Pendidikan

FTBI Kaligesing Jadi Ajang Generasi Muda Lestarikan Bahasa Jawa

1
×

FTBI Kaligesing Jadi Ajang Generasi Muda Lestarikan Bahasa Jawa

Sebarkan artikel ini
Peserta lomba
Peserta lomba

KALIGESING, purworejo24.com — Upaya menjaga Bahasa Jawa tetap hidup di tengah generasi muda terus dilakukan melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kecamatan Kaligesing. Tahun ini, festival tersebut digelar di SD Negeri Kaligesing, Kamis (3/9/2026), dengan melibatkan perwakilan siswa dari seluruh sekolah dasar se-Kecamatan Kaligesing.

Pembukaan FTBI berlangsung mulai pukul 07.30 WIB. Hadir dalam kegiatan tersebut Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan (Korwilcambidik) Kaligesing Mustiko Aji Triatmojo, S.Pd.SD, Pengawas TK/SD Kecamatan Kaligesing Sandi Hariadi, M.Pd., serta Ketua K3S Kecamatan Kaligesing Supriyono, S.Pd., M.M.Pd.

Mustiko Aji Triatmojo secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada panitia, sekolah, guru pendamping, serta para peserta yang telah berpartisipasi.

Menurutnya, FTBI bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan kecintaan siswa terhadap bahasa dan budaya daerah.

Festival Tunas Bahasa Ibu diharapkan menjadi momentum untuk meraih prestasi sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya daerah, khususnya Bahasa Jawa,” pesannya.

Sebanyak tujuh cabang lomba dipertandingkan dalam FTBI Kecamatan Kaligesing 2026, yakni Mocopat, Geguritan, Sesorah, Ndagel Ijen, Cerkak, Ndongeng, serta Nulis Moco Jowo.

Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar di masing-masing cabang. Mocopat menjadi salah satu cabang dengan peserta terbanyak, yakni 20 siswa, disusul Nulis Moco Jowo 19 peserta, serta Geguritan 21 peserta. Sementara Sesorah diikuti 17 peserta, Ndagel Ijen 13 peserta, Ndongeng 13 peserta, dan Cerkak 17 peserta.

Ketua FTBI Kecamatan Kaligesing, Subaryono, S.Pd., mengingatkan seluruh peserta untuk mengutamakan sportivitas dan memberikan penampilan terbaik.

Berikan penampilan yang semaksimal mungkin dan tetap junjung tinggi sportivitas. Semoga dari kegiatan ini terpilih putra-putri terbaik yang nantinya dapat menjadi wakil Kecamatan Kaligesing untuk berprestasi di tingkat Kabupaten,” ujarnya.

PelaksanaanFTBI tahun ini juga menghadirkan perubahan dalam sistem penentuan juara. Kategori putra dan putri tidak dipisahkan, sehingga seluruh peserta bersaing dalam satu kategori pada masing-masing cabang lomba.

Perubahan tersebut menjadi perhatian salah satu guru pendamping. Ia berharap pada pelaksanaan FTBI tahun mendatang, kategori putra dan putri dapat kembali dipisahkan.

Menurutnya, pemisahan kategori dapat memberikan ruang kompetisi yang lebih luas bagi siswa maupun siswi untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membuka peluang lebih besar dalam meraih prestasi.

Masukan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi positif agar penyelenggaraan FTBI ke depan semakin baik dan mampu memberikan ruang yang optimal bagi perkembangan bakat peserta didik.

Lebih dari sekadar perlombaan, FTBI menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali bahasa daerah kepada generasi muda melalui cara yang kreatif dan kompetitif. Siswa tidak hanya belajar menggunakan Bahasa Jawa, tetapi juga mengenal seni, sastra, tradisi bertutur, serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Di tengah perkembangan zaman, festival semacam ini menjadi penting agar Bahasa Jawa tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Melalui tangan generasi muda, bahasa dan budaya daerah diharapkan tetap digunakan, dicintai, serta berkembang sebagai bagian dari identitas masyarakat.

FTBI Kaligesing pun menjadi ruang bertemunya tiga hal sekaligus: prestasi, kreativitas, dan pelestarian budaya.


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.