Seni Budaya

Tari Kolosal Cingpoling Guncang Kesawen, Ribuan Warga Rayakan HUT ke-80 RI dengan Semangat Budaya

86
×

Tari Kolosal Cingpoling Guncang Kesawen, Ribuan Warga Rayakan HUT ke-80 RI dengan Semangat Budaya

Sebarkan artikel ini
Tari Cingpoling
Tari Cingpoling

PITURUH, purworejo24.com — Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, berlangsung spektakuler.

Ribuan warga tumpah ruah memenuhi Lapangan Desa Kesawen, pada Senin (18/8/2025), menyaksikan penampilan memukau tari kolosal Cing Po Ling dan Padang Bulan, dua kesenian lokal yang sarat makna sejarah dan semangat kebersamaan.

Tari Cingpoling, yang menjadi pertunjukan utama, bukan sekadar tarian. Ia adalah warisan budaya asli Desa Kesawen yang telah hidup sejak abad ke-17.

Gerakannya yang tegas dan penuh wibawa dahulu digunakan sebagai penyamaran pasukan sandi pengawal demang menuju kadipaten, di masa ketika penguasa dilarang membawa tentara secara terbuka.

Cingpoling itu bukan hanya tarian, tapi simbol kecerdikan dan keberanian leluhur kita,” ujar sesepuh Cingpoling, Mbah Marijo, yang kini menjadi penjaga tradisi.

“Harapan kami, Cingpoling bisa dikenal tidak hanya di Purworejo, tapi juga di seluruh Nusantara. Apalagi sejak 2021 sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional,” tambahnya.

Tari Padang Bulan yang turut ditampilkan menjadi daya tarik tersendiri.

Diciptakan sebagai adaptasi gerakan Cingpoling untuk anak-anak usia sekolah dasar, Padang Bulan menghadirkan kelembutan dan keceriaan tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya.

Sementara itu, siswa SMA turut tampil membawakan tari “Gula Kelapa”, sebuah karya baru yang juga bersumber dari akar Cingpoling.

Kemeriahan HUT RI ke-80 tahun ini tidak hanya terpusat di satu titik.

Plt Kepala Desa Kesawen, Nanang, mengungkapkan bahwa perayaan dilakukan serentak di dua pedukuhan yaitu Sawen dan Kalitepus.

Warga berpartisipasi dalam berbagai lomba khas kemerdekaan hingga pawai gunungan hasil bumi.

Di Kalitepus, warga membuat gunungan dari hasil pertanian dan mengaraknya dengan kendaraan hias berbentuk kapal. Ini menjadi simbol perjuangan dan harapan,” kata Nanang.

“Yang lebih membanggakan, Kalitepus untuk pertama kalinya menampilkan Cingpoling dalam skala besar, menunjukkan bahwa semangat budaya benar-benar hidup di tengah masyarakat,” lanjutnya.

Pelatih kesenian, Rianto Purnomo, menyebut momentum ini sebagai titik balik kebangkitan seni tradisi di tengah generasi muda.

Saya bangga sekali. Hari ini, dari anak-anak hingga orang tua ikut menari. Mereka percaya diri, merasa memiliki warisan ini,” tuturnya.

“Tahun depan, Cingpoling akan dibawa ke panggung internasional dalam kolaborasi budaya antara Indonesia, Jepang, dan Taiwan di Jepang,” ujarnya.

Pertunjukan kolosal ini menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia menjelma sebagai panggung kebanggaan, wujud nyata cinta warga Kesawen terhadap budaya, dan semangat menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus modernisasi.

Perayaan HUT ke-80 RI di Desa Kesawen pun menjadi penegas bahwa kemerdekaan tak hanya dirayakan dengan gegap gempita, tetapi juga dengan menjaga dan merawat jati diri bangsa — lewat budaya, kebersamaan, dan semangat generasi penerus. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.