PURWOREJO, purworejo24.com – Permasalahan anak tidak sekolah maupun yang berisiko putus sekolah kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Purworejo.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, mengakui bahwa kondisi tersebut masih ditemukan di beberapa wilayah.
“Kita memang punya data bahwa ada anak-anak yang tidak sekolah dan ada pula yang berisiko tidak melanjutkan. Ini fakta yang harus kita sikapi bersama,” ujar Yudhie, pada Selasa (18/11/2025).
Sebagai langkah pencegahan, Pemkab Purworejo telah menyiapkan program beasiswa khusus bagi anak-anak yang mengalami kendala pembiayaan pribadi dalam menunjang proses belajar.
Bantuan ini bukan untuk menutup biaya sekolah, melainkan kebutuhan individu yang kerap menjadi hambatan, seperti alat belajar, transportasi, hingga kebutuhan pribadi lain yang berdampak pada kehadiran mereka di sekolah.
“Program beasiswa ini untuk memberikan kepastian. Kebutuhan pribadi anak harus dipenuhi agar proses belajar mereka tidak terganggu,” jelasnya.
Beasiswa diberikan sebesar Rp900 ribu untuk jenjang SD dan Rp1 juta bagi jenjang SMP.
Selain bantuan finansial, Disdikbud juga melakukan pendekatan langsung kepada anak dan keluarga.
Pemetaan kebutuhan dilakukan sejak awal untuk memastikan siapa saja yang membutuhkan intervensi agar tidak putus sekolah.
“Kalau dari pemetaan terlihat bahwa tanpa bantuan anak itu bisa putus sekolah, maka beasiswa diberikan untuk mencegah itu,” imbuh Yudhie.
Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
Sekolah, masyarakat, hingga pemerintah desa diminta aktif melaporkan jika mengetahui ada anak yang kesulitan melanjutkan pendidikan karena masalah biaya pribadi.
“Jangan hanya menunggu dari dinas. Jika sekolah tahu ada siswanya yang kesulitan, atau masyarakat melihat potensi anak tidak sekolah, segera informasikan. Harapannya, kran bantuan ini terbuka untuk siapa saja yang layak,” tegasnya.
Hingga kini, program beasiswa telah berjalan untuk jenjang SD, SMP, serta pendidikan kesetaraan hingga Paket C. Jumlah penerima mencapai 46 anak jenjang SD, 45 anak SMP, dan 75 anak pendidikan kesetaraan.
Yudhie menegaskan bahwa persoalan putus sekolah sangat kompleks dengan latar belakang penyebab yang beragam. Karena itu, setiap anak yang dinilai layak akan diperjuangkan agar tetap mendapat hak pendidikan.
“Apa pun itu, kalau ada yang layak menerima, akan kita perjuangkan. Tidak ada anak yang boleh kehilangan kesempatan bersekolah hanya karena masalah biaya pribadi,” tutupnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








