PURWOREJO, purworejo24.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo mengimbau masyarakat tidak panik terkait adanya berita prediksi atau potensi tsunami di pantai selatan Jawa. BPBD tengah melakukan upaya mitigasi untuk melakukan pengurangan risiko gempa dan tsunami secara bertahap.
Kepala BPBD Purworejo, Sutrisno saat dikonfirmasi purworejo24.com mengatakan, prediksi itu memang telah dikatakan oleh peneliti tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko dalam diskusi di gedung BMKG, beberapa hari lalu.
Pakar Tsunami dari BPPT, Widjo Kongko memprakirakan, gempa megathrust dengan magnitudo 8,8 berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa. Gempa tersebut juga berpotensi menyebabkan munculnya gelombang tsunami. Berdasarkan permodelan, gelombang tsunami tersebut memiliki potensi ketinggian 20 meter dengan jarak rendaman sekitar tiga hingga empat kilometer.
“Imbauan kepada masyarakat, jangan panik kalo ada isu gempa karena tidak ada pemberitahuan resmi dari BMKG,” kata Sutrisno, jumat (19/7/2019).
Dikatakan, permodelan yang disampaikan oleh para peneliti, tentu menjadikan masyarakat waspada.
“Berulang saya sampaikan mantapkan relawan bukan sekedar untuk menghadapi bencana tetapi dalam rangka membangun tatanan sosial yang berbasis kepedulian,” jelasnya.
Dijelaskan, sebagaimana dikatakan oleh pihak Supervisor Pusat Gempa Regional VII BMKG DIY, Nugroho Budi Wibowo, BMKG akan mengeluarkan peringatan dini terjadi tsunami usai gempa besar.
“Artinya kesiapsiagaan tim Pusdalops BPBD kabupaten Purworejo harus optimal untuk cepat merespon jika ada pemberitahuan dr BMKG. Tetapi terlepas dari ada atau tidak ada isu gempa di laut lepas, BPBD Purworejo selalu menjalin komunikasi dengan komunitas kebencanaan,” tegasnya.
Guna mengantisipasi hal hal yang tidak diinginkan, khususnya untuk daerah tepi pantai, saat ini BPBD terus berupaya menambah lagi desa tangguh bencana (Destana) tsunami. Sebanyak 15 desa sedang disiapkan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dalam rangka pembentukan Destana. FPRB adalah sebuah forum yang dibentuk sebagai upaya pengurangan risiko bencana di daerah rawan bencana.

Diantaranya adalah Desa Wero, Pagak, Girirejo dan desa di sepanjang pantai selatan. BPBD juga telah memasang Early Warning System (EWS) di sejumlah titik. EWS adalah sistem peringatan dini yang dapat diartikan sebagai rangkaian sistem komunikasi informasi yang dimulai dari deteksi awal, dan pengambilan keputusan selanjutnya.
“Artinya masyarakat diingatkan untuk selalu waspada. EWS tsunami juga telah ditambah lagi dua titik yaitu di desa Watukuro dan Kertojayan. Sehingga terdapat 14 EWS terpasang. Insya Allah semua baik, karena rutin kita uji coba,” ujarnya. (P24-Drt)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








