PURWOREJO, purworejo24.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Purworejo, Wasit Diono, mengatakan salah satu upaya yang dilakukan tahun ini adalah mendorong pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) agar masyarakat lebih mandiri dalam menghadapi bencana.
“Pembentukan Destana tidak harus menunggu program dari BPBD. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media. Karena itu, desa bisa memanfaatkan dana desa untuk mempercepat terbentuknya Destana,” jelas Wasit Diono, saat ditemui dikantornya, pada Senin (29/9/2025).
Menurutnya, saat ini sudah ada sekitar 90 desa di Purworejo yang masuk program Destana.
Program tersebut tidak hanya memberi pembekalan teknis mengenai penanganan bencana banjir, kekeringan, maupun kebakaran, tetapi juga keterampilan dalam evakuasi dan perlindungan korban.
Selain penguatan masyarakat, BPBD juga melakukan langkah nyata melalui pemasangan Early Warning System (EWS) di sejumlah titik rawan bencana. Tahun 2025 ini, delapan EWS dipasang di wilayah rawan longsor dan tsunami, termasuk satu unit bantuan dari Pemprov Jawa Tengah yang dipasang di Desa Pakis Arum, Kecamatan Bruno.
“EWS sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Kami rutin melakukan pengecekan di 24 titik EWS sepanjang pantai selatan, dari Jatikontal hingga Kertojayan. Jika ada kerusakan, segera kami perbaiki agar tetap berfungsi optimal,” tegasnya.
Selain itu, BPBD Purworejo juga menggandeng pemerintah desa dalam mitigasi bencana banjir. Salah satunya di Desa Samping, Kecamatan Kemiri, dengan melakukan normalisasi Sungai Anak Pepe yang sudah mengalami pendangkalan.
Normalisasi dilakukan menggunakan alat berat milik BPBD, sedangkan biaya operasional ditanggung oleh desa setempat.
Wasit juga menambahkan, BPBD terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Tahun lalu, sebanyak 32 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Purworejo telah tersertifikasi nasional dengan keahlian khusus di bidang logistik, evakuasi, penanganan darurat, hingga kesehatan.
“Jumlah personel BPBD sekitar 60 orang, dengan 32 di antaranya bertugas di lapangan. Karena itu, kami juga menggandeng relawan dan PMI untuk memperkuat kesiapsiagaan. Prinsipnya, penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan pemerintah saja, melainkan tanggung jawab bersama,” katanya.
Terkait cuaca, BPBD mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. Saat ini wilayah Purworejo masih berada pada musim kemarau hingga akhir September, sementara musim hujan diperkirakan mulai Oktober 2025.
BPBD telah memasang EWS di Bendungan Boro dan Sungai Jrakah untuk memantau potensi banjir.
“Semoga Purworejo tetap aman, tetapi kami akan selalu siaga. Kami juga mengimbau masyarakat lebih hati-hati terhadap potensi kebakaran dan dampak kemarau panjang,” pungkas Wasit Diono. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







