PURWOREJO, purworejo24.com – Kabupaten Purworejo terus memperkuat sektor perikanan budidaya melalui Program Budidaya Ikan Tematik Bioflok yang diinisiasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Program ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi ikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, mendukung pemenuhan gizi masyarakat, mengentaskan kemiskinan, serta memberdayakan ekonomi desa.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo, Suyud Jatmiko, S.St.Pi., menjelaskan bahwa budidaya tematik bioflok merupakan model perikanan berkelanjutan yang memanfaatkan teknologi kolam bundar dengan sistem bioflok.
“Program ini berorientasi pada pemenuhan kebutuhan protein masyarakat, termasuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat desa,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Menurut Suyud, program tersebut mulai dilaksanakan di Purworejo pada tahun 2025.
Saat itu terdapat empat kelompok penerima manfaat yang tergabung dalam Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yakni KDMP Purwosari, KDMP Dukuhdungus, KDMP Condongsari, dan KDMP Kaliharjo, dengan komoditas utama berupa ikan lele.
Saat ini, sebagian kelompok masih menjalani siklus budidaya pertama, sementara sebagian lainnya telah memasuki siklus kedua.
Dari hasil yang diperoleh, rata-rata produksi panen mencapai 2 hingga 4 ton ikan per siklus.
Program budidaya tematik ini mengandalkan teknologi bioflok yang menggunakan kolam terpal berbentuk bundar.
Sistem tersebut dilengkapi aerasi untuk menjaga ketersediaan oksigen di dalam air serta memanfaatkan mikroorganisme yang mengubah limbah organik menjadi gumpalan flok yang dapat dimakan ikan.
Melalui teknologi ini, limbah budidaya tidak terbuang percuma, melainkan menjadi sumber pakan alami yang kaya nutrisi.
Kondisi tersebut membuat penggunaan pakan menjadi lebih efisien sekaligus menjaga kualitas air tetap stabil.
Selain ramah lingkungan, sistem bioflok juga memiliki sejumlah keunggulan lain, seperti kebutuhan lahan yang relatif kecil, penghematan penggunaan air, serta masa pemeliharaan yang lebih singkat dibanding metode konvensional.
Untuk komoditas lele, masa panen umumnya berkisar antara dua hingga empat bulan.
“Di dalam kolam terjadi pembentukan flok-flok yang menjadi sumber makanan tambahan bagi ikan. Dengan demikian, kebutuhan pakan dapat ditekan dan produktivitas tetap tinggi,” jelas Suyud.
Melihat hasil yang cukup menjanjikan, Pemerintah Kabupaten Purworejo kembali mengusulkan pengembangan program pada tahun 2026 ini.
Sebanyak 9 KDMP telah diajukan kepada KKP untuk mendapatkan bantuan Program Budidaya Ikan Tematik Bioflok.
Lokasi yang diusulkan meliputi KDMP Bulus, KDMP Susuk Mendiro Klandaran, KDMP Karangsari, KDMP Sumber Gumawangrejo Pangkalan, KDMP Sangubanyu, KDMP Majir, KDMP Wangunrejo, KDMP Sumberrejo dan KDMP Tlogokotes.
Saat ini usulan tersebut masih dalam proses verifikasi dan validasi secara daring oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pengembangan budidaya ikan bioflok dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pemenuhan gizi keluarga, terutama bagi anak-anak usia sekolah, keberadaan sentra-sentra budidaya ikan di desa diharapkan mampu menjadi pemasok kebutuhan lokal secara berkelanjutan.
Suyud berharap produksi ikan dari kelompok-kelompok penerima program dapat terus meningkat sehingga manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.
“Harapan kami, ikan yang dihasilkan dari program ini dapat menopang kebutuhan protein masyarakat lokal, meningkatkan kesejahteraan pembudidaya, dan mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis yang sedang digalakkan pemerintah,” pungkasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







