KUTOARJO, purworejo24.com – Masih maraknya praktik prostitusi yang terjadi di kawasan Gunung Tugel, Kelurahan/Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, membuat warga masyarakat Kutoarjo prihatin. Lokasi yang kerap jadi ajang maksiat itu menjadikan Gunung Tugel dikenal sebagai lokasi yang negatif, padahal praktek prostusi lebih banyak dilakukan oleh masyarakat pendatang dan bukan dilakukan oleh penduduk asli Gunung Tugel.
Menyikapi hal itu sejumlah ulama dan umaro berkumpul guna membahas solusi terkait masalah Gunung Tugel. Pertemuan yang dihadiri oleh Muspika, ulama, dan dinas terkait dan penghuni Gunung Tugel itu dilakukan di pendopo Kecamatan Kutoarjo, pada Kamis (18/3/2021).
“Kita bersama Forkompincam, dinas terkait serta penghuni Gunung Tugel melakukan koordinasi terkait dengan adanya pelanggaran Perda terkait dengan IMB, K3 dan yang lain-lain, yang mana tentunya pelanggaran ini harus kita tegakkan,” ungkap Kepala Satpol PP Damkar Purworejo, Budi Wibowo.
Dijelaskan, untuk pelanggaran IMB Satpol PP dan Damkar Purworejo, sudah meluncurkan peringatan kedua, sedangkan untuk prostitusi yang masih marah terjadi di Gunung Tugel, Satpol PP sudah menghimbau kepada ibu-ibu yang melakukan kegiatan di sana untuk hijrah ke arah yang lebih baik lagi untuk bisa mendapatkan penghasilan yang lebih halal yang lebih manfaat untuk keluarganya.
“Sudah ada unit usaha yang dimanfaatkan oleh ibu-ibu manakala mereka mau. Ada dari ACT, ada dari Muhammadiyah yang sudah menyiapkan kerjasama terkait dengan kewirausahaan sehingga kita berharap masalah Gunung Tugel bisa kita pecahkan bersama-sama dan konotasi negatif dari Gunung Tugel bisa kita entaskan juga, di luar tidak lagi negatif atas Gunung Tugel itu,” jelasnya.
Diungkapkan, praktek prostitusi di Gunung Tugel telah dilakukan sejak lama. Pemerintah telah berupaya mengatasi masalah itu dengan melakukan pembongkaran sejumlah bangunan yang disinyalir kerap digunakan sebagai praktek prostitusi, namun demikian praktek masih terus dilakukan di Gunung Tugel.
“Embrionya sudah lama ada lalu semenjak lokasi stasiun di bongkar jadi, menjamur di sana (Gunung Tugel). Dan berkumpul disana sehingga semakin besar disana,” ujarnya.
Atas masalah yang terjadi di Gunung Tugel, Satpol PP sebagai penindak Pperda telah melakukan penindakan secara persuatif dalam pengentasan prostitusinya, yaitu dengan memberikan lapangan usaha kepada mereka, karena mereka terjun ke dunia prostitusi itu banyak aspek yang menjadi alasanya, baik aspek keluarga, ekonomi dan lainnya.
“Makanya tidak bisa serta merta mengubah namun secara step by step. Kita sudah punya data mana yang rumah penduduk mana yang disewakan,” tambahnya.
Tokoh masyarakat Kutoarjo, yang juga takmir masjid, Ky Khoirul Anam, mengatakan, ulama dan umaro di Kecamatan Kutoarjo ingin merubah stigma negatif yang ada di Gunung Tugel. Dengan dilakukan musyawarah itu, ulama dan umaro berharap ada solusi yang baik terkait masalah Gunung Tugel.
“Kami ingin merubah Kutoarjo yang dengan konotasi negatif yaitu warga yang rumahnya Kutoarjo dulu apalagi yang berada di Gunung Tugel selalu dinilai negatif. Jadi para ulama di Kutoarjo ini ingin merubah mindset yang hubungannya dengan Gunung Tugel yaitu diubah menjadi pesantren. Dan tolong lah kami sampaikan kepada penduduk Gunung Tugel yang masih menjalankan kegiatan kurang bagus dan kurang beruntung mohon untuk bekerja secara benar dan sungguh sungguh jadi jangan sampai kita ditanya lagi oleh ulama ulama yang diatasnya, kok masih, kok masih, maka jangan sampai seperti itu,” katanya.
Terkait prostitusi, disampaikan, ada sekitar 25 sampai 30 warga yang berprofesi dalam kegiatan maksiat itu. Namun praktek prostitusi lebih banyak dilakukan oleh warga dari luar Purworejo yang pindah ke Gunung Tugel. Ada sekitar 20 persen penduduk asli yang tinggal di Gunung Tugel dan 80 persen lainya merupakan pendatang dan banyak dintaranya melakukan praktek prostitusi.
“Jadi warga ingin melakukan aksi sendiri tapi takut dia. Akhirnya kami minta bolo-bolo seperti ini. Akhirnya terlaksana musyawarah seperti ini, karena disebutkan penduduknya asli 20 persen 80 persen pendatang. Yang tidak dibidang prostitusi hanya 20 persen. Yang bermukim disitu dan melakukan hal tidak bagus ada 80 persen,” ujarnya.
Diungkapkan, ada sekitar satu tahunan ini praktek prostitusi kembali tumbuh subur di Gunung Tugel, mereka kembali ke sana setelah lokasi dibongkar, dan tumbuh subur lagi.
“Jadi penduduk yang asli kasihan mereka punya anak perempuan yang lewat selalu disuguhi hal itu ‘kan kasihan, dan jadi kurang bagus efeknya. Oleh karena itu rencana untuk mengubah mindset serta untuk mengatasi masalah itu, disana nantinya akan didirikan SDIT dan didirikan pesantren. Dengan demikian praktek prostitusi dan kemaksiatan lain bisa hilang disana, dan Gunung Tugel bisa berubah menjadi lebih baik,” pungkasnya.(P24/Wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








