PURWOREJO, purworejo24.com – Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian malaria menjelang libur Idul Fitri 1447 H/2026 M sekaligus mempersiapkan target eliminasi malaria pada tahun 2026.
Hal tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Kewaspadaan Dini Malaria yang digelar di Ruang Arahiwang Setda Purworejo, pada Selasa (4/2/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Purworejo, dr. Sudarmi, menegaskan bahwa rapat koordinasi ini menjadi langkah penting untuk memastikan tidak kembali munculnya kasus malaria lokal (indigenous), terutama saat momentum arus mudik dan mobilitas masyarakat meningkat saat Lebaran.
“Target eliminasi malaria kita rencanakan pada April 2026. Sebelum itu, kami tidak ingin terjadi kejadian seperti di Desa Wadas pada tahun 2021. Alhamdulillah, selama tiga tahun berturut-turut hingga Maret ini, Purworejo sudah tidak ditemukan kasus malaria indigenous,” ujar dr. Sudarmi.
Ia menambahkan, upaya kewaspadaan diperkuat dengan melibatkan 153 kepala desa di wilayah reseptif malaria agar meningkatkan pengawasan di wilayah masing-masing, terutama selama libur Lebaran.
Langkah ini diambil agar tidak muncul kasus baru yang dapat menghambat proses eliminasi.
Menurutnya, eliminasi malaria bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan titik awal untuk mempertahankan kondisi bebas malaria secara berkelanjutan.
“Eliminasi itu bukan tujuan akhir, tapi menjadi take off point agar selamanya tidak ada kasus malaria di Purworejo,” tegasnya.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh sembilan camat dari wilayah endemis malaria, yakni Kecamatan Bagelen, Purworejo, Kaligesing, Loano, Bener, Bruno, Kemiri, Pituruh, dan Gebang.
Kesembilan kecamatan tersebut umumnya memiliki wilayah pegunungan atau perbukitan yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk malaria.
Selain itu, hadir pula perwakilan dari 153 desa reseptif serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan oleh Asisten I Sekda Purworejo terkait kewaspadaan dini dalam rangka mencapai eliminasi malaria, serta dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang memaparkan situasi dan perkembangan kasus malaria di tingkat provinsi.
dr. Sudarmi menjelaskan bahwa sebagian besar kasus malaria saat ini berasal dari kasus impor, terutama dari daerah endemis tinggi seperti Papua. Namun, Purworejo menunjukkan tren positif.
“Tahun lalu ada kasus impor, tapi jumlahnya sedikit. Tahun ini sampai sekarang, kasus impor juga masih nol. Jika nanti ada warga yang pulang dari daerah endemis seperti Papua pada Maret mendatang dan terdeteksi malaria, akan langsung kami tangani sebelum yang bersangkutan kembali ke keluarga,” jelasnya.
Ia juga mengimbau para kepala desa agar secara konsisten menyisipkan pesan-pesan kesehatan dalam setiap forum masyarakat, termasuk tentang pencegahan malaria, stunting, TBC, CKG, dan isu kesehatan lainnya.
“Harapan kami, kesehatan di Purworejo bisa menjadi yang terdepan di Jawa Tengah. Masyarakat yang sehat adalah modal utama untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, sekaligus mendukung visi dan misi Bupati Purworejo melalui program Pitulungan, khususnya ‘sehat penduduke, wargane’,” pungkasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







