PURWOREJO, purworejo24.com – Tidak banyak generasi baru yang bersedia memanfaatkan waktu luangnya untuk menonton wayang kulit. Fenomena ini cukup memprihatinkan bagi pelestarian dan pengembangan wayang kulit di depan karena kebertahanan seni pertunjukkan sangat bergantung pada khalayak penonton.
Berangkat dari latar belakang itu Alumni SMA Negeri 1 Purworejo yang tergabung dalam Paguyuban Muda Ganesha menggelar seminar budaya di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo dan pagelaran wayang kulit dihalaman Setda Purworejo, pada Jumat (14/2/2025).
Seminar budaya dengan tema Merawat Wayang, Melestarikan dan Merawat Peradaban yang diikuti oleh puluhan guru, pelajar dan pelaku seni/budaya, alumni SMA Negeri 1 Purworejo serta pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo itu menghadirkan dua nara sumber yaitu KI Drs. Muji Waluyo MPd ( MW Dwijasumarta) selaku dalang dan purnatugas Guru SMA Negeri 1 Purworejo dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM Muda Ganesha Angkatan 1979, DR. Sudibyo Ptawiroatmojo (KMT Widyo Hadiprojo) dengan moderator Mastri Imammusadin SH (Muda Ganesha Angkatan 2020)
Adapun pagelaran wayang kulit dengan menghadirkan dalang Ki Muji Waluyo, M.Pd (Purworejo) dan Ki Andreas Novianto, S.Pd. Pagelan wayang kulit mengambil lakon Babat Alas Wana Marta.
Direktur PDAM Tirta Perwitasari Purworejo yang juga sebagai Ketua Panitia kegiatan dan Alumni SMA Negeri 1 Purworejo, Hermawan Wahyu Utomo, mengatakan, seminar ini dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan mengapa pergelaran wayang kulit kurang diminati oleh generasi baru dan apa saja yang dapat dilakukan untuk mendekatkan wayang kulit kepada generasi baru.
Berdasarkan masalah tersebut tujuan seminar adalah untuk menjelaskan keunggulan wayang kulit sebagai warisan budaya dunia, menjelaskan kiat-kiat untuk mengenal dan memahami wayang kulit, dan memberi sugesti tentang pelestarian dan pengembangan wayang kulit.
“Diharapkan seminar ini dapat memantik lahirnya generasi baru pecinta wayang kulit di Purworejo dan adanya kebijakan baru Pemkab Purworejo yang secara nyata memajukan serta mengembangkan wayang kulit dengan berbagai unsur yang terkait,” harapnya.
Dijelaskan, seminar budaya dan pagelaran wayang kulit dilaksanakan dalam rangka Reuni Akbar dan Hari Jadi ke-70 SMA Negeri 1 Purworejo serta Hari Jadi ke-194 Kabupaten Purworejo.
“Jadi memang untuk seminar wayang ini untuk rangkaian reuni akbar Muda Ganesha 2025 yang sebenarnya akan dilaksanakan di bulan Juli atau awal Agustus 2025 mendatang, tapi karena ini juga ada kolaborasi dari Muda Ganesha dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Purworejo, ini untuk seminar atau sarasehan wayang, kemudian pertunjukan wayang kita majukan menjadi tanggal 14 Februari 2025 ini. Karena kita semaksimal mungkin mengsinergiskan antara Hari Ulang Tahun SMA Negeri 1 Purworejo dalam hal ini banyak yang bergerak adalah alumni SMA Negeri 1 (Muda Ganesha), maka kita kolaborasikan dengan Pemerintah Daerah dengan semaksimal meriah,” ujarnya.
Untuk lakon yang diambil dalam pementasan wayang kulit, yaitu Babat Alas Wana Marta yang berarti awal pembuatan kerajaan diartikan sama dengan kondisi di Kabupaten Purworejo saat ini, yaitu awal pemerintahan Hj Yuli Hastuti dan Dion Agasi Setyabudi yang terpilih sebagai bupati dan wakil bupati Kabupaten Purworejo.
“Maka kita menyamakan tema itu,” jelasnya.
Disampaikan, dengan perkembangan teknologi, dengan imbasnya arus informasi global saat ini, kita harus waspada. Kalau kita tidak waspada maka akan mengikis habis budaya kita dengan budaya- budaya barat, yang sifatnya hanya tontonan, hiburan tapi pada akhirnya punya efek buruk bagi generasi muda mendatang.
“Satu sisi yang namanya budaya wayang kita itu meliputi tontonan hiburan tapi juga ada tuntunannya, ada filosofinya dan wejanganya, ada sesuatu yang bisa menjadi pelajaran atau pendidikan bagi anak- anak, ada pesan moral. Jadi kami Muda Ganesha berusaha semaksimal mungkin peduli dengan budaya, supaya kita bisa nguri- uri budaya, sehingga budaya khususnya wayang dan hari ini tidak hilang atau tidak diambil oleh negara lain, karena kalau kita tidak mengurusi akan diambil oleh negara lain, dan itu sudah terbukti karena banyak situs- situs, pusaka – pusaka, barang- barang dari keraton sekarang berpindah ke Eropa dan Amerika, ini jangan sampai terus terjadi karena itu adalah urusan kita,” jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, seminar budaya dan pementasan wayang kulit digelar untuk membangun komunitas, membangun pecinta seni, membangun jaringan pemerhati seni, supaya budaya kita tidak hilang begitu saja.
“Supaya budaya kita bisa meneruskan generasi muda, supaya kita bisa mengambil filosofi, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mempelajari atau meengambil hikmah dari sejarah, jadi jangan melupakan sejarah,” lanjutnya.
Ia berharap generasi muda terus bisa menjaga hasil leluhur nenek moyang kita, utamanya hasil leluhur yang baik- baik, yang punya nilai tinggi, sehingga disitu kita bisa membangun peradaban bangsa Indonesia dengan tidak melupakan budaya kita sendiri.
“Jangan sampai seperti pepatah Bung Karno mengatakan kalau anda memeluk hindu jangan jadi India, kalau anda memeluk nasrani jangan menjadi Vatikan dan kalau anda memeluk islam jangan menjadi Arab Saudi, jadi kita tetep dengan budaya Indonesia dengan tidak menghilangkan sejarah,” tandasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









