BANYUURIP, purworejo24.com – Dalam rangka melakukan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), SMP Mutiara Bangsa Purworejo melakukan kunjungan ke situs Parigi, yang terletak di dukuh Kembaran, desa Banyuurip, kecamatan Banyuurip.
Para murid SMP Mutiara Bangsa berkunjung pada Selasa, (11/4/2023) untuk mempelajari dan mengenal situs tersebut. Kunjungan dilakukan ke situs Parigi ini karena tempat ini menarik. Kegiatan P5 sendiri berlangsung dari tanggal 10-14 April 2023.
“Kami datang ke situs Parigi untuk mempromosikan situs tersebut kepada generasi muda agar mereka tahu bukan hanya kota saja yang terlihat indah dan menarik tapi di Banyuurip ada salah satu destinasi wisata sederhana namun bersejarah dan menarik dan sampai saat ini wisata tersebut masih terawat dengan baik oleh warga sekitar sekaligus juru kunci tersebut”, ujar Lintang, salah satu murid SMP Mutiara Bangsa.
Menurut Lintang, wisata ini juga mengajarkan kali beberapa hal yang menarik. Akan banyak informasi mengenai situs Parigi jika kita mengunjungi secara langsung. Jika melihat dari foto-foto yang ada, kita mungkin hanya melihat biasa aja tapi jika mengunjungi secara langsung kita akan tahu betapa bersejarahnya Situs Parigi.
Menurut juru kunci situs Parigi, Sumarto, Situs ini berasal dari kata (Pa) paran, (Ri) Ingkang dan (Gi) Purugi. Di situs ini terdapat 2 sumur dan juga 1 masjid yang merupakan peninggalan sejarah kuno pada masa itu.
Beji ini memiliki arti yang bukan sembarangan, yaitu ada bekas jari, yang merupakan Candrasengkala atau penanda tahun yang disimbolkan berupa Asta (Jari Ada 5), Diku (2 lutut), Wading (3 Rahasia Pria), Jagad (1 Dunia). Jaman dulu orang-orang mendebatkan beberapa angka yang masuk akal hingga disepakati 1325 sebagai angka yang paling tepat.
Di Kerajaan Majapahit, seorang permaisuri mempunyai anak bernama Brotanjung/Gajahmada. Saat Gajahmada menjadi patih di Majapahit beliau mempunyai peraturan yang keras. Sehingga banyak orang yang merasa tidak nyaman berada di Majapahit, terutama Raden Jayakusuma. Karena Raden Jayakusuma tidak nyaman berada di Majapahit, akhirnya beliau sering membuat masalah di sana. Majapahit mempunyai aturan yang dapat membuat orang tersebut akan diusir dari sana. Yaitu peraturan bahwa tidak boleh bermain judi, dan Jayakusuma nekat melanggar aturan tersebut sehingga beliau diusir dari Majapahit.
Sang adik Jayakusuma yaitu Nyi Galuhwati mengetahui hal tersebut dan ingin ikut bersama dengan sang kakak. Setelah perjalanan panjang, mereka sampai di suatu tempat dan menancapkan Ki Panubiru dan muncullah air yang deras. Tempat tersebut kiini dikenal sebagai situs Parigi.(P24/*)
*catatan redaksi: artikel ini ditulis oleh siswa-siswa SMP Mutiara Bangsa (Aruna, Firdan, Ganes, Keizha, Lintang) sebagai bagian dari tugas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









