PURWOREJO, purworejo24.com — Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU), PCNU Kabupaten Purworejo bersama Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jawa Tengah menggelar Bimbingan Lanjutan dan Evaluasi Pasca Pelatihan Tahun 2025 di Balai Latihan Kerja (BLK) Pondok Pesantren Al Quddus, Desa Jogoresan, Kecamatan Purwodadi, pada 17–19 November 2025.
Kegiatan resmi dibuka oleh Wakil Ketua PCNU Purworejo, Agus Muzamil, yang hadir mewakili Ketua PCNU, pada Senin (17/11/2025).
Ketua LPPNU Purworejo, Machrus, M.Si, menyampaikan bahwa pelatihan ini berfokus pada penguatan kemampuan petani Nahdliyin di bidang hortikultura, yang merupakan sektor potensial di kawasan Urut Sewu, khususnya Purwodadi, Bagelen, Ngombol, dan wilayah sekitarnya.
“Alhamdulillah, pelatihan lanjutan dari Bapeltan Jawa Tengah ini menjadi kesempatan penting bagi petani Nahdliyin untuk mandiri, baik dalam produksi hasil pertanian maupun sarana pendukung seperti pestisida nabati dan lainnya. Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini juga meneguhkan motivasi petani hortikultura di Urut Sewu,” ujar Machrus.
Kegiatan diikuti 30 peserta dari MWCNU Purwodadi, Bagelen, Ngombol, ditambah peserta dari Banyuurip, dan Kutoarjo yang masuk Zona 5.
Para pemateri merupakan instruktur Bapeltan serta petani purnawidya yang telah dinilai kompeten untuk menularkan ilmu kepada petani lainnya.
Pelatihan difokuskan pada praktik lapangan dengan porsi 60%, dan teori 40%.
Kepala Bapeltan Provinsi Jawa Tengah, Opik Mahendra, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata pemerintah dengan LPPNU untuk membangun kekuatan baru petani Nahdliyin melalui lembaga pesantren.
“Semangatnya adalah ‘ya santri, ya petani’. Kami ingin mendorong pondok pesantren menjadi pusat pengembangan sektor pertanian. Ini selaras dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subiyanto tentang ketahanan pangan,” jelasnya.
Opik juga menyoroti besarnya peluang pasar pertanian di Purworejo, terutama dengan keberadaan Bandara YIA dan rencana pembangunan Embarkasi Haji di wilayah setempat.
Menurutnya, santri dan petani Nahdliyin perlu memanfaatkan peluang tersebut melalui budidaya yang modern, efisien, serta terhubung dengan rantai pasar yang lebih luas.
Selain itu, Opik memaparkan tantangan pertanian modern seperti perubahan sosial, akses lahan, infrastruktur, regenerasi petani, serta rendahnya persepsi masyarakat terhadap profesi petani.
Ia mendorong petani menggunakan media sosial dan aplikasi teknologi pertanian untuk meningkatkan pemasaran dan kapasitas produksi.
Wakil Ketua PCNU Purworejo, Agus Muzamil, memberikan apresiasi tinggi kepada LPPNU karena berhasil menginisiasi program yang dinilai strategis bagi kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.
“Ini menjadi kebanggaan. Proposal LPPNU yang diajukan pada Agustus lalu kini terealisasi. PCNU tentu akan terus mendukung, termasuk perluasan program ke Zona 1 hingga 4, mengingat Purworejo mayoritas masyarakatnya adalah petani,” ujarnya.
Agus menegaskan bahwa PCNU akan intens berkomunikasi dengan dinas pertanian, Bapeltan, dan berbagai pihak terkait untuk memastikan kader NU mendapat pelatihan, akses lahan, dan pendampingan berkelanjutan.
Ia berharap peserta tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga melakukan tindak lanjut berupa aksi nyata di lapangan.
“Harapan kami, warga Nahdliyin menyambut pelatihan ini dengan semangat. Ada target, ada aksi, ada sinergi. Ketika petani NU berdaya secara ekonomi dan pertanian, maka insyaallah akan membawa keberkahan bagi NU,” tegasnya.
Bapeltan Jateng menegaskan bahwa tahun 2025 merupakan momentum besar, sejalan dengan program nasional Swasembada Pangan dan target Gubernur Jawa Tengah untuk menjadikan Jateng sebagai lumbung pangan nasional.
Data yang disampaikan Bapeltan menunjukkan bahwa produksi padi Januari–Oktober 2025 masih surplus meski tren menurun.
Harga Gabah Kering Panen (GKP) stabil di angka Rp 6.500. Sementara itu, 90% kebutuhan kedelai Jawa Tengah masih impor, sehingga peluang usaha pertanian lokal masih sangat besar.
Melalui program Sistem Penyuluhan Pertanian dan Pengembangan Group (SPPG), Bapeltan berharap tumbuh ekosistem bisnis pertanian baru di pedesaan, melibatkan kelompok tani, BUMDes, koperasi, hingga jaringan pesantren.
Pesantren diharapkan menjadi pusat pemberdayaan ekonomi, pusat pendidikan pertanian, serta basis produksi yang didukung oleh lahan, sumber daya manusia, dan inovasi.
Pelatihan hortikultura LPPNU–Bapeltan Jateng ini menjadi langkah konkret membangun kemandirian ekonomi warga Nahdliyin di Purworejo.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat, sektor pertanian diharapkan mampu berkembang lebih maju, modern, serta berdaya saing dalam memenuhi kebutuhan pangan dan peluang pasar yang semakin terbuka. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








