PURWOREJO, purworejo24.com – Penantian panjang selama 26 tahun akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah Kabupaten Purworejo resmi menerima Sertifikat Eliminasi Malaria dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai pengakuan atas keberhasilan daerah tersebut menghentikan penularan malaria secara lokal.
Penghargaan bergengsi itu diserahkan langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono, pada puncak peringatan Hari Malaria Sedunia 2026 di Gedung Prof. dr. Sujudi, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Sertifikat diterima langsung oleh Bupati Purworejo Yuli Hastuti, SH, bersama delapan kepala daerah lainnya, yakni Gubernur Sumatera Selatan, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Bupati Langkat, Bupati Kepulauan Mentawai, Bupati Timor Tengah Utara, Bupati Sumba Tengah, Bupati Halmahera Utara, dan Bupati Bintan.
Dalam kesempatan tersebut, para penerima penghargaan juga menandatangani Komitmen Bersama Pemeliharaan Daerah Eliminasi Malaria, sebagai bentuk keseriusan menjaga wilayah masing-masing agar tetap terbebas dari penularan malaria di masa mendatang.
Dalam sambutannya, Wamenkes dr. Dante menegaskan bahwa malaria masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat, baik di Indonesia maupun dunia. Berdasarkan data tahun 2025, Indonesia mencatat sekitar 700 ribu kasus malaria dengan 120 kematian.
“Artinya, setiap tiga hari ada satu kematian akibat malaria. Ini adalah permasalahan serius yang tidak bisa dianggap enteng karena malaria masih menyebabkan angka kematian yang tinggi,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mendukung Peta Jalan Eliminasi Malaria 2025–2045, dengan target Indonesia bebas dari penularan malaria lokal pada tahun 2030.
Wamenkes juga memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang berhasil mempertahankan komitmen dalam pengendalian malaria hingga memperoleh Sertifikat Eliminasi Malaria.
Sementara itu, Bupati Purworejo Yuli Hastuti menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan kebanggaan sekaligus amanah bagi seluruh masyarakat Purworejo untuk terus menjaga daerah tetap bebas dari malaria.
“Keberhasilan ini tidak diraih dalam waktu singkat. Perjuangan kami berlangsung selama kurang lebih 26 tahun dengan berbagai tantangan yang harus dilalui,” ungkapnya.
Menurut Bupati, capaian tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga masyarakat yang secara konsisten mendukung upaya pencegahan dan pengendalian malaria.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Purworejo akan terus memperkuat berbagai strategi, mulai dari inovasi layanan kesehatan, surveilans, deteksi dini, hingga pemberdayaan masyarakat agar status eliminasi malaria dapat dipertahankan.
“Sertifikat ini bukan akhir dari perjuangan. Kami akan terus meningkatkan kewaspadaan dan respons cepat terhadap setiap potensi kasus agar Purworejo tetap bebas dari malaria,” tegasnya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Purworejo, dr. Budi Susanti, M.Sc., mengungkapkan bahwa sebelum penghargaan ini diraih, Purworejo menjadi satu-satunya kabupaten/kota di wilayah Jawa dan Bali yang belum memperoleh Sertifikat Eliminasi Malaria.
Ia menjelaskan, sebenarnya Purworejo telah siap menjalani penilaian pada tahun 2021. Namun, muncul kembali kasus malaria indigenous atau penularan setempat di kawasan Wadas sehingga proses penilaian harus ditunda.
“Sudah berusaha selama 26 tahun, baru tercapai tahun ini. Tahun 2021 sebenarnya sudah siap dinilai, tetapi muncul kembali kasus malaria indigenous di Wadas sehingga penilaiannya harus mundur,” jelasnya.
Menurut dr. Budi, salah satu syarat utama memperoleh Sertifikat Eliminasi Malaria adalah tidak ditemukannya kasus malaria indigenous selama tiga tahun berturut-turut. Setelah berbagai upaya pengendalian dilakukan, Purworejo dinyatakan bebas dari penularan malaria lokal sejak Maret 2023.
“Karena sejak Maret 2023 tidak ada lagi penularan setempat, maka pada Maret 2026 kami mengajukan penilaian eliminasi malaria, dan alhamdulillah tahun ini berhasil memperoleh sertifikat,” ujarnya.
Keberhasilan Purworejo menjadi daerah eliminasi malaria tidak hanya menjadi prestasi di bidang kesehatan, tetapi juga menjadi bukti bahwa pengendalian penyakit menular membutuhkan komitmen jangka panjang, penguatan sistem surveilans, pelayanan kesehatan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat. Dengan status tersebut, tantangan berikutnya adalah mempertahankan kondisi bebas malaria melalui kewaspadaan yang berkelanjutan agar penularan tidak kembali terjadi.
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









