Oleh: Azis Subekti (Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra)
Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, serta meningkatnya dinamika politik dunia, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas nasional dan demokrasi.
Dua hal tersebut kerap dipertentangkan, padahal sejatinya saling membutuhkan untuk menjaga keberlangsungan sebuah bangsa.
Demokrasi yang sehat memang menuntut keterbukaan, kebebasan berpendapat, dan ruang kritik yang luas. Namun demokrasi juga memerlukan fondasi negara yang kuat agar tidak berubah menjadi konflik berkepanjangan, polarisasi sosial, ataupun pertarungan kepentingan yang melemahkan persatuan nasional.
Dalam konteks inilah stabilitas sering disalahpahami. Tidak sedikit yang menganggap stabilitas identik dengan pembatasan kebebasan. Padahal, tanpa stabilitas, demokrasi justru dapat kehilangan arah dan berubah menjadi kompetisi politik yang melelahkan masyarakat.
Pemikiran Jenderal Besar Abdul Haris Nasution menjadi relevan untuk membaca kondisi tersebut. Nasution menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, budaya, wilayah, dan pengalaman sejarah yang kompleks.
Karena itu, menjaga negara tidak hanya soal mempertahankan wilayah, tetapi juga menjaga kohesi sosial dan persatuan nasional di tengah berbagai tekanan internal maupun eksternal.
Pandangan itu tercermin dalam karya Pokok-Pokok Gerilya, yang bukan sekadar membahas strategi pertahanan, melainkan juga hubungan antara negara, rakyat, dan kesadaran kebangsaan.
Nasution menilai negara yang rapuh akan mudah dipermainkan oleh kepentingan luar, sementara bangsa yang kehilangan disiplin sosial akan sulit menghadapi tekanan global.
Kondisi dunia modern memberikan banyak pelajaran mengenai pentingnya keseimbangan antara demokrasi dan stabilitas.
Sejumlah negara di Timur Tengah mengalami konflik berkepanjangan setelah gagal menjaga integrasi sosial dan legitimasi politik. Libya dan Suriah menjadi contoh bagaimana ketidakstabilan politik dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan dan perpecahan nasional.
Sebaliknya, negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, Norwegia, dan Swedia menunjukkan bahwa demokrasi dapat tumbuh sehat ketika ditopang institusi yang kuat, hukum yang dipercaya publik, birokrasi yang profesional, serta stabilitas sosial yang terjaga.
Demokrasi pada akhirnya bukan hanya soal kebebasan berbicara, tetapi juga kemampuan negara menghadirkan keadilan sosial, kepastian hukum, dan rasa aman bagi masyarakat.
Indonesia sendiri menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sebagai negara maritim besar di kawasan strategis dunia, Indonesia akan terus bersentuhan dengan persaingan geopolitik global, perang dagang, perebutan sumber daya, hingga ancaman disinformasi digital.
Karena itu, kepemimpinan nasional dituntut mampu menjaga persatuan tanpa mematikan kritik. Persatuan tidak berarti menyeragamkan pandangan politik, melainkan menjaga agar perbedaan tidak berkembang menjadi permusuhan sosial yang merusak energi bangsa.
Di sisi lain, stabilitas yang sehat harus berjalan beriringan dengan perluasan ruang demokrasi. Kebebasan pers harus tetap dijaga, kampus harus mempertahankan independensi akademik, masyarakat harus bebas menyampaikan kritik, dan penegakan hukum harus dilakukan secara adil tanpa tebang pilih.
Sejarah menunjukkan bahwa negara yang terlalu menutup diri terhadap kritik pada akhirnya justru kehilangan kemampuan memahami kebutuhan rakyatnya sendiri.
Pemikir politik Alexis de Tocqueville pernah menekankan pentingnya kesadaran sipil dan institusi yang sehat dalam menjaga demokrasi. Sementara Francis Fukuyama menyoroti pentingnya kapasitas negara dan kepercayaan publik sebagai fondasi demokrasi modern.
Indonesia membutuhkan keduanya sekaligus: negara yang kuat dan demokrasi yang matang.
Tantangan terbesar bangsa ini ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan bahwa stabilitas nasional tetap terpelihara tanpa mengorbankan kebebasan dan demokrasi.
Indonesia maju adalah Indonesia yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan, memperluas demokrasi secara sehat, dan tetap kokoh menghadapi ketidakpastian global.
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







