Mirip Stupa Bagelen, Benda Diduga Cagar Budaya Ditemukan Warga di Desa Durensari

oleh -
Salah satu dari tiga benda diduga cagar budaya yang ditemukan warga di Desa Durensari Kecamatan Bagelen, kemarin. (dok. Dinparbud Purworejo)
Salah satu dari tiga benda yang diduga cagar budaya yang ditemukan warga di Desa Durensari Kecamatan Bagelen, kemarin. (dok. Dinparbud Purworejo)

PURWOREJO, purworejo24.com – Sebanyak 3 benda terbuat dari batu yang diduga merupakan cagar budaya ditemukan warga di Desa Durensari Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo. Berdasarkan identifikasi awal oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Purworejo, bentuk ketiga benda tersebut menyerupai Stupa Bagelen yang ada di kompleks Situs Petilasan Nyai Bagelen.
Kepala Dinparbud Purworejo saat dikonfirmasi melalui Kabid Kebudayaan, Agung Pranoto, menyebut benda tersebut ditemukan warga setempat di pekarangan rumah Sudar Rohmadi yang terletak di Dusun Durenombo RT 14 RW 4 Desa Durensari. Berdasarkan laporan dari warga diketahui bahwa benda tersebut muncul ke permukaan tanah akibat terdapat tebing yang longsor.

“Menindaklanjuti laporan dari warga, saya bersama tim telah mendatangi lokasi dan melakukan rangkaian penelitian awal pada 9 Juni 2021 lalu,” sebutnya, Selasa (15/6).

Tim Dinparbud Purworejo meneliti Stamba, salah satu dari tiga benda diduga cagar budaya yang ditemukan warga di Desa Durensari Kecamatan Bagelen, kemarin. (dok. Dinparbud Purworejo)
Tim Dinparbud Purworejo meneliti Stamba, salah satu dari tiga benda diduga cagar budaya yang ditemukan warga di Desa Durensari Kecamatan Bagelen, kemarin. (dok. Dinparbud Purworejo)

Dari hasil penelitian awal, lanjutnya, terdapat 3 benda diduga cagar budaya, yakni berbentuk Stamba, Yoni, dan Catra. Stamba terbuat dari batu berwarna abu-abu, berbentuk lonjong dengan ukuran panjang badan 93 cm, diameter bagian bawah 46 cm, diameter bagian tengah 44 cm, dan diameter bagian atas 49 cm. Bagian bawah berbentuk kotak dengan ukuran 22 cm x 19 cm. Bagian atas juga berbentuk kotak dengan ukuran 19 cm x 19 cm.

“Saat ditemukan kondisinya kurang terawat dan dalam posisi tergeletak di sisi jalan,” lanjutnya.

Benda kedua, Yoni, terbuat dari batu berwarna abu-abu berbentuk kotak dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 60 cm, dan tebal 26 cm. Di bagian atasnya terdapat lubang persegi dengan ukuran 22 cm x 24 cm dan kedalaman lubang 13,5 cm.

“Kondisi utuh kurang terawat. Ditemukan setelah tebing sisi jalan longsor sehingga benda sudah bergeser dari tempat semula,” jelasnya.

Sementara untuk benda ketiga, Catra, terbuat dari batu berwarna abu-abu berbentuk menyerupai piring dengan diameter 24,5 cm dan tebal 7,7 cm. Kondisi pecah menjadi 2 bagian.

“Yoni dan Catra ditemukan pada tahun 2019 setelah terjadi longsor pada tebing sisi jalan sehingga benda tersebut muncul dan telah bergeser dari tempat semula. Benda-benda tersebut saat ini sudah kita masukan data di Dinparbud,” katanya.

Lebih lanjut Agung mengungkapkan bahwa ketiga benda masih berada di lokasi penemuan. Dinparbud telah berkoordinasi agar Pemerintah Desa (Pemdes) Durensari dapat melindungi dan merawat benda tersebut serta membuat pagar pembatas sederhana. Secara resmi pihaknya juga telah membuat surat ke Pemdes yang ditembuskan kepada Forkopimcam Bagelen dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

“Tembusan ke BPCB sekaligus sebagai laporan. Jadi nanti kalau ada koreksi dari BPCB, misalnya terkait penamaan benda atau apa monggo, termasuk kalau mau turun menindaklanjuti atau bagaimana,” ungkapnya.

Hingga saat ini, Dinparbud belum dapat mengetahui secara pasti mengenai sejarah atau tahun pembuatan tiga benda itu. Namun, berdasarkan literasi yang dimiliki Dinparbud diketahui bahwa ketiga benda jika disatukan menyerupai bentuk Stupa Bagelen yang ada di kompleks Situs Petilasan Nyai Bagelen.

“Kita masih terus mencari referensi. Termasuk terkait nama benda, ada tidaknya keterkaitan dengan Stupa Bgelen, dan data-data lain,” tandasnya. (P24/Nuh)

Please follow and like us: