PURWOREJO (purworejo24.com) – Memasuki panen raya di tahun 2020 ini, sejumlah petani cengkih di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah mengaku merugi. Pasalnya. harga penjualan tak sebanding dengan modal dan perawatan serta tenaga panen, sehingga petani menjadi merugi.
Petani cengkeh Desa Ngaran, Kecamatan Kaligesing, Anshori, mengatakan harga cengkeh basah di pasaran saat ini berkisar 16-17 ribu/kg. Harga itu jauh lebih murah dibandingkan harga cengkeh pada musim panen tahun lalu, yang mencapai harga 20-25 ribu/kg.
“Ya terbilang sangat murah, karena harga yang wajar tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai 30-35 ribu/kg nya,” katanya.
Menurutnya, harga itu sangat merugikan petani, terlebih dimasa pandemi Covid-19 seperti saat ini, warga berharap mendapatkan keuntungan dari hasil panenc cengkih. Selain itu, biaya untuk panen pun cukup banyak karena harus merogoh kocek yang dalam untuk membayari tukang petik cengkih itu sendiri. Ia mengaku bahwa petani cengkeh kini semakin tercekik akibat harga yang sangat tidak masuk akal.
“Saya sudah mulai panen tetapi harganya sangat parah sekali. Mungkin yang merasakan kondisi seperti ini tidak hanya saya saja. Petani cengkeh lainnya juga sama,” keluhnya.
Petani cengkih di Desa Tlogobulu, Kecamatan Kaligesing, Faisal Hidayat, juga merasakan hal yang sama dengan dampak penurunan harga cengkih. Di musim panen saat ini pihaknya hanya mampu menjual cengkih basah dengan harga 16 ribu/kg nya.
“Walaupun harganya sedang anjlok, biji cengkeh tetap harus dipanen setiap agar pohonnya tetap subur dan menghasilkan lebih banyak biji saat panen di tahun berikutnya,” ujarnya.
Petani berharap, ada perubahan harga cengkih dimasa mendatang, agar petani bisa tetap membudidayakan cengkih dan menjadikan komoditas itu sebagai penghasil utama petani.
“Mudah-mudahan harga masih bisa naik, sehingga petani menjadi tidak lagi merugi,” harapnya.(P24-Drt)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







