LOANO, purworejo24.com – Suasana berbeda mewarnai kegiatan Haflah Akhirussanah dan Pelepasan Siswa Kelas XII Angkatan V MA Plus Riyadlul Muta’allimin Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar di Aula Area Pasar Menoreh, Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Sabtu (23/5/2026).
Madrasah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Riyadlul Muta’allimin Mambang, Sehati, Desa Sedayu itu menghadirkan konsep pelepasan yang sarat nuansa budaya Jawa.
Sepanjang acara, prosesi pelepasan siswa diiringi alunan musik karawitan secara langsung, dipadukan dengan penampilan seni tari dan Marom Voice dari ekstrakurikuler madrasah.
Suasana haru juga terasa ketika para siswa menjalani prosesi sungkem kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas perjuangan serta doa selama menempuh pendidikan.
Kegiatan tersebut dihadiri Camat Loano Vivin Suryandari Feriyani, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Purworejo, unsur Forkompincam Loano, kepala desa, alim ulama, wali murid, hingga sejumlah perwakilan sekolah di wilayah Loano.
Kepala MA Riyadlul Muta’allimin, Efrida Nofiyanto, menyampaikan bahwa tahun ini sebanyak 61 siswa dinyatakan lulus 100 persen.
Dari jumlah tersebut, 16 siswa akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sebagian bekerja, dan dua siswa memilih melanjutkan mondok.
“Alhamdulillah seluruh siswa lulus 100 persen. Yang kuliah akan kami salurkan ke program kuliah gratis, sedangkan yang bekerja akan kami arahkan ke sejumlah perusahaan yang sudah bekerja sama dengan kami,” ujarnya.
Menurut Efrida, MA Riyadlul Muta’allimin hadir dengan konsep pendidikan terpadu yang mengombinasikan pendidikan madrasah, program Tahfidzul Qur’an, perpajakan, hingga pariwisata.
Konsep tersebut dirancang untuk mencetak Generasi PrIMA, yakni generasi yang Profesional, Inovatif, Mandiri, dan Berakhlakul Karimah.
Selain itu, madrasah juga menawarkan biaya pendidikan yang terjangkau agar dapat diakses masyarakat luas. Pihak sekolah tidak membebankan uang gedung dan hanya menetapkan SPP sebesar Rp100 ribu per bulan.
“Seragam juga kami berikan dan pembayarannya dapat dicicil selama satu tahun. Kami ingin pendidikan tetap bisa dijangkau masyarakat,” jelasnya.
Dalam bidang unggulan, MA Riyadlul Muta’allimin menitikberatkan pada program Tahfidzul Qur’an. Tahun ini, dua siswa berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an.
Madrasah juga membiasakan kegiatan religius harian seperti salat dhuha berjamaah dilanjutkan mujahadah, salat dhuhur berjamaah dan tadarus Al-Qur’an, hingga salat ashar berjamaah sebagai penutup kegiatan belajar mengajar.
Tak hanya pendidikan agama, madrasah tersebut juga memiliki program unggulan perpajakan yang disebut masih jarang dimiliki madrasah lain di Indonesia.
Program itu menjadi bekal keterampilan bagi siswa agar siap bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan.
“Kami ingin lulusan tidak hanya kuat secara agama, tetapi juga memiliki keterampilan dan kemandirian. Ada alumni angkatan pertama yang kini bekerja di Rumah Sakit Islam Purworejo, dan beberapa siswa lain sedang kuliah gratis di Yogyakarta tanpa membebani orang tua,” katanya.
Prestasi siswa MA Riyadlul Muta’allimin juga terus meningkat. Tahun ini mereka berhasil meraih juara MTQ tingkat Kecamatan Loano, juara 1 kategori konten kreatif dan juara 3 video lingkungan dalam Olimpiade Hayati di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta memperoleh beasiswa tahfidz dari Yayasan Darussalam.
Saat ini, MA Riyadlul Muta’allimin juga telah membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2026/2027 yang dibuka mulai 1 Januari hingga 11 Juli 2026.
Sementara itu, Camat Loano Vivin Suryandari Feriyani mengapresiasi konsep pelepasan siswa yang memadukan pendidikan agama dan pelestarian budaya lokal melalui pertunjukan karawitan.
“Ini sesuatu yang spesial. Biasanya pelepasan diisi hiburan modern, tetapi di sini sepanjang acara diiringi musik karawitan live. Kolaborasi pendidikan agama dan budaya Jawa berjalan sangat baik,” tuturnya.
Ia juga berpesan kepada para lulusan agar terus melanjutkan pendidikan dan menghindari pernikahan dini.
“Saya sangat berharap anak-anak tetap melanjutkan pendidikan. Pendidikan akan menentukan masa depan dan keberhasilan mereka. Jangan sampai berhenti setelah SMA/SMK/MA apalagi menikah dini,” tegasnya.
Menurutnya, pernikahan dini berpotensi memicu berbagai persoalan sosial karena pasangan belum memiliki kesiapan ekonomi maupun mental.
“Generasi emas harus dimulai dari pendidikan yang baik. Orang tua harus mendukung anak-anak meraih cita-cita setinggi mungkin,” tandasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







