Kesehatan

Kisah Suratman, Saat Cinta Menjadi Obat, Bertahan Hidup Bersama Buah Hati di Kebumen

54
×

Kisah Suratman, Saat Cinta Menjadi Obat, Bertahan Hidup Bersama Buah Hati di Kebumen

Sebarkan artikel ini
Suratman
Suratman

PURWOREJO, purworejo24.com- Di ruang tunggu Poli Jiwa Puskesmas Pejagoan, Kebumen, langkah Suratman terlihat pelan namun pasti. Usianya sudah 67 tahun, rambutnya memutih, tubuhnya tak lagi setegap dulu.

Namun, setiap kali jadwal kontrol tiba, semangatnya tak pernah surut. Di sampingnya duduk Amir Ma’arif, putra yang selama bertahun-tahun ia dampingi dalam perjalanan panjang menghadapi gangguan kejiwaan.

Bagi Suratman, rutinitas datang ke puskesmas bukan sekadar urusan medis. Ini adalah bagian dari perjuangan bertahan hidup, bertahan menjaga harapan, kesabaran, dan cinta seorang ayah kepada anaknya.

Gangguan kejiwaan yang dialami Amir mulai tampak sejak ia masih duduk di bangku SMK. Suratman tak pernah benar-benar tahu apa pemicunya. Yang ia ingat hanyalah perubahan perlahan namun nyata pada perilaku anaknya.

Amir menjadi mudah marah, sering berbicara sendiri, kerap pergi tanpa tujuan, dan kehilangan pola tidur yang teratur. Aktivitas sehari-hari yang dulu normal berubah total.

Waktu itu kami bingung dan takut. Perilaku Amir berubah sekali,” kata Suratman dengan suara pelan, seolah mengulang kembali masa-masa penuh kecemasan itu Selasa (20/1/2026).

Sebagai orangtua, ia dihadapkan pada dilema besar. Ketidaktahuan, stigma, dan keterbatasan ekonomi bercampur menjadi satu.

Namun rasa takut kehilangan anaknya mendorong Suratman mengambil langkah yang baginya sangat berat, tetapi perlu. Ia memilih berbohong demi kebaikan Amir.
Ia mengatakan kepada Amir bahwa mereka akan pergi bermain ke Magelang. Padahal, tujuan sebenarnya adalah Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang.

Saya bilangnya mau jalan-jalan saja, supaya dia mau ikut. Padahal saya bawa untuk berobat,” kenangnya lirih.

Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan panjang. Amir menjalani perawatan di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang sebanyak dua kali. Setelah itu, proses pemulihan berlanjut di RSPDM Martani selama satu tahun.

Jalan yang ditempuh tak selalu mulus. Ada hari-hari berat, ada kelelahan fisik dan batin, ada rasa putus asa yang diam-diam datang. Namun Suratman memilih bertahan.

Setelah rangkaian perawatan tersebut, Amir melanjutkan pengobatan di Puskesmas Pejagoan. Sudah satu tahun terakhir, kontrol rutin dilakukan sebulan sekali di poli jiwa.

Perlahan, perubahan positif mulai terlihat. Amir menjadi lebih komunikatif, emosinya lebih stabil, dan mulai mampu mengurus dirinya sendiri.

Alhamdulillah sekarang membaik. Walaupun masih harus terus kontrol rutin, tapi sudah lebih komunikatif dan bisa mengurus diri sendiri,” ujar Suratman.

Di balik perkembangan itu, ada peran pelayanan kesehatan yang menurut Suratman sangat membantu. Ia menilai administrasi pelayanan mudah, petugas sigap, dan dokter selalu memberikan penjelasan detail mengenai kondisi Amir.

Ia juga mendapat pesan penting, disiplin minum obat dan memberikan aktivitas ringan yang terarah agar Amir tetap memiliki rutinitas.

Kesabaran dan kedisiplinan, bagi Suratman, bukan sekadar nasihat medis, melainkan prinsip hidup yang harus dijalani hari demi hari.

Hal lain yang sangat ia syukuri adalah kehadiran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kini, seluruh biaya pengobatan Amir ditanggung JKN melalui kepesertaan Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Suratman masih ingat betul masa sebelum terdaftar sebagai peserta JKN, ketika ia harus membayar pengobatan secara mandiri.

Kalau bayar sendiri berat sekali. Obatnya mahal,” katanya jujur.

Beban ekonomi kala itu nyaris membuatnya menyerah. Namun JKN menjadi penopang penting yang membuat perjuangan ini tetap bisa dilanjutkan.

Alhamdulillah sekarang semua ditanggung JKN,” ujarnya

Bagi Suratman, JKN bukan sekadar program, melainkan jaring pengaman hidup. Ia berharap program ini terus berjalan dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang harus menjalani pengobatan rutin jangka panjang.

Dengan prinsip gotong royong, ia percaya JKN adalah wujud kepedulian bersama.

Semoga JKN terus ada untuk membantu orang-orang seperti kami,” pungkasnya.

Di usia senja, Suratman mungkin tak lagi memiliki banyak hal. Namun selama masih bisa berjalan mendampingi Amir, ia akan terus bertahan menjaga asa, menjemput hari-hari yang lebih baik, satu kontrol demi satu kontrol, cinta adalah obat untuk anaknya. (P24-byu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.