PURWOREJO, purworejo24.com – Sekaran Hills di Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, resmi diluncurkan pada Sabtu (12/9/2026) lalu. Kehadiran destinasi wisata alam baru ini mendapat respons positif dari Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), yang menilai Purworejo memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata Borobudur dan Yogyakarta.
Peluncuran Sekaran Hills menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Wisata Loano dan Bazar UMKM yang digelar melalui kolaborasi Bagelen Institute, BPOB, Pemerintah Kabupaten Purworejo, perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan pariwisata.
Destinasi ini diharapkan tidak hanya menjadi alternatif tujuan wisata baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan potensi alam, kuliner, dan produk lokal.
Respons BPOB tersebut mengemuka dalam Sarasehan Wisata bertema “Mendongkrak Pembangunan Pariwisata dan Sinergitas Pengembangan Ekonomi Daerah” di Ruang Arahiwang, Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Purworejo.
Plt. Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, mengatakan pengembangan pariwisata Purworejo membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar potensi yang dimiliki daerah dapat berkembang menjadi destinasi yang berkualitas dan berdaya saing.
Menurutnya, posisi geografis Purworejo yang berada di jalur penghubung Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan secara optimal.
“Pengembangan pariwisata memerlukan kolaborasi bersama. Perlu diskusi lintas lembaga dan organisasi untuk menemukan racikan yang tepat dalam meningkatkan kualitas pariwisata,” ujar Yusuf, dalam siaran rilisnya, Minggu (13/9/2026).
Ia menekankan, pengembangan pariwisata harus diimbangi dengan peningkatan kualitas infrastruktur, konektivitas wilayah, promosi digital, kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ekonomi kreatif.
Sementara itu, Plt. Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BPOB, Novita Dwihapsari, memaparkan empat pengungkit utama untuk mendongkrak pariwisata Purworejo, yakni visibilitas destinasi, konektivitas, pengemasan produk wisata, dan kolaborasi lintas sektor.
Menurut Novita, destinasi wisata perlu semakin dikenal, mudah dijangkau, dan memiliki produk yang menarik bagi wisatawan.
Potensi alam dan budaya juga perlu dirangkai dalam pola perjalanan atau travel pattern yang terintegrasi, sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan destinasi dan alasan untuk tinggal lebih lama di Purworejo.
“Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus membuka ruang dialog dan menjadi titik tolak bagi terwujudnya sinergi nyata dalam pengembangan pariwisata ke depan,” kata Novita.
Ketua Bagelen Institute, Supriyono, menyampaikan bahwa Sekaran Hills merupakan bagian dari upaya mengembangkan potensi lokal melalui keterlibatan masyarakat.
Bagelen Institute, sebagai wadah aspirasi dan partisipasi putra-putri daerah, mendorong pengembangan pariwisata yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Purworejo.
Kekuatan Sekaran Hills terletak pada inisiatif yang tumbuh dari masyarakat setempat. Melalui semangat gotong royong, masyarakat berupaya mengembangkan potensi wilayahnya sekaligus menciptakan ruang ekonomi baru.
Pengembangan kawasan Sedayu juga diarahkan untuk menghubungkan berbagai potensi lokal, seperti Pasar Menoreh, panorama persawahan, wisata kolam ikan, dan sentra kuliner tradisional.
Dengan konsep tersebut, keberadaan destinasi wisata diharapkan dapat membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM, penyedia jasa wisata, serta masyarakat yang terlibat dalam aktivitas ekonomi pariwisata.
Terpisah, Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, mengapresiasi peluncuran Sekaran Hills dan penyelenggaraan sarasehan sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan pariwisata daerah.
Menurutnya, pengembangan pariwisata harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembenahan infrastruktur pendukung, peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal, hingga penyediaan amenitas yang memadai.
“Pengembangan pariwisata harus menyentuh berbagai aspek krusial secara paralel, mulai dari pembenahan infrastruktur pendukung, peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal, hingga kelengkapan amenitas, sehingga mampu menciptakan efek ganda dan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat,” tegas Dion.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Sistem Informasi Universitas Negeri Yogyakarta, Soni Nopembri, turut menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix. Perguruan tinggi siap mendampingi masyarakat dalam mengembangkan potensi alam dan budaya menjadi produk wisata yang berkualitas, edukatif, dan bernilai ekonomi.
Selain Sekaran Hills, Purworejo memiliki sejumlah potensi wisata yang dapat dikembangkan dalam satu kesatuan perjalanan, di antaranya Glamping DeLoano, Pasar Menoreh, Trirejo River Tubing, dan Desa Wisata Karangrejo.
Pengembangan destinasi secara terintegrasi diharapkan mampu memperluas pilihan wisatawan sekaligus memperkuat keterhubungan Purworejo dengan kawasan wisata Borobudur dan Yogyakarta.
Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha, Sekaran Hills diharapkan tumbuh menjadi destinasi yang tidak hanya menawarkan daya tarik alam, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Peluncuran Sekaran Hills menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengelolaan destinasi berjalan baik, promosi dilakukan secara konsisten, dan masyarakat setempat memperoleh manfaat nyata dari perkembangan pariwisata.
Dengan dukungan empat pengungkit pengembangan pariwisata yang disampaikan BPOB, Purworejo memiliki peluang untuk memperkuat daya saing destinasi sekaligus menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









