Jamasan Pusaka Adipati Gagak Handoko yang Berusia Ratusan Tahun
Sebarkan artikel ini
Tombak Kyai Jangkung peninggalan Gagak Handoko sedang dijamas (8/9/2019)
LOANO, purworejo24.com – Di bulan Suro, trah keturunan Gagak Handoko melakukan jamasan pusaka peninggalan adipati terakhir Loano tersebut. Sejumlah pusaka berupa tombak, keris hingga kuluk peninggalan Gagak Handoko yang sebagian sudah berusia ratusan tahun dijamas di halaman Panepen (rumah menyepi) Gagak Handoko di Loano, Purworejo Jawa Tengah.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, jamasan pusaka peninggalan Gagak Handoko ini dilakukan pada setiap bulan Suro atau Muharam. Tahun ini jamasan dilakukan di halaman Panepen (rumah menyepi) Gagak Handoko di Dusun Turusan, Desa Loano, Purworejo pada Minggu (8/9/2019).
“Acara jamasan merupakan acara tahunan. Sejak dulu sudah dilakukan setiap tahun, namun sejak 3 tahun terakhir dibuka umum. Dulu dilaksanakan sederhana, sekarang disiapkan lebih baik sesuai kemampuan keluarga”, ungkap R. Sutrianto, salah satu keluarga pewaris trah Gagak Handoko saat dijumpai purwrojeo24.com usai jamasan.
Jamasan pusaka peninggalan Gagak Handoko, Senopati Pangeran Diponegoro.(8/9/2019)
Sutrianto sendiri merupakan lelaki tertua dari generasi ke 5 keturunan Gagak Handoko yang masih ada saat ini. Karena posisi sebagai tertua, R. Sutrianto mendapat tugas dari keluarga untuk memimpin penjamasan terhadap pusaka-pusaka peninggalan salah satu senopati Pangeran Diponegoro tersebut.
Karena terbuka untuk umum, acara jamasan ini pun dikemas berbeda. Sejak jam 8 pagi, acara dibuka dengan irama gejuk lesung yang dimainkan ibu-ibu warga sekitar. Setelah sambutan dari kepala desa dan tokoh masyarakat, dilakukan pemotongan tumpeng disertai doa keselamatan dan kelancaran acara jamasan. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi jamasan yang dilakukan oleh 4 orang anggota keluarga pewaris trah Gagak Handoko.
Jamasan pusaka peninggalan Gagak Handoko di halaman Panepen Gagak Handoko, Desa Loano Purworejo.
Tak hanya warga sekitar, acara jamasan ini juga dihadiri beberapa tokoh masyarakat, diantaranya Direktur PDAM Hermawan Wahyu Utomo, Mantan Ketua DPRD Luhur Pambudi, dan Ketua Paguyuban Kepala Desa Polosoro Dwi Darmawan.
“Acara ini dari tahun ke tahun juga semakin ramai, Selain pusaka keluarga, ada beberapa pemilik pusaka yang titip untuk dijamas. Pusaka asli ada 9, ditambah dengan pusaka dari luar menjadi 17 pusaka yang dijamas saat ini”, jelas R. Sutrianto .
R. Sutrianto mengaku pusaka asli peninggalan leluhur mereka, Eyang Gagak Handoko tidak cuma sembilan, tetapi ada beberapa yang disimpan di tempat lain. Beberapa yang masih disimpan keluarga diantaranya tombak, keris, patung kecil, dan 2 buah kuluk atau topi yang terbuat dari kayu. Salah satu pusaka yaitu tombak “Kyai Jangkung” dipercaya dibuat pada jaman Majapahit dan sudah berusia ratusan tahun.
Kendati merupakan warisan budaya yang sudah berusia ratusan tahun, perhatian pemerintah terhadap acara jamasan pusaka Gagak Handoko diakui keluarga belum ada.
“Saya harap kegiatan ini tidak hanya dari keluarga sendiri. tapi juga ya mendapat perhatian dari pemerintah sehingga bisa dilestarikan lebih baik. Bisa membawa nama harum, paling tidak desa, hingga kabupaten, dan bisa terangkat di tingkat nasional”, ungkap R. Sutrianto .
Sementara itu jamasan ini juga melibatkan generasi muda dari keturunan Gagak Handoko. Dua anak lelaki R. Sutrianto juga ikut membantu orang tuanya menjamas pusaka leluhur mereka.
“Saya mengikuti petuah dari bapak. Ayo le, kebudayaan dari simbah diuri-uri, kalau ndak kita siapa lagi. Itulah yang menggerakan kami untuk ikut melestarikan budaya yang ditinggalkan leluhur kami, nenek moyang kami. Saya mendukung dan setuju ini salah satu kebudayaan yng perlu dilesatarikan. Jarang sekali generasi sekarang yang mau melestarikan. Sekarang kebanyakan milenial-milenial meninggalkan kebudayaan, kalau saya berharap kebudayaan tersebut masih berlanjut”, pungkas R Bayu Handoko. (P24-Nuh)