LOANO, purworejo24.com — Glamping De’Loano di kawasan Borobudur Highland terus mengembangkan konsep wisata berbasis alam dengan mengusung wellness tourism. Tak hanya menawarkan pengalaman menginap di tengah hutan, pengelola juga menyiapkan beragam paket aktivitas yang diarahkan pada relaksasi, penyegaran pikiran, hingga aktivitas yang mendorong kedekatan pengunjung dengan alam.
Manajer Operasional Glamping De’Loano, Yohanes Cahyo Nadi, mengatakan Glamping De’Loano beroperasi melalui kerja sama dengan Badan Otorita Borobudur (BOB) untuk mengembangkan kawasan sesuai site plan yang telah disusun.
“Konsep Glamping De’Loano adalah wellness tourism. Kami terus berproses membuat paket-paket wisata, mungkin wellness-nya ke arah meditasi, pembentukan karakter dan sebagainya,” kata Yohanes, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, pengembangan paket wisata tersebut bukan sesuatu yang baru dimulai. Sejak awal berdirinya Glamping De’Loano berbagai aktivitas berbasis alam telah dikembangkan dan terus disesuaikan dengan kebutuhan serta permintaan pasar.
Saat ini, sejumlah paket telah tersedia, antara lain paket healing dan paket menyusuri hutan. Sementara itu, pengelola juga tengah mengonsep aktivitas baru yang diberi gagasan “memeluk pohon”.
Konsep tersebut, kata Yohanes, diarahkan sebagai pengalaman untuk mengajak pengunjung lebih dekat dengan alam.
Pengunjung nantinya dapat melakukan aktivitas sederhana dengan bersentuhan langsung dengan pohon sebagai bagian dari pengalaman relaksasi.
“Intinya menyatu dengan alam. Ini masih kami konsepkan dan belum kami publish sebagai paket resmi,” jelasnya.
Yohanes menegaskan, gagasan tersebut masih dalam tahap pengembangan. Pengelola bahkan tengah mempertimbangkan bagaimana pengalaman itu dapat dikaji lebih lanjut, termasuk kemungkinan adanya pembuktian secara medis terkait dampak yang dirasakan peserta.
Glamping De’Loano tidak hanya mengandalkan aktivitas wisata, tetapi juga menawarkan pengalaman menginap yang menyatu dengan lingkungan alam.
Saat ini terdapat 12 unit glamping yang terdiri atas lima Deluxe, lima Superior, dan dua Deluxe Suite.
Untuk tipe Deluxe, tarif yang ditawarkan sekitar Rp800 ribu dengan kapasitas hingga empat orang. Sementara Superior Glamping dibanderol sekitar Rp700 ribu dengan kapasitas empat orang. Adapun Deluxe Suite memiliki tarif sekitar Rp800 ribu dengan kapasitas dua orang.
Paket menginap tersebut telah mencakup sarapan sesuai kapasitas kamar. Sejumlah tenda juga dapat ditambah extra bed sesuai kebutuhan.
“Kami berharap ketika membuka tenda atau jendela, pengunjung langsung melihat alam. Cuaca, suhu dan suasananya sangat mendukung untuk membuat pikiran lebih fresh,” ujarnya.
Menurut Yohanes, pengalaman di Glamping De’Loano tidak hanya dapat dinikmati pada siang hari. Suasana malam menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena pengunjung dapat menikmati langit malam dan pemandangan bintang dari kawasan glamping.
Karena itu, pihaknya mendorong wisatawan untuk tidak sekadar datang sebentar, tetapi menginap agar dapat merasakan suasana kawasan secara utuh sejak pagi, siang, sore hingga malam.
Pengembangan Glamping De’Loano juga menyasar pasar korporasi. Selain glamping, kawasan tersebut memiliki dua aula yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan.
Salah satu aula memiliki kapasitas sekitar 60 hingga 70 orang untuk kegiatan rapat. Sementara aula lainnya berada di bagian atas dan disiapkan untuk aktivitas seperti yoga.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi bagian dari rencana paket wellness yang mencakup yoga, meditasi hingga terapi.
“Pasar kami kebanyakan memang dari corporate. Mereka mungkin lelah rapat secara resmi di kantor. Di sini mereka bisa rapat sambil menikmati suasana alam,” kata Yohanes.
Ia menyebut pengalaman rapat di tengah suasana alam juga mendapat respons positif dari sejumlah tamu.
Menurutnya, beberapa tamu menyampaikan bahwa suasana berbeda di kawasan hutan dapat memberikan ruang untuk munculnya gagasan-gagasan baru.
Kawasan yang telah dikembangkan Glamping De’Loano sendiri memiliki luas sekitar 3,5 hektare.
Di tengah pengembangan wisata, persoalan aksesibilitas menuju kawasan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi. Namun, pengelola berupaya menyiasatinya melalui kerja sama dengan masyarakat dan desa wisata sekitar.
Salah satunya dengan memanfaatkan kendaraan untang-anting, kendaraan lokal yang dapat mengangkut wisatawan dari area tertentu menuju kawasan atas.
Selain itu, masyarakat sekitar juga menyediakan paket Jeep dan wahana gokart yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata pengunjung.
“Jadi salah satu kendala aksesibilitas kami siasati dengan bekerja sama dengan masyarakat sekitar. Ada untang-anting, paket Jeep, kemudian juga ada gokart dari masyarakat,” jelas Yohanes.
Pola tersebut sekaligus membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi pariwisata.
Ke depan, Glamping De’Loano berharap jumlah pengunjung terus meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pengelola juga melihat periode libur akhir tahun hingga Tahun Baru sebagai salah satu momentum yang menarik bagi wisatawan.
Meski demikian, Yohanes mengatakan Glamping De’Loano dapat dikunjungi kapan saja karena setiap waktu menawarkan suasana yang berbeda.
“Kalau rekomendasi bulan kami tidak ada. Semuanya monggo, silakan kapan pun. Suasananya akan berbeda,” pungkasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









