KEBUMEN, Purworejo24.com – Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama Kebumen atau UMNU Kebumen terus menunjukkan inovasi dalam pengembangan sarana pendidikan. Kampus yang berada di Jalan Kutoarjo, Kebumen ini mulai membangun kampus berbasis modular yang digadang-gadang menjadi konsep kampus masa depan dengan sistem pembangunan cepat, praktis, hemat biaya, dan fleksibel.
Pembangunan tersebut didemonstrasikan langsung oleh mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UMNU Kebumen bersama tim instruktur dan pihak perusahaan penyedia rumah modular. Puluhan komponen bangunan modular tampak diturunkan dari kendaraan pengangkut dan dirakit langsung di area kampus.
Rektor UMNU Kebumen, Dr. H. Imam Satibi menjelaskan, pembangunan kampus modular dipilih sebagai solusi efektif di tengah kebutuhan pengembangan layanan akademik yang cepat dan efisien.
“UMNU Kebumen hari ini ingin menunjukkan dan mendemonstrasikan bagaimana mahasiswa Teknik Sipil kami merakit kampus modular. Kami ingin membangun kampus yang efektif, cepat, simpel, namun tetap nyaman dan berkualitas,” ujar Imam Satibi disela sela pamasangan modular, di halaman kampus, Selasa 19 Mei 2026.
Menurutnya, bangunan modular tersebut dipesan langsung dari China dengan konsep modern yang kini mulai banyak diterapkan di berbagai wilayah Indonesia, terutama untuk kebutuhan proyek maupun fasilitas pendidikan dan perkantoran.
Ia menjelaskan, proyek pembangunan ini mencakup sekitar 20 ruang atau room berukuran 3×6 meter yang nantinya akan difungsikan sebagai sentral akademik dan pusat pelayanan kampus.
“Ke depan nanti layanan akademik akan dipusatkan di sini. Ruang dosen, pengembangan riset, hingga office center akan ditempatkan di bangunan modular ini agar layanan menjadi lebih nyaman dan efektif,” jelasnya.
Imam Satibi mengungkapkan, pembangunan model modular dinilai jauh lebih efisien dibanding bangunan konvensional berbahan bata dan semen. Dari sisi biaya, efisiensi pembangunan disebut bisa mencapai sekitar 30 persen, sedangkan dari sisi waktu pengerjaan bahkan dapat menghemat hingga 80 persen.
“Harga standar satu unit ukuran 3×6 itu sekitar Rp35 juta dan itu belum termasuk AC. Kalau pembelian banyak seperti ini tentu lebih efisien karena dirakit langsung di lokasi. Dari sisi pembiayaan bisa hemat sekitar 30 persen, sedangkan dari sisi waktu sangat signifikan, bisa lebih cepat hingga 80 persen,” ungkapnya.
Ia menilai konsep modular sangat cocok diterapkan di lingkungan perguruan tinggi yang membutuhkan percepatan pembangunan fasilitas tanpa harus mengeluarkan anggaran besar untuk gedung permanen bertingkat.
“Menurut saya UMNU Kebumen ke depan tidak perlu bermadzhab pada gedung yang mewah dan mahal, sementara layanan akademik dan sumber daya belum maksimal. Yang paling penting adalah kualitas akademik, layanan, teknologi informasi, dan kenyamanan mahasiswa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Imam Satibi mengatakan bahwa UMNU Kebumen saat ini justru lebih fokus berinvestasi di bidang teknologi pendidikan dan digitalisasi akademik. Kampus tersebut telah bekerja sama dengan perusahaan aplikasi nasional Sevima untuk mendukung layanan akademik berbasis digital dan Artificial Intelligence (AI).
Selain itu, UMNU Kebumen juga telah mengembangkan sistem pembelajaran online, virtual class, hingga layanan Zoom Meeting untuk mendukung program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang ditunjuk langsung oleh pemerintah pusat.
“Kami sekarang menyelenggarakan program RPL yang pesertanya berasal dari berbagai daerah bahkan lintas pulau. Maka aksesibilitas dan layanan daring menjadi kebutuhan utama. Karena itu kampus masa depan harus lebih praktis, efisien, dan berbasis teknologi,” katanya.
Ia menambahkan, bangunan modular memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari kedap suara, tahan panas, tahan api, hingga dapat dipindahkan sewaktu-waktu apabila lokasi penggunaan berubah.
“Kalau suatu saat lahannya digunakan untuk kebutuhan lain, bangunan ini bisa dipindahkan lagi ke tempat berbeda. Interiornya juga fleksibel, bisa didesain sesuai kebutuhan pengguna,” imbuhnya.
Untuk total anggaran pembangunan modular tersebut, UMNU Kebumen mengalokasikan dana lebih dari Rp700 juta untuk pembangunan sekitar 20 ruang modular.
“Total pembiayaan sekitar Rp700 juta lebih. Dengan 20 room ini diharapkan nanti menjadi pusat layanan akademik UMNU Kebumen,” jelas Imam Satibi.
Sementara itu, instruktur rumah modular dari PT Pinggan Struktur Baja Jepara, Tafiq Effendi, menjelaskan pembangunan modular jauh lebih cepat dibanding metode konstruksi konvensional.
“Kalau sistem modular ini satu unit ukuran 3×6 bisa selesai dalam satu hari. Kalau dibanding bangunan bata, efisiensi waktunya bisa sampai 70 sampai 80 persen,” jelas Tafiq.
Ia menyebutkan, untuk pengerjaan proyek modular di UMNU Kebumen ditargetkan selesai dalam waktu dua hingga tiga hari. Setelah itu proses perakitan akan diteruskan oleh mahasiswa sebagai bagian dari pembelajaran praktik lapangan.
“Di Kebumen ini pertama kali. Kalau di daerah lain sudah ada di Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Aceh. Biasanya digunakan untuk proyek atau pertambangan,” katanya.
Tafiq juga memastikan bahwa material modular yang digunakan aman dan telah dirancang tahan terhadap panas maupun risiko kebakaran.
Konsep kampus modular yang dikembangkan UMNU Kebumen ini pun menjadi daya tarik tersendiri. Selain dinilai modern dan efisien, langkah tersebut juga dianggap sebagai bentuk inovasi kampus dalam menjawab tantangan pendidikan era digital yang membutuhkan kecepatan, fleksibilitas, dan efisiensi layanan.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







