EkonomiSeni Budaya

Hari Batik, Jazid Angkat Batik Motif Antik, Sosok Perempuan dalam Cerita Rakyat

495
×

Hari Batik, Jazid Angkat Batik Motif Antik, Sosok Perempuan dalam Cerita Rakyat

Sebarkan artikel ini
Seniman batik Purworejo Jazid Bastomi angkat batik motif antik.
Seniman batik Purworejo Jazid Bastomi angkat batik motif antik.

PURWOREJO, purworejo24.com – Seorang desainer dan seniman batik asal Kabupaten Purworejo, Jawa tengah menambah koleksi karyanya dengan menciptakan batik tulis bermotif antik. Motif baru itu pun menjadi persembahan istimewa pada Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober.

Meski belum dikenalkan secara luas, karya ini telah mulai mendapat perhatian dari banyak pihak. Demikian juga permintaan konsumen dari luar daerah juga meningkat.

“Yang spesial bagi saya untuk hari batik tahun ini ya ini, Batik Antik,” kata Jazid Bastomi, saat ditemui purworejo24.com, di Kantor Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Purworejo, Rabu (2/10/2019).

Batik motif antik karya Yazid Bastomi.
Batik motif antik karya Yazid Bastomi.

Batik antik mengangkat cerita rakyat lokal Kabupaten Purworejo, khususnya Bagelenan yang diberi nama Rama-Rama Bagelen. Motifnya beragam, tetapi lebih mengeksplorasi dari sisi seni tentang sosok perempuan tempo dulu.

“Motif cerita rakyat memang sudah mulai saya garap sejak beberapa tahun ini. Tapi kali ini saya lebih mengangkat sosok perempuan dalam berbagai aktivitasnya atau perannya zaman dahulu,” ujarnya.

Menurut jazid, batik antik mulai dikerjakan sejak sekitar 6 bulan terakhir sehingga secara kuantitas belum banyak jumlahnya. Baru ada sekitar 25 motif yang berbeda versi, sepeti dalam hal busana atau jenis ativitas perempuan.

“Ini baru saja selesai dan baru kemarin saya kirim ke Jogjakarta dan Jakarta. Harganya mulai ratusan ribu hingga 9 juta per lembar,” sebutnya.

Jazid mengaku terciptanya batik antik muncul dari keinginannya untuk mengangkat kembali sejarah Purworejo yang terancam tenggelam oleh zaman. Sementara ide-ide motifnya ia dapatkan dari mendengarkan cerita-cerita orang-orang zaman dahulu dan observasi dengan membaca literasi terkait.

“Kebetulan saya suka sejarah. Kalau untuk motif wayang kan sudah banyak, nah motif cerita rakyat ini murni ide saya,” imbuhnya.

Proses pengerjaan batik antik tidak dapat kilat seperti pengerjaan motif lainnya. Dalam hal desain, Jazid melakukannya sendiri. Namun, untuk urusan pewarnaan, ia melibatkan para perajin batik binaannya yang tersebar di sejumlah desa di Kabupaten Purworejo.

“Kita pakai warna alam dan menyesuaikan motif. Untuk kainnya sendiri pakai kualitas yang paling bagus,” jelasnya.

Rencananya, batik antik akan terus diproduksi dalam jumlah lebih banyak dan dipasarkan secara luas. Tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di sejumlah Negara yang telah menjadi pelanggan batik produksi Jazid.

“Prospek pemasaran sangat bagus, apalagi mancanegara karena mereka memang suka motif-motif seperti ini. Batik antik ini bisa untuk dekorasi di dalam rumah atau busana. Jadi fleksibel,” ungkapnya.

Jazid mengaku bahwa motif batik antik melengkapi koleksi karyanya yang saat ini sudah mencapai 600 lebih. Dirinya berharap karya baru yang dikenalkannya bertepatan dengan hari batik ini mampu menjaga kelestarian batik sekaligus sejarah Purworejo.(P24-Drt)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.