PURWOREJO, purworejo24.com – Puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gunung Teges Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah kompak melakukan mogok sekolah.
Hal itu dilakukan sebagai wujud protes atas kebijakan Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) yang telah me-regrouping SDN Gunung Teges dengan SDN Sukogelap.
Atas persoalan tersebut Dion Agasi Stiabudi menyatakan akan segera berkoordinasi dan berkirim surat kepada Bupati Purworejo Agus Bastian untuk meminta adanya penundaan regrouping agar tidak ada lagi aksi mogok sekolah yang dilakukan siswa.
“Nanti kita berkirim surat untuk meminta adanya fasilitasi kelas jauh. Kita bersama-sama ikhtiar berusaha semaksimal mungkin agar permasalahan ini segera teratasi. Tadi jelas permintaan warga bahwa mereka menginkan tetap menempuh pembelajaran di SDN Gunung Teges ,” kata Dion usai meninjau lokasi sekolah pada Jumat, 2 September 2022.
Dion berharap kebijakan regrouping sejumlah SD, khususnya SDN Gunung Teges dapat ditunda terlebih dahulu. Hal itu mengingat banyaknya masalah yang timbul di lapangan dan kemudian tidak diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat.
“Berbicara realita di lapangan, dengan medan seperti itu siapa yang tidak khawatir jika anak-anak harus sekolah di luar desa,” tegas Dion.
Selama ini, menurut Dion pendekatan yang dilakukan saat pelaksanaan regrouping hanya pada tahap sosialiasi.
“Saya berharap anak-anak jangan disuruh mogok sekolah, kasian kalau disuruh mogok, apalagi sebentar lagi mau tes. Jangan sampai anak-akan kita yang jadi korban akibat wacana regrouping ini,” kata Dion.
Kepala Desa Gunung Teges Misno Saputro menjelaskan sebelumnya wali murid SDN Gunung Teges mengancam akan melakukan aksi mogok sekolah jika pemerintah tetap melaksanakan rencana regrouping.
“Anak-anak mogok sekolah mulai hari Kamis kemarin,” katanya.
Misno menjelaskan, masyadakat Desa Gunung Teges, khususnya wali murid sebenarnya tidak mempermasalahkan adanya wacana regrouping asal kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan di SDN Gunung Teges.
“Sekolahnya terserah mau digabung dengan sekolah mana tapi belajarnya tetap di SD Gunung Teges,” katanya.
Beberapa alasan menjadi dasar wali murid keukeuh menginkan kegiatan sekolah tetap dilaksanan di SDN Gunung Teges diantaranya adalah alasan ekonomi. Warga mengaku cukup kesulitan jika harus antar jemput setiap hari mengingat pekerjaan mereka yang mayoritas adalah petani, terlebih tidak semua wali murid memiliki kendaraan bermotor.
“Selain itu alasan utama adalah karena faktor jarak tempuh. Jarak tempuh SDN Gunung teges ke SD terdekat itu 1,8 km dengan medan yang sulit ditempuh oleh anak-anak karena harus melawati bulak dan jalan yang terjal naik turun,” jelas Misno.(P24-bayu).
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








