Seni Budaya

Cingpoling Purworejo Memukau di TMII, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Arus Modernisasi

137
×

Cingpoling Purworejo Memukau di TMII, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Arus Modernisasi

Sebarkan artikel ini
Kesenian tradisional khas Kabupaten Purworejo, Cingpoling
Kesenian tradisional khas Kabupaten Purworejo, Cingpoling

JAKARTA, purworejo24.com – Kesenian tradisional khas Kabupaten Purworejo, Cingpoling, kembali menyita perhatian publik dalam ajang Pentas Duta Seni Jawa Tengah 2025 yang digelar di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Minggu (27/7/2025).

Karya seni ini tampil bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai representasi kuat dari identitas budaya lokal yang sarat nilai sejarah dan filosofi kehidupan masyarakat Purworejo.

Dalam pentas yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Penghubung Jawa Tengah ini, kelompok Tunggul Wulung dari Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, membawakan pertunjukan tari Cingpoling klasik, terdiri dari beberapa babak seperti sembahan, dodokan, undur-unduran, hingga pencak.

Tarian ini dipercaya lahir dari latihan militer rakyat pada masa penjajahan Belanda di abad ke-17, lalu berkembang menjadi bentuk ekspresi budaya yang unik.

Tak hanya itu, dalam momen yang sama, juga ditampilkan tari Padang Bulan, versi Cingpoling yang dibawakan oleh anak-anak sebagai bentuk pewarisan budaya sejak usia dini.

Tari ini merupakan modifikasi gerak dasar Cingpoling yang dikembangkan menjadi tari kreasi anak untuk berbagai ajang seperti FLS2N dan pesta siaga pramuka.

Hingga saat ini, Cingpoling yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak tahun 2021 hanya dilestarikan oleh dua kelompok aktif, yakni Ponco Manunggal Jati dari Jatirejo, Kaligesing, dan Tunggul Wulung dari Kesawen, Pituruh.

Kehadiran mereka di panggung nasional menjadi bukti nyata semangat pelestarian seni tradisi yang masih kuat.

Kepala Sub Bidang Pelayanan Masyarakat dan Hubungan Antar Lembaga Provinsi Jawa Tengah, Risturino, S.IP., M.M., menyampaikan bahwa kesenian tradisional seperti Cingpoling memiliki makna lebih dari sekadar hiburan.

Kesenian tradisional bukan hanya tontonan, tetapi wahana yang sarat akan nilai dan filosofi lokal. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam melestarikan, mengembangkan, dan mengenalkan kesenian Purworejo kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, S.STP., M.M.. Ia menyebut pentas ini sebagai momen luar biasa yang menunjukkan eksistensi dan daya saing para seniman lokal.

Melestarikan budaya adalah tanggung jawab semua pihak. Kami terus mendorong pengembangan Cingpoling agar tetap hidup dan diajarkan di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Harapannya, warisan leluhur ini tidak hanya dikenal, tetapi juga dicintai oleh generasi muda,” ungkapnya dalam dialog budaya usai pentas.

Sementara itu, Pj. Sekretaris Daerah Purworejo, Drs. R. Achmad Kurniawan Kadir, M.P.A., menegaskan pentingnya menjadikan Cingpoling sebagai identitas budaya yang melekat dalam setiap momentum perayaan nasional.

Cingpoling adalah kesenian yang hampir punah, tetapi dengan komitmen bersama kini bisa hidup kembali. Mari kita semarakkan Cingpoling dalam setiap event, seperti peringatan 17 Agustus atau agenda nasional lainnya,” pesannya.

Sebagai informasi, Kabupaten Purworejo telah dua kali berturut-turut meraih predikat penyaji terbaik dalam ajang Duta Seni Award tahun 2023 dan 2024.

Untuk tahun ini, ajang Duta Seni Award 2025 dijadwalkan digelar di Semarang pada Desember mendatang.

Dengan semangat kolaboratif antara pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat, Cingpoling terus menunjukkan bahwa budaya lokal bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, tetapi juga membentuk masa depan yang berakar pada jati diri bangsa. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.