Seni Budaya

Festival Tumpeng Telang ke-7, Pasar Inis Rayakan Tujuh Tahun Bertahan Secara Mandiri

51
×

Festival Tumpeng Telang ke-7, Pasar Inis Rayakan Tujuh Tahun Bertahan Secara Mandiri

Sebarkan artikel ini
Saat kegiatan
Saat kegiatan

PURWODADI, purworejo24.com – Di tengah hamparan sawah Desa Brondongrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, denyut Pasar Inis kembali terasa sejak pagi.

Minggu (4/1/2026), pasar rakyat berbasis kuliner dan budaya ini menggelar Festival Tumpeng Telang ke-7, sebagai penanda tujuh tahun perjalanan mereka bertahan dan tumbuh secara mandiri.

Sejak pukul 08.00 WIB, warga dan pengunjung disambut arak-arakan Tumpeng Telang, ikon khas Pasar Inis yang telah melekat sejak awal berdirinya.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Desa, doa bersama, serta rayahan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan keteguhan warga menjaga ruang hidup mereka.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini menempatkan anak-anak Sanggar Paseban Pasar Inis sebagai pemeran utama.

Mereka tampil dalam beragam pertunjukan seni, mulai dari Wayang Uwuh—wayang berbahan material bekas hasil kreativitas anak-anak sanggar—hingga Tari Kelinci, Tari Dolalak, dan Tari Jaran Bolong.

Rangkaian acara ditutup dengan makan tumpeng bersama serta Senam Sehat Pasar Inis.

Pementasan Wayang Uwuh menjadi ruang kolaborasi lintas daerah. Seniman asal Wonosobo, Mulyani, berkolaborasi dengan Anon Suneko, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bersama anak-anak Sanggar Paseban.

Kolaborasi ini mempertemukan seniman nasional dengan potensi lokal yang tumbuh dari pasar rakyat.

Mulyani mengaku terkesan dengan keberlangsungan Pasar Inis yang telah berjalan selama tujuh tahun.

Menurutnya, menjaga konsistensi pasar rakyat bukan perkara mudah.

Ini menunjukkan soliditas para pelaku Pasar Inis. Apalagi kegiatan pasar dikolaborasikan dengan budaya, itu luar biasa dan jarang ditemui,” ujarnya.

Ia menilai pengembangan sanggar perlu terus didorong agar pengetahuan seni dari generasi tua dapat ditransfer secara berkelanjutan kepada anak-anak.

Sementara itu, Anon Suneko menyebut Pasar Inis sebagai ruang budaya yang tumbuh secara alami.

Ia mengaku hampir setiap tahun terlibat dalam kegiatan di pasar tersebut, baik secara pribadi maupun bersama komunitasnya, Omah Gamelan Jogja.

Di sini potensi kuliner, alam, dan kesenian berjalan beriringan. Jaringannya saling menguatkan, antara penari lokal, musisi lokal, dan seniman dari luar,” katanya.

Menurut Anon, Purworejo memiliki daya tarik khas pedesaan yang kini semakin sulit ditemukan di wilayah perkotaan.

Saya merasa seperti pulang ke rumah. Keramahan warganya, suasana sawah, dan kesenian rakyatnya—seperti Dolalak dan Cingpoling—itu kekuatan besar,” tuturnya.

Ia berharap Pasar Inis tetap tumbuh secara organik tanpa harus berubah menjadi festival besar yang bergantung pada subsidi.

“Biarkan tetap menjadi milik rakyat,” tegasnya.

Pemrakarsa Festival Tumpeng Telang, Purnomo, menjelaskan bahwa pemilihan nasi telang sebagai ikon tidak lepas dari sejarah awal Pasar Inis.

Ia menekankan bahwa keteguhan para pedagang menjadi kunci utama keberlangsungan pasar tersebut.

Mereka tetap berjualan meski pengunjung sepi. Pernah hanya ada satu pembeli, tapi pasar tetap buka. Itu yang membuat saya kagum,” ungkapnya.

Purnomo menambahkan, keterlibatan anak-anak dalam festival tahun ini menjadi pembeda utama.

Menurutnya, pengenalan budaya kepada anak-anak harus dilakukan secara bertahap dan menyenangkan.

Tadi terlihat sendiri, mereka ceria sejak arak-arakan sampai pentas. Itu luar biasa,” ucapnya.

Ia juga menyinggung kondisi Sanggar Paseban yang sempat roboh akibat angin kencang. Meski pembangunan ulang sementara ditunda menunggu kondisi cuaca lebih stabil, kegiatan latihan tetap berjalan dengan memanfaatkan area lain di sekitar pasar.

Latihan tetap jalan setiap Minggu. Anak-anak tidak berhenti belajar,” jelasnya.

Menutup rangkaian kegiatan, Ketua Paguyuban Pasar Inis, Ester Yuniastuti, berharap Pasar Inis tetap solid dan terus berjalan seperti selama ini.

Pasar Inis tidak terbiasa bergantung pada proposal. Mereka bekerja mandiri. Pernah ambruk, tapi bangkit lagi. Tujuh tahun ini bukan perjalanan yang mudah,” pungkasnya. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.