa agar warga Dusun Karangjati dan seluruh masyarakat Desa Popongan diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai musibah,” ujarnya.
Menurutnya, peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Dusun Karangjati, tetapi juga dari berbagai wilayah lain seperti Ngombol, Semawung, hingga sejumlah daerah di luar Kabupaten Purworejo.
Tradisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan terus dilestarikan hingga sekarang.
“Kegiatan ini sudah lama dilakukan. Saya melanjutkan sejak tahun 2017 dan rutin dilaksanakan setiap malam 1 Suro. Harapannya budaya ini tetap terjaga dan tidak hilang ditelan zaman,” tambahnya.
Tokoh masyarakat Desa Popongan, Heru Wibowo, menjelaskan bahwa malam 1 Suro bagi masyarakat Jawa merupakan momentum untuk melakukan eling lan waspada atau introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta mengenang para leluhur yang telah berjasa membangun kehidupan masyarakat.
“Intinya kami ingin mengingat Allah SWT, Rasulullah, dan juga mengenang jasa para leluhur. Ini adalah bentuk nguri-uri budaya Jawa sekaligus pepeling agar manusia tidak lupa asal-usul dan sejarahnya,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, warga membawa sekitar 17 tumpeng dan 17 ingkung yang berasal dari keluarga, kerabat, serta warga yang tinggal di perantauan.
Setelah doa bersama, makanan tersebut dinikmati secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Heru menjelaskan bahwa kawasan Atas Angin dikenal masyarakat sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan sejumlah tokoh yang dipercaya pernah singgah atau dimakamkan di wilayah tersebut.
Di antaranya Eyang Sutotruno, Ratu Ayu Atas Angin atau Raden Encare Roro Palupi, Bendara Raden Ayu Ageng Serang, Eyang Mangun Wilogo, Kyai Supi, serta beberapa tokoh lain yang hidup pada masa perjuangan melawan penjajahan.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sejumlah tokoh tersebut memiliki hubungan dengan Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, maupun perjuangan pada masa Perang Diponegoro.
Meski demikian, sebagian kisah yang diwariskan secara turun-temurun tersebut masih berupa tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari khazanah sejarah lokal.
Selain menjadi sarana berdoa, tirakatan malam 1 Suro juga mengandung nilai pendidikan budaya bagi generasi muda. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak memahami pentingnya menghormati jasa para pendahulu, memperkuat silaturahmi, serta menjaga identitas budaya lokal.
Budayawan Jawa menyebut tradisi kenduri dan tirakatan sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Tuhan.
Nilai-nilai tersebut masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern.
“Yang paling penting bukan soal tempatnya, tetapi bagaimana masyarakat tetap menjaga kebersamaan, memperbanyak doa, serta mengambil hikmah dari perjalanan sejarah para pendahulu,” ujar salah seorang warga yang mengikuti kegiatan.
Kegiatan tirakatan di Atas Angin berlangsung hingga larut malam dalam suasana tertib dan penuh kekeluargaan.
Warga berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Desa Popongan sekaligus menjadi sarana memperkuat persatuan dan kerukunan antarwarga. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









