PURWOREJO, purworejo24.com – Persoalan ternak sulit birahi, pejantan enggan mengawini hingga produksi susu menurun menjadi keluhan yang disampaikan peternak dalam program Baru Baper (Bincang Seru Bersama Peternak) di Desa Sudorogo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan yang digelar UPT Puskeswan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo itu sekaligus menjadi ajang mengenalkan inovasi SIM-KESWAN (Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Hewan) kepada para peternak.
Sistem berbasis website tersebut dirancang untuk membantu peternak dan petugas mencatat serta memantau riwayat kesehatan ternak secara lebih terintegrasi.
Kepala UPT Puskeswan DKPP Kabupaten Purworejo, drh. Amad Kosim, mengatakan pencatatan kesehatan ternak menjadi penting karena berbagai persoalan di lapangan sering kali tidak terdokumentasi.
“Banyak keluhan peternak soal birahi dan susu yang sedikit ternyata kembali ke pakan. Kualitasnya harus bagus, jumlahnya harus cukup, minimal tiga jenis pakan sekali kasih,” kata Amad.
Menurutnya, peternak juga perlu mengubah pola penanganan dari menunggu ternak sakit menjadi melakukan pencegahan dan deteksi dini.
“Kami ingin peternak tidak menunggu ternaknya sakit parah baru bertindak,” tegasnya.
Melalui SIM-KESWAN, berbagai riwayat ternak dapat dicatat dan ditelusuri kembali. Mulai dari kapan ternak terakhir dikawinkan, pemberian obat cacing, vaksinasi, hingga berbagai perlakuan kesehatan lainnya.
Dengan adanya riwayat tersebut, petugas akan lebih mudah mengetahui kondisi dan rekam kesehatan ternak ketika dilakukan pemeriksaan maupun penanganan.
Program Baru Baper kali ini diikuti tujuh Kelompok Tani (KT) dan dua Kelompok Wanita Tani (KWT). Mereka yakni KT Subur, KT Subur 2, KT Manunggal Rogo, KT Makmur 1, KT Makmur 2, KT Werdi Dadi, KT Panen Rejeki, KWT Barokah dan KWT Krasmajaya.
Sesi diskusi berlangsung cukup aktif. Peternak tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga menyampaikan persoalan yang mereka temui langsung di kandang.
Beberapa di antaranya terkait kambing betina yang sulit birahi, kambing jantan yang tidak mau mengawini, kambing betina setelah lepas sapih yang lama tidak menunjukkan birahi, hingga produksi susu yang sedikit.
Petugas kemudian menjelaskan bahwa persoalan tersebut dapat berkaitan dengan manajemen pakan dan pemenuhan nutrisi ternak.
Pakan yang diberikan, kata petugas, harus memenuhi unsur kualitas maupun kuantitas. Keberagaman jenis pakan juga perlu diperhatikan agar kebutuhan nutrisi ternak terpenuhi.
Selain persoalan pakan dan reproduksi, peternak juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pencegahan penyakit.
Petugas mengingatkan agar penerapan biosecurity menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari di kandang. Di antaranya dengan melakukan karantina terhadap ternak baru, memisahkan ternak sakit, membatasi lalu lintas orang dan kendaraan, melakukan disinfeksi kandang secara rutin serta mengendalikan vektor.
Sejumlah penyakit yang dapat merugikan peternak juga dikenalkan, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), scabies, cacingan atau helminthiasis, serta mastitis.
Khusus mastitis subklinis, peternak diingatkan agar tidak hanya melihat kondisi fisik ternak. Sebab, ternak bisa terlihat sehat tetapi mengalami penurunan produksi susu.
Penerapan SIM-KESWAN dilakukan melalui rangkaian kegiatan yang tidak berhenti pada pengenalan sistem digital.
Petugas terlebih dahulu merangkul peternak dengan mendatangi kandang dan memfasilitasi pemeriksaan ternak. Selanjutnya dilakukan deteksi dini melalui skrining serta pengambilan sampel, seperti kerokan kulit, susu dan feses.
Hasil pemantauan tersebut kemudian menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan agar peternak semakin mampu menerapkan manajemen kesehatan hewan secara mandiri.
UPT Puskeswan DKPP Purworejo berharap keberadaan Baru Baper dan SIM-KESWAN dapat memperkuat komunikasi antara peternak dengan tenaga kesehatan hewan.
Peternak pun diharapkan tidak lagi merasa sungkan berkonsultasi ketika menemukan perubahan kondisi ternaknya.
Dengan deteksi lebih awal dan pencatatan yang lebih tertib, penanganan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Pada akhirnya, kesehatan ternak terjaga, produktivitas meningkat, dan kerugian peternak akibat penyakit maupun gangguan produksi dapat ditekan. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









