EkonomiHukumPemerintahanPolitik

“Melayat” di Gedung DPRD, Tak ada Joget Tik-tok di Aksi Demo PMII Purworejo

817
×

“Melayat” di Gedung DPRD, Tak ada Joget Tik-tok di Aksi Demo PMII Purworejo

Sebarkan artikel ini
Seratusan mahasiswa dari PMII Purworejo longmarch menuju gedung DPRD Purworejo. (28/10/2019)
Seratusan mahasiswa dari PMII Purworejo longmarch menuju gedung DPRD Purworejo. (28/10/2019)

PURWOREJO, purworejo24.com – Berbeda dengan aksi demo yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di Purworejo, Jawa Tengah pada 3 Oktober 2019 lalu, demo seratusan mahasiswa yang tergabung dalam PMII Purworejo yang bertepatan dengan Hari Peringatan Sumpah 2019 terkesan lebih serius. Tak ada joget Tik-tok maupun aksi selfie mahasiswa. Para mahasiswa ini bertindak layaknya ta’ziah atau melayat dengan melakukan tahlilan di halaman Gedung DPRD Purworejo, Jawa Tengah.

Aksi demo diawali dengan long march dari Base Camp PMII Purworejo di Jalan Kartini menuju depan kantor bupati. Di depan kantor Bupati Purworejo, sejumlah mahasiswa melakukan orasi mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Sekitar 15 menit, massa yang hampir semuanya menggunakan pakaian hitam-hitam pun melanjutkan perjalanan menuju ke Gedung DPRD.

“Sempat tejadi ketegangan antara mahasiswa dan aparat di depan gerbang kantor DPRD. Peserta aksi dihentikan aparat di depan gerbang dan sempat dihalangi masuk ke gedung dewan,” ungkap Purnama Zafi Najibi Ketua Umum PC PMII Purworejo  kepada purworejo24.com saat ditemui usai acara.

Peserta Demo PMII berorasi di depan Kantor Bupati Purworejo. (28/10/2019)
Peserta Demo PMII berorasi di depan Kantor Bupati Purworejo. (28/10/2019)

Namun akhirnya petugas kepolisian yang dipimpin oleh Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong mengijinkan para peserta aksi masuk ke halaman kantor DPRD. Di halaman kantor DPRD, massa diterima Ketua DPRD Purworejo, Dion Agasi Setyabudi dan sejumlah anggota dewan.

“Hari ini kita tidak memakai atribut yang berlebihan kita akan melayat ke gedung dewan dengan pakaian hitam, hal ini menjadi simbol duka bagi yang peka terhadap kesejahteraan rakyat dan memberikan contoh aksi damai yang tanpa tik tok,” ucapnya

Salah satu peserta aksi pun memimpin tahlilan atau berdoa bersama layaknya mendoakan orang yang meninggal. Dengan posisi duduk bersila di halaman, seratusan mahasiswa ini pun berdoa dengan khidmat. Uniknya, tak hanya para mahasiswa, sejumlah anggota dewan, dan beberapa pegawai di lingkungan DPRD ikut bergabung melakukan tahlilan.

Peserta aksi tahlilan di depan Gedung DPRD Purworejo. (28/10/2019)
Peserta aksi tahlilan di depan Gedung DPRD Purworejo. (28/10/2019)

Usai tahlilan sekitar 150an peserta aksi berniat masuk ke dalam kantor Dewan untuk menyampaikan aspirasi namun tidak dijinkan. Setelah negosiasi akhirnya dibatasi 50 orang peserta aksi yang dijinkan masuk ke gedung dewan.

Purnama Zafi Najibi, Ketua Umum PC PMII Purworejo menyampaikan dalam aksi tersebut PC PMII Purworejo menuntut beberapa hal yang berkaitan dengan persoalan yang dihadapi Kabupaten Purworejo hari ini.

“Tiga tuntutan yang kami ajukan dalam petisi adalah, pertama, segera membatalkan kebijakan pembuatan kalender 2020 dengan anggaran 2,4 M. Kedua, meminta DPRD untuk segera mewujudlan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Purworejo yang lebih mengedepankan kepentingan rakyat. Ketiga, menghimbau DPRD dan pemerintah agar lebih bijak dalam mengambil kebjakan yang pro terhadap rakyat,” katanya.

Menurut Purnama, kegiatan penyampaikan aspirasi masyarakat ini juga sebagai bentuk kontrol PC PMII Purworejo terhadap kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Purworejo selaku legislatif dan pemerintah kabupaten selaku eksekutif.

Baca juga : https://www.purworejo24.com/2019/10/28/peringati-sumpah-pemuda-pmii-purworejo-tuntut-pembatalan-kalender-24-m/

Salah satu peserta demo Tri Mulyo Agbaora mengungkapkan dirinya mengikuti demo tersebut karena sangat prihatin atas apa yang dilakukan oleh Eksekutif dan Legislatif terkait pembuatan kalender. Sehingga Ia dan mahasiswa lain menuju ke DPRD untuk Melayat atas matinya keadilan di Purworejo.

“Kita akan terus berkomitmen memperjuangkan kepentingan masyarakat dan mengawal segala kebijakan yang lahir dari eksekutif maupun legislatif, kita hari ini melayat atas matinya keadilan dan nurani para pemegang kekuasaan yang seakan tuli atas persoalan yang terjadi  di wilayah Kabupaten Purworejo,” tandasnya. (P24-Byu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.