Keluarga Ahmad Yani Sayangkan Wacana Regrouping dan Perubahan Nama SD Jendral Ahmad Yani
Sebarkan artikel ini
SD Ahmad Yani yang kini telah berganti nama menjadi SD Rendeng.
GEBANG, purworejo24.com – Adanya wacana regrouping (penggabungan) ratusan Sekolah Dasar (SD) di Purworejo menyebabkan beberapa sekolah mulai gusar. Salah satunya SDN Rendeng, sekolah yang awal mulanya didirikan oleh Pahlawan Revolusi Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani pun akan terkena regrouping.
Bambang Purnawanto, keponakan sang jendral yang saat ini merawat peninggalan rumah peninggalan Letjend A. Yani yang terletak di Desa Rendeng RT 01/ RW 02, Kecamatan Gebang, Purworejo, menyayangkan adanya Regrouping yang akan dilakukan oleh pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kepemudaan dan olahraga (Dindikpora) Kabupaten Purworejo. Menurutnya sekolah tersebut sebagai salah satu bukti sejarah perjuangan pendidikan yang dilakukan mayjend A. YANI di Purworejo yang patut dilestarikan dan tidak boleh dihilangkan dari sejarah.
“Atas kepeduliannya terhadap pendidikan, beliau (Ahmad Yani) mendirikan sebuah SD. Beliau sangat prihatin sekali kalau banyak anak-anak yang sekolah di luar Desa Rendeng ini, makanya beliau membangun sekolah dengan nama “SD Jendral Ahmad Yani Rendeng” yang terus eksis hingga saat ini,” katanya kepada purworejo24.com saat ditemui di rumah peninggalan Ahmad Yani pada Kamis (18/03/2021).
Bambang Purnawanto berfoto di depan SD Ahmad Yani yang kini telah berganti nama menjadi SD Rendeng.
Bambang menambahkan keputusan regrouping sekolah peninggalan Jenderal Ahmad Yani perlu dikaji ulang karena terkait dengan subtansi sejarah yang ada di sekolah tersebut. Pada awal bulan Februari, Bambang yang sudah mendengar rencana regrouping mengirimkan surat permohonan kepada instansi terkait sesuai arahan dari sekda Purworejo untuk tidak me-regroup SDN Rendeng, yang saat ini siswanya mencapai 81 siswa. Namun sampai saat ini belum ada kejelasan tetkait surat permohonan tersebut walaupun sudah ditembuskan kepada bupati dan dinas terkait.
“Lha ini yang saya sayangkan sampai saat ini belum ada tanggapan, Saya mewakili keluarga sangat-sangat keberatan kalau SD Jendral A Yani yang saat ini dirubah menjadi SDN Rendeng di-regrouping, karena ini penuh dengan perjuangan pak Yani,” ucapnya haru.
Tidak hanya itu Bambang sebagai salah satu keluarga yang diberilan amanah menjaga peninggalan Ahmad Yani menyesalkan sikap pemerintah yang menghilangkan atau mengubah nama sekolah yang yang berdiri sejak tahun 1965 tersebut. Pihaknya menceritakan awal berdirinya sekolah bernama Sekolah Dasar Jendral A. Yani Rendeng namun yang terjadi nama pendiri sekolah tersebut dihapuskan.
Kejadian penghapusan nama Ahmad Yani pada sekolah dasar itu diketahui keluarga belakangan sekitar tahun 2011 ketika papan nama sekolah yang mencantumkan nama sang jendral diturunkan. Setelah dicek oleh pihak keluarga ternyata nama sekolah tersebut sudah berganti menjadi SDN Rendeng dengan surat keputusan bertahun 1975. Hal tersebut membuat keluarga sangat kecewa karena tidak ada pemberitahuan terkait penghapusan nama pendiri yang tidak lain adalan Jenderal Ahmad Yani.
“Dulu namanya SD Jendral Ahmad Yani Rendeng, berjalannya waktu ada perubahan nama yang pihak keluarga tidak tahu menahu karena waktu itu tidak ada pemberitahuan tertulis maupun lisan, tahu-tahu SK sudah berbunyi SD Negeri Rendeng, nama Ahmad Yani sempat dihilangkan sampai sekarang,” katanya.
Pihaknya menyayangkan tidak adanya apresiasi pemerintah terhadap pahlawan nasional yang tidak saja berjuang dalam kemerdekaan namun juga berjuang dalam pendidikan masyarakat. Dari tahun 1975 perubahan nama tersebut baru diketahui pihak keluarga pada tahun 2011.
Pihaknya berharap sekolah yang menjadi tonggak sejarah di Kabupaten Purworejo khususnya di Desa rendeng sendiri tetap bisa dipertahankan untuk tidak di-regrouping. Tidak hanya itu pihak keluarga juga menaruh harapan besar kepada pemerintah untuk mengembalikan nama Jendral Ahmad Yani pada sekolah tersebut agar makna filosofis perjuangan pahlawan nasional tetap abadi.
“Jangan sampai menghilangkan makna filosofis perjuangan beliau,” tandasnya. P24-Bayu)