Seni Budaya

Menjaga Jejak Leluhur di Sumur Beji Candi, Tradisi Bersih Desa Menyambut Ramadhan

51
×

Menjaga Jejak Leluhur di Sumur Beji Candi, Tradisi Bersih Desa Menyambut Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Situs Sumur Beji Candi
Situs Sumur Beji Candi

BANYUURIP, purworejo24.com – Di tengah geliat modernitas, masyarakat Dusun Candi, Desa Candingasinan, Kabupaten Purworejo, tetap setia menjaga tradisi leluhur.

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, warga kembali menggelar tradisi tahunan bersih desa dan ritual di Situs Sumur Beji Candi, sebuah warisan budaya yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan.

Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tanggal 27 Rajab dan dilanjutkan dengan rangkaian ritual Nisfu Sya’ban pada malam 15 Ruwah dalam penanggalan Jawa.

Sejak pagi hari, warga tampak bergotong royong membersihkan area sumur yang diyakini memiliki nilai historis dan religius bagi masyarakat setempat.

Juru kunci Situs Beji Candi, Eko Wibowo, menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan amanah leluhur yang telah dijalankan secara turun-temurun.

Ritual diawali dengan bersih-bersih lingkungan sumur, lalu dilanjutkan dengan penyembelihan dua ekor kambing sebagai bagian dari prosesi merti desa.

Ini bukan sekadar tradisi, tetapi wujud rasa syukur dan doa bersama. Leluhur kami mewariskan nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap alam serta Sang Pencipta,” ujar Eko.

Ia menjelaskan, secara historis wilayah Candingasinan merupakan gabungan dari tiga desa, yakni Dusun Candi, Desa Ngemplak, dan Desa Sinan.

Ketiganya kemudian disatukan karena keterbatasan wilayah, dan tradisi merti desa menjadi simbol pemersatu masyarakat hingga kini.

Pelaksanaan merti desa selalu jatuh pada tanggal 27 Rajab, sementara ritual Nisfu Sya’ban dilakukan pada malam 15 Ruwah.

Masyarakat meyakini malam tersebut sebagai momentum spiritual untuk membersihkan diri, lahir dan batin, sebagai persiapan menyambut ibadah puasa Ramadhan.

Air Sumur Beji dipercaya sebagai sarana pensucian diri. Bukan soal mistis, tapi lebih pada sugesti positif dan keyakinan bahwa dengan hati yang bersih dan doa yang tulus kepada Allah SWT, keberkahan akan hadir,” jelasnya.

Legenda tentang Sumur Beji pun masih hidup di tengah masyarakat. Konon, sumur tersebut merupakan peninggalan Eyang Panji Nukerto, seorang leluhur yang dahulu berniat membuat aliran sungai demi kesejahteraan warga.

Namun, upaya itu hanya menyisakan sebuah sumur yang hingga kini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Sebagai penerus juru kunci, kami berharap tradisi ini tetap dijaga. Ini bagian dari nguri-uri budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” imbuh Eko, yang merupakan menantu dari juru kunci sebelumnya, Mbah Parto Sujono.

Sementara itu, tokoh masyarakat Dusun Candi, Aris, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara gotong royong. Tidak ada kepanitiaan resmi, melainkan kerja bersama yang sudah menjadi kebiasaan warga setiap tahun.

Semua kebutuhan disiapkan secara swadaya. Ke depan, kami berharap tradisi ini bisa dikembangkan, misalnya dengan pengenalan adat, penggunaan busana tradisional, atau pagelaran budaya agar lebih tertata,” ungkapnya.

Menurut Aris, antusiasme pengunjung cukup tinggi, terutama pada malam hari. Tak hanya warga sekitar, pengunjung juga datang dari Kecamatan Banyuurip, Kutoarjo, hingga wilayah Purworejo lainnya.

Kehadiran pedagang dari luar daerah pun turut memberi dampak ekonomi bagi warga.

Kami berharap ada perhatian dan pembinaan dari pemerintah, terutama terkait fasilitas dan pengelolaan, agar tradisi ini terus lestari dan memberi manfaat lebih luas,” pungkasnya. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.