PURWOREJO, purworejo24.com – Dampak kenaikan harga BBM memang sangat memukul perekonomian masyarakat tingkat bawah. Harga bahan-bahan pokok melambung tinggi akibat ongkos distribusi yang ikut naik.
Pemerintah bekerja sama dengan Kementerian Sosial kabarnya akan menyalurkan BLT BBM kepada sekitar 20,65 juta masyarakat kurang mampu di Indonesia. Anggaran yang disediakan untuk BLT BBM pun juga cukup banyak yakni sebesar 12,96 Triliun dan penyaluran dilakukan oleh PT Pos Indonesia.
Meskipun demikian, untuk mendapatkan bantuan langsung tunai BBM bukan perjuangan yang mudah. Seperti yang dilakukan Ayu Setyorini warga Purworejo ini. Dengan menggendong bayinya yang masih berumur kira-kira satu tahun, Ayu harus antre dengan ribuan masyarakat lainnya di Kantor Pos Purworejo.
Nampak mengerti kesulitan atas kenaikan harga BBM, bayi kecil mungil digendong dengan alat gendong bayi berwarna coklat tersebut diam menemani ibunya mengantre. Ayu dan bayinya rela berpanas-panasan antre untuk mendapatkan BLT BBM sejak jam 9 pagi.
“Antre BLT BBM mas, sejak jam jam 9,” katanya sembari menimang-nimang bayinya pada Jumat, 9 September 2022.
Bantuan yang hanya Rp150.000 per bulannya tersebut memang sangat membantu di tengah melonjaknya harga bahan pokok. Ayu pun terlihat berdesak-desakan dengan penerima BLT lainnya.
Para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) seperti Ayu dan ribuan lainnya akan menerima uang sebesar Rp500 ribu dengan rincian BLT BBM Rp150 ribu per bulan yang dibayarkan bulan September dan Oktober 2022, serta BPNT atau Bansos sembako senilai Rp200 ribu.
Untuk BLT BBM sendiri pemerintah hanya akan memberikan selama 4 bulan pertama sejak kenaikan harga BBM.
Ayu menceritakan, selain harga bahan pokok yang mulai merangkak naik, tarif angkutan umum juga ikut naik. Ia menyebut tarif angkot naik Rp2.500 dalam sekali perjalanan.
“Jadi lebih mahal, tadinya Rp 7.500 sekarang Rp 10.000,” ceritanya.
Ayu berharap, di tengah polemik kenaikan harga BBM ini, pemerintah dapat memperhatikan rakyat kecil dengan cara menurunkan lagi harga BBM saat ini.
“Diturunin lagi harga BBM-nya mas,” ucapnya di tengah antrean ribuan orang penerima BLT BBM.
Sementara itu hal yang sama juga dirasakan Warga Plaosan, Kelurahan Purworejo Titin Indrawati (45), sebagai ibu rumah tangga, kenaikan harga BBM sangat berdampak pada perekonomian keluarganya.
Titin menyebut, kenaikan harga BBM setelah masyarakat mulai bangkit dari pandemi merupakan hal yang belum tepat. Ia mengaku saat-saat seperti ini mencari pekerjaan sangat susah apalagi ditambah dengan naiknya harga BBM.
“Belanjaan udah pada mulai naik, kita kan jadi susah kan mas,” keluhnya. (P24-bayu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








