Tingkatkan Produktivitas Tanaman Kopi dan Teknik Pengolahan Kopi, Puluhan Kelompok Tani Kopi Purworejo Ikuti Bintek

oleh -
20 perwakilan Kelompok Tani di Kabupaten Purworejo mengikuti kegiatan Bintek Peningkatan Produktivita
20 perwakilan Kelompok Tani di Kabupaten Purworejo mengikuti kegiatan Bintek Peningkatan Produktivita

PURWOREJO,purworejo24.com – Sebanyak 20 ketua atau perwakilan Kelompok Tani calon penerima bantuan intensifikasi kopi di Kabupaten Purworejo dari 9 kecamatan yaitu Kaligesing, Bagelen, Pituruh, Loano, Bruno, Gebang, Bener, Purworejo, dan Kemiri, mengikuti kegiatan Bintek Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi dan Teknik Pengolahan
Kopi, di gedung Ganesha Convention Hall Purworejo, pada Kamis 15 September 2022.

Kegiatan Bintek dengan mengambil tema Membangun Indonesia Tangguh Melalui Pembangunan Pertanian itu, diselenggarkan oleh Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jateng VI (Purworejo, Magelang Raya, Temanggung dan Wonosobo), Vita Ervina, SE., MBA bersama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan RI, yang berfokus pada Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi dan Teknik Pengolahan Kopi.

Hadir sebagai nara sumber, Jayadi, yang memparkan bagimana strategi peningkatan produktivitas tanaman kopi, dan Kusnul Wahyu yang membagikan ilmunya bagaimana teknik pengolahan kopi yang baik bagi petani. Acara dihadiri dan dibuka langsung oleh Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jateng VI, Vita Ervina, SE., MBA.

Turut hadir dalam pembukaan kegiatan itu, Dirjen. Perkebunan Kementan RI, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan kelautan (DPPK) Kabupaten Purworejo, Hadi Sadsila.

“Kenapa kami mengambil tema yang berfokus pada peningkatan produktivitas tanaman kopi, kita ketahui bersama meskipun kopi bukan komoditas utama di Purworejo seperti halnya di Wonosobo, Temanggung, dan Magelang akan tetapi perkebunan kopi khususnya robusta sudah mulai banyak dibudidayakan oleh masyarakat, sehingga secara khusus diperlukan dukungan guna meningkatkan hasil/ produktivitas,” jelas Vita.

Menurutnya, Kopi sebagai salah satu produk agroindustri pangan yang digemari oleh masyarakat, keberadaannya sudah menjadi salah satu bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya sekedar minum kopi, kopi sudah menjadi budaya atau kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat baik di dalam negeri maupun manca negara.

“Kebutuhan masyarakat akan kopi yang semakin hari makin meningkat, ini menjadi peluang besar khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Purworejo untuk mengembangkan kopi hasil dari perkebubannya sendiri,” ujarnya.

Kegiatan itu, lanjutnya, merupakan salah satu kegiatan bagaimana masyarakat dibekali pengetahuan dalam upaya peningkatan produktivitas serta bagaimana strategi pengolahan yang baik khususnya bagi petani pembudidaya. Tidak menutupkan kemungkinan kedepannya juga akan ada program-program lainnya yang berkaitan dengan pengembangan
komoditas kopi di Kabupaten Purworejo.

“Purworejo yang secara topografis merupakan wilayah beriklim tropis basah dengan suhu antara 19-28C memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan kopi khususnya robusta. Meskipun secara garis besar Kabupaten Purworejo sebagai sentra komoditas tanaman pangan, tetapi dengan beberapa dataran tinggi yang diantaranya lereng Gunung Pupur, Gunung Mentosari, Gunung Rawacacing, lereng-lereng di Pegunungan Menoreh sangat potensial untuk pengembangan tanaman kopi. Kami di sini mendukung secara penuh dalam pengembangan kopi robusta di Purworejo,” terangnya.

Disebutkan, sesuai data yang ada di BPS pada tahun 2020 luasan perkebunan kopi di Purworejo adalah 529 Ha dengan produksi mencapai 171 ton, meskipun bantuan belum mencakup secara keseluruhan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan perluasan kegiatan intensifikasi kopi di tahun kedepan.

“Kegiatan yang diselenggarakan pada siang hari ini merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah dan kami Anggota Komisi IV DPR RI. Gerakan peningkatan produktivitas tanaman kopi dan strategi pascapanen kopi sebagai salah satu kegiatan untuk memberikan sosialisasi dan pengetahuan bagi masyarakat tentang budidaya kopi yang baik serta bagaimana petani bisa mengolah secara mandiri hasil perkebunannya sehingga secara ekonomi mampu meningkatkan nilai tambah dari kopi itu sendiri,” lanjutnya.

Dikatakan, petani yang selama ini hanya bisa menjual hasil mentahnya, kedepan bisa diolah terlebih dahulu supaya harganya bisa lebih baik. Dan ini menjadi tugas bersama khususnya pemerintah, bagaimana bisa memfasilitasi petani untuk bisa menjual hasil kopinya dengan harga yang layak.

“Besar harapan saya agar kegiatan ini bisa sebagai ajang menjalin komunikasi, koordinasi, dan tentunya pengetahuan di bidang pertanian, sehingga petani mampu meningkatkan produktivitasnya dan secara ekonomi dapat meningkatkan kesejahteraan,” harapnya.

Sementara itu, ketua Kelompok Tani Kopi Bangun Semi Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Supangat, yang ikut menjadi peserta dalam Bintek itu mengaku senang dan mengapresiasi dengan pelaksanaan kegiatan itu. Dirinya mengaku menjadi tambah semangat dan semakin antusias untuk mengembangkan kopi di desanya.

“Harapannya kopi Purworejo ini semakin bisa dikenal, dengan kopi bisa menjadi media bagi masyarakat luas untuk mengenal Purworejo, baik secara kancah nasional maupun secara internasional, sehingga masyarakat bisa terangkat kesejahteraanya dengan mengembangkan kopi di Purworejo,” pungkasnya.(P24/Wid)