LOANO, purworejo24.com — Pengembangan pariwisata Kabupaten Purworejo tidak cukup dilakukan dengan mengandalkan satu destinasi atau berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas daerah, penguatan desa wisata, pengembangan pengalaman wisata (experience) hingga penyelenggaraan berbagai event dinilai menjadi kunci untuk memperkuat daya tarik wisata Purworejo.
Hal tersebut mengemuka dalam sarasehan antara Pewarta Kabupaten Purworejo dengan Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi di sela Musyawarah Anggota Pewarta Kabupaten Purworejo di De’Loano Glamping and Cafe, kawasan Borobudur Highland, Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Jumat (18/9/2026) malam.
Sarasehan tersebut dihadiri Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Dinkominfostasandi) Purworejo, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Purworejo Bangun Erlangga Ibrahim, Plt Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) Yusuf Hartanto, Camat Loano, serta sejumlah pejabat terkait.
Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi mengatakan, pengembangan pariwisata harus melihat arah pembangunan wisata regional maupun nasional. Menurutnya, Purworejo memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda dengan daerah tetangga sehingga tidak harus memaksakan diri bersaing dengan keunggulan yang dimiliki kabupaten lain.
“Jangan sampai arah pembangunan kita justru tidak sejalan dengan arah pembangunan pariwisata yang sifatnya regional,” kata Dion.
Ia mencontohkan, Kabupaten Kebumen memiliki kawasan geopark, sementara Magelang mempunyai daya tarik pegunungan seperti Sumbing dan Merbabu. Purworejo, kata dia, memiliki kekuatan lain yang dapat dikembangkan, salah satunya kawasan perbukitan Menoreh di wilayah timur dan utara.
Karena itu, pengembangan destinasi wisata Menoreh perlu dilakukan sebagai sebuah ekosistem yang terhubung dengan wilayah sekitar.
“Ketika bicara pariwisata, maka bicara ekosistemnya. Tidak bisa ego sektoral Purworejo sendiri, Kulon Progo sendiri, Magelang sendiri,” ujarnya.
Menurut Dion, posisi sejumlah destinasi Purworejo memang beririsan langsung dengan daerah tetangga. Kawasan Kaligesing memiliki keterkaitan dengan Kulon Progo, sedangkan kawasan Loano dan Borobudur Highland memiliki konektivitas dengan wilayah DIY maupun Magelang.
“Sehingga ketika bicara paket wisata, tentu kita tidak bisa menonjolkan Purworejo saja. Harus ada arah pembangunan bersama,” katanya.
Di tengah keterbatasan fiskal daerah, Dion menilai strategi pengembangan pariwisata juga harus semakin kreatif. Salah satunya dengan memperbanyak event yang mampu mendatangkan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Namun, penyelenggaraan event tidak harus selalu bergantung pada APBD. Pemerintah daerah, menurutnya, perlu membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak selama kerja sama tersebut sesuai ketentuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kalau kita setiap event hanya bergantung dengan APBD, berat kondisi keuangan kita. Maka ini dibutuhkan kreativitas, menggandeng yang bisa digandeng,” jelasnya.
Dion menekankan, ukuran keberhasilan event tidak semata-mata pada kemeriahannya, tetapi juga dampak ekonomi yang ditimbulkan.
“Kalau skalanya besar, UMKM-nya jalan, masyarakat yang jualan juga laku, wisatanya juga terpromosikan. Jadi hari ini kalau menurut saya harus sekreatif mungkin,” katanya.
Ia menambahkan, prinsip utama dalam membangun kerja sama adalah kepatuhan terhadap aturan dan adanya manfaat bagi daerah maupun masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinporapar Purworejo Bangun Erlangga Ibrahim mengatakan, Purworejo memiliki potensi wisata yang besar. Saat ini terdapat 54 desa wisata yang telah tercatat dan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata daerah.
Menurut Bangun, tantangan saat ini bukan semata-mata menemukan destinasi baru, melainkan mendorong kembali desa-desa wisata agar percaya diri mengembangkan dan menampilkan potensi yang dimiliki.
“Kalau kita bicara tentang potensi, luar biasa sebenarnya. Kami punya 54 desa wisata,” katanya.
Ia menyebut, pascapandemi Covid-19 terjadi perubahan tren wisata. Jika sebelumnya banyak destinasi mengandalkan spot selfie, wisatawan kini semakin mencari pengalaman yang lebih spesifik dan berkesan.
Karena itu, setiap destinasi perlu mengidentifikasi pengalaman yang menjadi kekuatannya.
“Tren pariwisata sekarang sudah berbeda, sudah ke experience. Jadi yang perlu didorong adalah identifikasi mengenai daya tarik apa yang bisa dilakukan di sana,” ujarnya.
Bangun mencontohkan, Curug Muncar dapat dikembangkan dengan konsep wisata berbasis pengalaman alam, sementara kawasan Seplawan memiliki peluang dikembangkan dengan pengalaman menikmati suasana pagi dan sunrise.
“Di Curug Muncar belum tentu semua segmentasi masyarakat masuk. Tapi mungkin di sana cocok menjadi wellness tourism. Di Seplawan mungkin ngopi paginya cocok, menikmati suasana sunrise,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar masyarakat tidak hanya mengenal nama sebuah destinasi, tetapi juga mengetahui aktivitas dan pengalaman yang dapat dilakukan ketika berkunjung.
Pengembangan kawasan Borobudur Highland juga menjadi bagian penting dalam pembicaraan tersebut.
Plt Direktur Utama BPOB Yusuf Hartanto mengatakan, pembangunan kawasan yang berada di Perbukitan Menoreh tersebut terus berproses. Sejumlah aspek, mulai dari penataan lahan, infrastruktur dasar hingga pengembangan atraksi, terus diupayakan.
Salah satu perhatian utama adalah akses menuju kawasan.
Yusuf mengatakan, BPOB terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendorong peningkatan infrastruktur jalan, termasuk menjajaki sejumlah skema pembiayaan dan kerja sama lintas pemerintah.
“Kami terus berprogres, terus membangun,” katanya.
Selain infrastruktur, BPOB juga menyiapkan sejumlah atraksi baru. Di antaranya rencana pengembangan skybridge, aviary, taman bermain anak, serta jalur trekking yang dikembangkan dengan konsep Healing Forest.
Konsep Healing Forest tersebut, kata Yusuf, diarahkan pada aktivitas di alam yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk menikmati ketenangan, kesejukan dan suasana hutan.
“Yang aktivitasnya di kota itu berat, terus dia perlu keheningan dan kesejukan, itu pakai ini,” ujarnya.
BPOB juga tengah menyiapkan pengembangan fasilitas pendukung serta percontohan vila. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik sebelum investasi swasta masuk ke kawasan.
“Kalau kita mengandalkan investor terus, investor itu pertanyaannya, jalannya belum ada, listrik belum ada, air belum ada. Kalau investasi Rp50 miliar, break even point-nya tahun berapa? Maka sebelum investor masuk, kita menjadi investor diri kita sendiri,” kata Yusuf.
Ia juga berharap Purworejo semakin terintegrasi dalam pengembangan kawasan pariwisata Borobudur-Yogyakarta sehingga konektivitas antardestinasi di kawasan Menoreh dapat semakin kuat.
Dalam forum tersebut, Dion juga menyoroti pentingnya peran media dalam membangun ekosistem pariwisata.
Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial, media massa tetap memiliki peran penting sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya masyarakat.
Media, kata Dion, tidak hanya bertugas mempromosikan destinasi, tetapi juga memberikan informasi secara objektif dan berimbang.
“Ketika ada berita yang salah, media harus menjadi pengkoreksi. Ketika arus informasi yang beredar tidak betul, media juga harus berani memberikan informasi yang lebih valid kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap hubungan pemerintah daerah dan media terus dibangun melalui komunikasi serta koordinasi yang terbuka.
Kepala Dinporapar Bangun juga menilai media merupakan bagian penting dari strategi promosi pariwisata.
Menurutnya, pemberitaan yang objektif dapat membantu masyarakat mengenali karakter masing-masing destinasi sekaligus memperluas jangkauan promosi tanpa harus selalu mengandalkan kegiatan promosi berbiaya besar.
“Teman-teman media bisa mendorong identitas pariwisata kita di Kabupaten Purworejo semakin dikenal oleh masyarakat luas,” katanya.
Sarasehan tersebut digelar bersamaan dengan Musyawarah Anggota Pewarta Kabupaten Purworejo yang berlangsung di De’Loano Glamping and Cafe.
Ketua Panitia, Eko Sutopo, mengatakan musyawarah memiliki arti penting bagi keberlangsungan organisasi. Dua agenda utama yang dibahas yakni laporan pertanggungjawaban dan pemilihan ketua.
Suasana musyawarah tahun ini berlangsung di tengah suasana alam kawasan Menoreh yang sejuk.
“Biasanya kita melaksanakan musyawarah dengan suasana yang cukup panas dan gerah, tapi malam ini kita melaksanakan musyawarah Pewarta dengan suasana yang sangat dingin karena dilaksanakan di De’Loano Glamping,” ujar Sutopo.
Ia menyampaikan terima kasih kepada BPOB dan Pemerintah Kabupaten Purworejo yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada para pewarta untuk mengenal lebih dekat potensi wisata Borobudur Highland.
Musyawarah akhirnya menetapkan Danil Raja Here kembali sebagai Ketua Pewarta Kabupaten Purworejo periode 2026-2030 secara aklamasi.
Lebih dari sekadar tempat pelaksanaan musyawarah, De’Loano Glamping malam itu menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, pengelola kawasan, pelaku pariwisata dan insan pers untuk membicarakan bagaimana potensi wisata Purworejo dapat dikembangkan secara terintegrasi.
Penguatan desa wisata, pengembangan pengalaman wisata, konektivitas Menoreh, penyelenggaraan event dan kolaborasi lintas daerah menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









