Wacana Pemkab Purworejo Ganti Bentor, Pengemudi Becak Bentuk Paguyuban
Sebarkan artikel ini
Puluhan becak ditinggal pengemudinya saat pembentukan paguyuban, Senin (22/7/2019) siang di Gedung Kesenian.
PURWOREJO, purworejo24.com – Seratusan tukang becak di Purworejo, Jawa Tengah memprotes kebijakan Pemkab yang berencana akan mengganti becak motor (bentor) menjadi bajaj. Rencana itu membuat mereka resah dan merapatkan barisan dengan membentuk paguyuban.
Sedikitnya 176 tukang becak hadir di Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo dan langsung membentuk paguyuban pada Senin (22/7/2019). Hal tersebut dilakukan untuk menyikapi wacana pemkab yang ingin mengganti bentor menjadi bajaj. Paguyuban dibentuk sekaligus untuk berkoordinasi antar tukang becak terkait isu pelarangan operasional becak di wilayah kota Purworjo.
“Tadi secara aklamasi terpilih Rumino sebagai ketua paguyuban becak motor Purworejo yang baru, dan Suparman sebagai sekretaris. Dengan pertemuan ini diharapkan bisa memperkuat persatuan becak motor yang ada di Purworejo. Ketika dilarang, pemerintah harus tanggung jawab,” kata Pembina paguyuban becak motor kota Purworejo, Hery Priantono, saat ditemui purworejo24.com usai pertemuan.
Para pengemudi becak di Purworejo berembug membentuk paguyuban, Senin(22/7/2019) siang di Gedung Kesenian.
Menurut informasi yang didapat, wacana pergantian bentor menjadi bajaj itu juga sempat mencuat dalam sosialiasi yang diadakan oleh Dinas Perhubungan beberapa waktu lalu. Pelarangan bentor beroperasi dikarenakan bahwa bentor masih menggunakan mesin rakitan sepeda motor yang belum jelas keabsahannya alias dianggap ilegal.
Sementara itu ketua paguyuban becak motor wilayah kota Purworejo, Rumino mengaku resah dengan isu tersebut. Ia berharap pemerintah harus bisa peka terhadap nasib para tukang becak yang ada di wilayah Kabupaten Purworejo.
“Yang pasti isu itu bener apa tidak secara pribadi saya kurang setuju aja. Sejak audiensi di DPRD Purworejo beberapa bulan lalu aja belum ada kepastian perhatian pemerintah seperti apa terhadap tukang becak,” katanya.
Isu itu lanjutnya, sangat meresahkan para tukang becak. Saat ini saja mereka harus bersaing dengan angkutan kota serta angkutan online lain guna mendapatkan pelanggan. Jika kebijakan itu nantinya tetap diterapkan maka secara pribadi dirinya akan beralih profesi atau menjadi tukang becak kayuh biasa.
“Harapannya kita tetep bisa bekeja dengan nyaman aman dan menghasilkan. Sepi tidak sepi ada upah untuk setor, dan ada biaya untuk penghidupan keluarga,” tutupnya.(P24-Drt)