Tradisi Unik ‘Baritan’, Merti Desa ala Somorejo Bagelen
Sebarkan artikel ini
Bagelen, purworejo24.com – Sebuah desa di Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah memiliki tradisi unik yang rutin digelar setiap tahun. Tradisi kuno bernama ‘Baritan’ yang sudah ada sejak zaman dahulu itu hingga kini masih terus dilestarikan.
Baritan yang juga dikenal sebagai nyadran atau merti desa ini adalah sebuah tradisi untuk melestarikan budaya dan memperingati perjuangan para leluhur, tokoh pendahulu, cikal bakal, sekaligus memperingati berdirinya Desa Somorejo, Kecamatan Bagelen, Purworejo Jawa tengah. Hingga kini, tradisi yang sudah ada sejak zaman nenek moyang ini masih terus dilestarikan.
“Mungkin kalau pada zaman dahulu tradisi ini merupakan sebuah ritual persembahan. Namun pada era sekarang ini telah banyak mengalami perubahan, meski tetap dilaksanakan namun dengan tujuan untuk melestarikan budaya dan memperingati perjuangan para leluhur, tokoh pendahulu, cikal bakal, sekaligus memperingati berdirinya Desa Somorejo. Apalagi kini dalam kegiatan itu hanya dilakukan doa bersama untuk memanjatkan doa agar dosa-dosa para pendiri desa diampuni dan semua amal ibadahnya dapat diterima di sisi-Nya,” papar Kepala Dusun Sembir, Desa Somorejo, Hadi Sudiharmo di sela-sela acara, Jumat (19/7) kemarin.
Daging kambing diolah oleh kaum lelaki karena ada mitos yang menyebut tidak boleh dimasak oleh perempuan.
Ritual baritan sendiri dilaksanakan dalam dua tahap yakni pada bulan Apit atau Zulkaidah yang dilakukan di 8 tempat petilasan, kemudian yang ke dua dilaksanakan pada bulan Sura atau Muharam.
“Untuk tradisi baritan kali ini, warga melaksanakannya pada hari Jumat Kliwon di bulan Apit atau Zulkaidah. Nah, apabila di bulan tersebut tidak ada hari Jumat Kliwon-nya, maka ritual dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon,” lanjutnya.
Delapan kambing dan ayam jantan untuk ingkung pun dipotong untuk melengkapi ritual yang diadakan di 8 tempat petilasan. Karena tidak boleh dimasak oleh perempuan, daging kambing pun diolah oleh kaum lelaki di sekitar petilasan itu. Uniknya, semua makanan yang dimasak juga tidak boleh dicicipi dan hanya diberi bumbu menurut perkiraan saja.
“Ini merupakan hari hajatan orang se-desa, karena pada puncak ritual berupa kenduri agung setiap kepala keluarga membawa ubarampe sendiri-sendiri dari rumah, kemudian dibawa dengan menggunakan tampah atau nampan ke tempat petilasan yang terdekat dari rumah mereka. Adapun ubarampe yang harus dibawa dari rumah oleh warga meliputi nasi golong berjumlah 7 buah, lauk pauk, sayuran, dan uang penajem (uang kas),” terangnya.
Tradisi Baritan masih terus dilestarikan untuk memperingati berdirinya Desa Somorejo
Kenduri agung yang dipimpin oleh Kadus Hadi Sudiharmo pun digelar menandai puncak acara. Semua warga setempat, para tokoh, sesepuh, perangkat desa, hingga kepala desa berjubel menghadiri ritual yang diakhiri dengan melakukan zikir, tahlil serta doa bersama untuk keselamatan warga dan para pendiri desa itu.
“Kemudian daging kambing dan ingkung dibagi secara rata kepada seluruh warga masyarakat yang hadir maupun yang berhalangan hadir. Kenduri agung dilakukan pada setelah selesai jumatan atau bakda zuhur,” ucapnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat desa setempat, Amat Karsono, menuturkan baritan sendiri berasal dari Bahasa Arab Barit, namun karena lidah orang Jawa, maka kata barit berubah menjadi baritan. Selain itu, baritan juga berasal dari kata barut, yakni selendang yang dipakai untuk membarut bayi (melilit dengan selendang).
“Barit sendiri memiliki arti adem atau dingin, sehingga mengapa kok harus dilakukan tradisi baritan karena mempunyai filosofi agar warga masyarakat di Desa Somorejo bisa adem ayem tata titi tentrem kerta raharja atau aman, nyaman dan makmur. Barit atau barut juga berkaitan erat dengan sebuah kelahiran, sehingga baritan juga bisa diartikan sebagai tanda lahirnya pedukuhan-pedukuhan di Desa Somorejo,” jelasnya. (p24-Drt)