PURWOREJO, purworejo24.com – Paguyuban Kepala Desa se-Kabupaten Purworejo (Polosoro) menggelar Umbul Dungo (doa bersama) dan pagelaran wayang kulit di Alun-alun Purworejo, pada Minggu malam (15/2/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Purworejo ke-195, sekaligus peringatan Hari Desa serta persiapan menyongsong bulan suci Ramadhan.
Kegiatan tersebut dihadiri peserta dari 16 kecamatan dengan jumlah sekitar 400 kepala desa, perangkat desa, serta anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Hadir pula Bupati Purworejo Yuli Hastuti, Wakil Bupati, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta undangan lainnya.
Ketua Panitia, Fauzi, S.Sos., yang juga Kepala Desa Suren, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar spiritual sekaligus refleksi bersama para penyelenggara pemerintahan desa.
Ia menuturkan, doa bersama dan ruwatan digelar sebagai bentuk keprihatinan atas wafatnya belasan kepala desa di Purworejo dalam beberapa waktu terakhir, sebagian di antaranya masih berusia muda.
“Melalui Umbul Dungo dan ruwatan ini, kami berdoa agar para kepala desa yang telah wafat mendapat ampunan, sementara yang masih mengemban amanah diberi kesehatan, keselamatan, dan kekuatan untuk memimpin desa masing-masing dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Ruwatan dipimpin oleh dalang Ki Sugati Susilo dari Saegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan lakon Murwakala.
Ruwatan dilaksanakan dalam bentuk papar tunggal, yang secara filosofis dimaknai sebagai upaya menghilangkan sengkala atau energi negatif, khususnya bagi para pemimpin yang memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat.
“Wayangan ini mengisahkan seorang dewa yang menghilangkan kala atau mara bahaya. Harapannya, para kepala desa dapat memimpin dengan amanah, berintegritas, serta mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik,” tambah Fauzi.
Kegiatan ini mengusung tema “Menguatkan Spirit Keimanan dalam Mewujudkan Pemerintahan Desa yang Amanah, Berintegritas, dan Berkeadilan”.
Selain doa bersama, pergelaran wayang kulit juga menjadi sarana pelestarian budaya adiluhung Jawa yang sarat nilai moral dan kepemimpinan.
Ketua Umum Polosoro Purworejo, Suwarto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral organisasi dalam membangun dimensi spiritual aparatur desa.
“Pemerintahan desa yang kuat tidak hanya ditopang oleh regulasi dan anggaran, tetapi juga oleh integritas dan kekuatan batin para pemimpinnya,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Purworejo Yuli Hastuti menyampaikan apresiasi atas kekompakan dan inisiatif Polosoro dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Menurutnya, Umbul Dungo memiliki makna mendalam sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan panjang Kabupaten Purworejo.
“Hari jadi Purworejo bukan sekadar peringatan angka, tetapi momentum untuk introspeksi, mempererat persaudaraan, serta memperkuat tekad dan soliditas dalam membangun Purworejo yang lebih baik,” ujar Bupati.
Melalui kegiatan ini, Polosoro Purworejo berharap terbangun semangat kebersamaan, silaturahmi, dan komitmen bersama dalam mewujudkan pemerintahan desa yang amanah serta berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







