PURWOREJO, Purworejo24.com – Sorak sorai kasus persoalan tambang batuan andesit di Desa Wadas Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo Jawa Tengah mulai ditindas derasnya informasi.
Pemberitaan Wadas hilang ditelan bumi, publik disuguhi politik Putri Candrawati yang berusaha lepas dari jerat hukuman mati. Drama polisi tembak polisi terus menjadi tontonan seluruh anak negeri. Namun, bayang-bayang kehilangan tanah surga masih dirasakan puluhan warga terdampak tambang batuan andesit di Desa Wadas.
Dari calon tambang di Desa Wadas itulah lahir perempuan-perempuan yang tangguh melawan ketidakadilan. Diberi nama Wadon Wadas, sebagai satu-satunya organisasi perempuan yang gigih melawan perampasan lahan oleh oligarki.
Salah satu anggota Wadon Wadas yakni Imel, perempuan berusia 19 tahun yang tak gencar melawan.
“Lokasinya yang dulu pernah bentrok dengan aparat mas,” kata Imel memberikan petunjuk ke rumahnya yang berada di pinggiran Desa Wadas saat diwawancarai.
Berbekal kata kunci “bentrok dengan aparat” tak sulit mendapatkan lokasi rumah Imel. Rumahnya yang sedikit menjorok dari jalan desa tersebut, memang menjadi salah satu pusat berkumpulnya kekuatan Wadon Wadas untuk menolak tambang.
Sesampainya di rumah Imel, langsung saja kuutarakan niat untuk mewawancarainya terkait peranan Wadon Wadas dalam melawan tambang yang mengancam lingkungan desanya.
Imel menyebut, sudah tak terhitung lagi aksi yang dilakukan Wadon Wadas dalam menolak tambang. Perlawanan para perempuan desa ini sudah dilakukan mulai tahun 2016 sejak awal mula proyek tambang di desanya mulai dibicarakan oleh masyarakat sekitar.
“Banyak lah mas, lupa sudah berapa kali, mulai dari aksi di jalan, di pengadilan, bahkan di kantor BBWS-SO di Jogja sudah pernah kita lakukan,” kata Imel menceritakan perjuangan kaum perempuan di desanya.
Imel mengatakan, perjuangan untuk mempertahankan ruang hidup di desanya sudah tak melihat gender semata. Organisasi Wadon Wadas memang dibentuk untuk mewadahi para perempuan untuk memastikan hak dan kewajiban dalam membela ruang hidup warga yang terancam tambang.
Mereka berjalan beriringan dengan Gerakan Masyarakat Pecinta Alam Desa Wadas (Gempadewa) tanpa membedakan gender untuk sekuat tenaga menjaga lingkungan dari kerusakan yang akan ditimbulkan oleh tambang batuan andesit di desanya.
Diketahui tambang batuan andesit di desa Wadas akan mengganggu kelestarian lingkungan. Bagaimana tidak, tambang quarry atau penambangan terbuka di Desa Wadas rencananya akan dikeruk dengan cara dibor, dan diledakkan menggunakan 5.300 ton dinamit atau 5.280.210 kg, hingga kedalaman 40 meter.
Tambang di Desa Wadas tersebut akan diekploitasi untuk mensuplai material PSN Bendungan Bener. Dimna PSN Bendungan Bener adalah sebuah proyek bendungan bertipe urugan batu yang dibangun di Desa Guntur, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo dengan struktur bendungan yang mencapai tinggi 156 meter.
Tambang quarry batuan andesit di Desa Wadas ini menargetkan 15,53 juta meter kubik material batuan andesit. Pengambilan batu diperkirakan dengan kapasitas produksi 400.000 meter kubik setiap tahunnya.
Senada dengan Imel, salah satu anggota Wadon Wadas lainnya, Dewi (21) juga tak mau berhenti berjuang. Ia menilai tambang batuan andesit akan menghilangkan bentang alam dan memaksa warga untuk hidup dengan kerusakan ekosistem.
“Sampai kapanpun kita akan perjuangan,” katanya singkat.
Dengan sisa-sisa perjuangan pada 17 Agustus 2022 yang lalu. Wadon Wadas dan Gempadewa mengabarkan bendera setengah tiang untuk menandai mereka belum merdeka dari ancaman tambang.(P24/Bayu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







