Seni Budaya

Diskusi Kebudayaan Tuladha #6 Angkat “Living Heritage”, Dorong Pelestarian Cagar Budaya Menoreh

32
×

Diskusi Kebudayaan Tuladha #6 Angkat “Living Heritage”, Dorong Pelestarian Cagar Budaya Menoreh

Sebarkan artikel ini
Foto bersama usai kegiatan
Foto bersama usai kegiatan

BAGELEN, purworejo24.com – Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Purworejo kembali menggelar Diskusi Kebudayaan “Tuladha” putaran ke-6 dengan tema “Living Heritage: Membaca Menoreh sebagai Tubuh Berlapis”.

Kegiatan berlangsung di Balai Budaya Pasareyan Eyang Lowo Ijo, Desa Semagung, Kecamatan Bagelen, Sabtu (25/4/2026) lalu dan dihadiri lebih dari 120 peserta dari berbagai kalangan.

Peserta yang hadir meliputi masyarakat umum, tokoh desa, pelajar, mahasiswa, akademisi, pegiat budaya dan lingkungan, hingga unsur pemerintah daerah dan organisasi keagamaan.

Hadir pula sejumlah budayawan dan narasumber kompeten, seperti Dr. Drs. Sudibyo, M.Hum, Widyastuti Tri Sulistyorini, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinporapar Kabupaten Purworejo.

Diskusi dipandu oleh sejarawan muda Bagas Pratyaksa Nuraga, dengan menghadirkan dua narasumber utama, yakni Lengkong Sanggar Ginaris, (Arkeolog dan Ketua TACB Purworejo) serta Fathul Wachid (Pamong Budaya Ahli Pratama Dindikbud Purworejo).

Tema yang diangkat menyoroti urgensi pelestarian cagar budaya, berangkat dari temuan objek diduga cagar budaya berupa stamba atau “watu lonthong” di Dusun Semagung Wetan.

Berdasarkan hasil identifikasi sementara, benda tersebut diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.

Saat ini, kondisinya dinilai memprihatinkan karena berpotensi rusak akibat faktor alam.

Melalui forum ini, Lesbumi PCNU Purworejo menegaskan perannya sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah dalam upaya pelestarian cagar budaya sesuai amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Pamong Budaya Dindikbud Purworejo, Fathul Wachid, menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.

Pemerintah menyediakan regulasi dan sistem, namun masyarakatlah yang memberi kehidupan pada cagar budaya,” ujarnya.

Sementara itu, moderator Bagas Pratyaksa menjelaskan bahwa konsep heritage memiliki makna lebih luas dibanding cagar budaya.

Cagar budaya lebih menekankan aspek kebendaan, sedangkan heritage mencakup juga nilai-nilai nonbendawi seperti pengetahuan, tradisi, dan praktik budaya,” jelasnya.

Konsep living heritage yang diangkat dalam diskusi ini menekankan bahwa warisan budaya harus terus hidup, tidak hanya dilindungi, tetapi juga dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Hal ini terlihat dari aspirasi warga Semagung yang berharap stamba dapat dikelola secara komunal sebagai bagian dari pengembangan wisata religi berbasis lokal.

Selain warisan benda, masyarakat juga mengangkat kekayaan budaya nonbendawi seperti kesenian Bangilun, Kethoprak, Sholawat Mondreng, serta kuliner khas Dawet Semagung sebagai bagian penting dari identitas budaya setempat.

Menanggapi hal tersebut, Kabid Kebudayaan Dindikbud Purworejo, Agung Setiyono, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan survei awal dan berkomitmen menganggarkan upaya penyelamatan objek tersebut pada tahun mendatang.

Bahkan, pada 2027 direncanakan akan diusulkan Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya untuk memperkuat payung hukum pelestarian.

Ketua PCNU Purworejo, KH. Muhammad Haikal, dalam penutupnya mengapresiasi konsistensi Lesbumi dalam mengangkat isu kebudayaan lokal.

Ia menegaskan bahwa PCNU siap mengawal hasil-hasil diskusi agar dapat ditindaklanjuti secara nyata.

Selain diskusi, kegiatan ini juga diwarnai aksi nyata pelestarian lingkungan melalui penanaman bibit pohon ficus di bantaran sungai sekitar lokasi.

Langkah ini menjadi simbol komitmen bahwa pelestarian budaya harus berjalan selaras dengan menjaga kelestarian alam.

Tak hanya itu, perwakilan Gramedia Yogyakarta turut memberikan kontribusi berupa wakaf Al-Qur’an untuk masjid dan musala di Semagung serta donasi buku untuk pengembangan rumah baca yang diinisiasi Karang Taruna setempat.

Melalui Tuladha #6, Lesbumi PCNU Purworejo berharap kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya semakin meningkat, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor demi menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.