Upacara Pengambilan Air Sumur Beji dan Kinatah Warnai Merti Desa Banyuurip

oleh -
Merti Desa di lokasi cagar budaya Situs Perigi, Desa Banyuurip, Kamis (14/10/2021).

BANYUURIP, purworejo24.com  – Warga masyarakat Desa Banyuurip, Kecamatan Banyuurip, Purworejo, Jawa Tengah, menggelar tradisi merti desa atau selamatan desa, di lokasi cagar budaya Situs Perigi atau petilasan Pangeran Joyokusuma, Desa Banyuurip, pada Kamis (14/10/2021).

Ada yang beda dalam pelaksanaan merti desa kali ini, jika tahun-tahun sebelumnya merti desa selalu diisi dengan kegiatan pementasan wayang kulit, namun lantaran masih dalam pembatasan kegiatan selama pandemi covid-19, pagelaran wayang kulit ditiadakan dan diganti dengan kegiatan upacara tradisi pengambilan air sumur Beji dan sumur Kinatah. Pengambilan air sumur dilakukan oleh anak muda atau karang taruna yang terbagi menjadi dua kelompok dan masing-masing mengambil air di dua sumur yaitu sumur Beji dan sumur Tinatah.

Air yang diambil kemudian dibawa ke tempat petilasan Pengeran Joyokusumo dan dituangkan disebuah tempat mirip lingga yoni yang kemudian air itu digunakan untuk membasuk muka serta tangan dan kaki Kepala Desa Banyuurip yang dipandu oleh juru kunci petilasan Pangeran Joyokusumo.

Tak hanya itu, warga masyarakat Desa Banyuurip juga membawa sedikitnya 110 tumpeng atau ancak yang berisi aneka makanan siap saji lengkap dengan aneka lauk serta buah yang dibawa di pendopo cagar budaya Situs Perigi. Warga kemudian menggelar doa bersama dan menyantap makanan tumpeng atau ancak secara bersama-sama di lokasi itu.

Hadir dalam kegiatan merti desa itu, Kabid Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Dyah Woro Setyaningsih, Camat Banyuurip, Triwahyuni Wulansari, Pemdes Banyuurip, tokoh masyarakat dan warga Desa Banyuurip.

Kepala Desa Banyuurip, Teguh Susanto, saat ditemui di sela kegiatan merti desa mengatakan, kegiatan merti desa dilaksanakan sebagai bentuk kegiatan untuk nguri-nguri budaya mengingat terhadap sesepuh yang ada di Desa Banyuurip dengan harapan tradisi itu bisa dilanjutkan, dilestarikan dan dikembangkan secara terus menerus.

“Biasanya kita ada gelar wayang kulit karena masih masa pandemi sudah dua tahun ini kita tiadakan, semoga tahun depan bisa mengemas kegiatan ini dengan lebih baik lagi,” katanya.

Warga menggelar doa bersama dalam rangka Merti Desa di lokasi cagar budaya Situs Perigi, Desa Banyuurip, Kamis (14/10/2021).
Warga menggelar doa bersama dalam rangka Merti Desa di lokasi cagar budaya Situs Perigi, Desa Banyuurip, Kamis (14/10/2021).

Terkait upacara tradisi pengambilan air sumur, jelas Teguh, pengambilan air sumur memilik makna bahwa dulu awalnya Pangeran Joyokusumo saat membuka Desa Banyuurip, mengalami kesulitan air atau Desa Banyuurip merupakan daerah sulit air.

“Maka Pangeran Joyokusumo saat itu diberikan dua sumber mata air yaitu sumber air sumur Beji dan Kinatah. Dimana air sumur itu yang oleh banyak orang dikenal banyak memberikan berkah dan manfaat, namun secara detailnya saya sendiri kurang paham, pada intinya bahwa air adalah sumber penghidupan maka warga Desa Banyuurip bisa tercukupi airnya, sehingga masyarakat bisa hidup dengan baik termasuk sektor-sektor pertanianya,” jelasnya.

Kabid Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Dyah Woro Setyaningsih, mengatakan, kegiatan merti desa itu memang sengaja dibikin beda setelah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo datang dan memberikan arahan terkait kegiatan merti desa di Desa Banyuurip.

“Ini sengaja dibikin beda kerika beberapa waktu lalu kita kesini dan salah satu fungsi kebudayaan itu disamping melestarikan, mengembangkan namun juga mengimformasikan kepada masyarakat dan kita berharap bahwa ada cagar budaya yang ada disini yaitu namanya Situs Perigi Desa Banyuurip yang harapan kami ini semakin lama bisa semakin dikenal oleh masyarakat luas,” kata Woro.

Salah satu cara untuk melestarikan dan mengenalkan Situs Perigi ke khalayak, Dinas bersama Pemerintah Desa Banyuurip kemudian menggelar prosesi berupa upacara pengambilan air sumur.

“Kegiatan ini harapanya bisa menjadi salah satu daya tarik dan harapanya kedepan bisa dilaksanakan secara lebih besar lagi. Jika kegiatan ini makin besar maka akan terjadi pemberdayaan masyarakat sekitar, misal jika tadi ada tumpeng yang jumlahnya 110, itu dari warga masyarakat dan satu tumpeng berisi ube rampe dengan berkisar harga antara 100-150 ribu. Nah ini jika kemudian ditawar ke tamu menjadi luar biasa, akan terjadi pemberdayaan masyarakat dan sedikit demi sekidit akan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Woro berharap dengan kegiatan itu masyarakat bisa menjadi semakin peduli dengan tradisi atau budaya yang ada di daerahnya.

“Kita mengkat tradisi atau budaya ini menjadi sebuah kegiatan dengan tujuan untuk nguri-nguri, melestarikan, mengembangkan dan mengimformasikan kepada masyarakat dengan tidak menimbulkan polemik,” pungkasnya.(P24/Drt)

Please follow and like us: