PemerintahanSeni BudayaWisata

Miliki Potensi, Pemdes Ingin Jadikan Desa Banyuurip Sebagai Desa Wisata Religi

1073
×

Miliki Potensi, Pemdes Ingin Jadikan Desa Banyuurip Sebagai Desa Wisata Religi

Sebarkan artikel ini
Cagar Budaya Perigi, Banyuurip Purworejo.
Cagar Budaya Perigi, Banyuurip Purworejo.

BANYUURIP, purworejo24.com- Keinginan untuk membangun desa agar lebih maju dan dikenal masyarakat luas adalah impian semua desa. Termasuk bagi warga Desa Banyuurip, Purworejo Jawa Tengah yang ingin menjadikan Desa Banyuurip sebagai kawasan wisata religi.

Keinginan itu disampaikan oleh Kepala desa Banyuurip, Teguh Susanto, disela kegiatan jalan sehat bersama, dalam rangka kegiatan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) dan Hari Anak Nasional (HAN) tingkat Kabupaten Purworejo, yang dibarengkan dengan kegiatan Bupati Tilik Desa di Desa Banyuurip pada selasa (23/7/2019).

Kedatangan ribuan warga dari berbagai unsur masyarakat meliputi (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) PKKBD, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) se-kabupaten, camat, warga desa dan siswa sekolah se-Kecamatan Banyuurip yang menjadi peserta jalan sehat menjadi peluang bagi pemdes untuk mengenalkan potensi wisata religi yang dimiliki.

Jalan sehat di acara Bupati Tilik desa di Banyuurip, Selasa (23/7/2019)
Jalan sehat di acara Bupati Tilik desa di Banyuurip, Selasa (23/7/2019)

Jalan sehat yang dilepas oleh Asisten Pemerintahan Sekda Purworejo, Sumharjono dimlai dari halaman Kantor Desa Banyuurip, menyusuri jalan jalan kampung yang melewati lokasi wisata religi. Diantaranya ke Lumbung Suroyasan sembari melakukan penebaran benih ikan, ke komplek Sumur Bejo dan Makam Perigi sambil menyaksikan pembuatan bati serta penanaman pohon dan dilanjutkan menyusuri jalan jalan desa hingga finish di lapangan Dukuh. Di lapangan itu peserta dengan jumlah sekitar 3.000 peserta berkesempatan menikmati hiburan organ tunggal dan tarian Ndolalak yang disuguhkan panitia sembari menanti undian hadiah yang telah disediakan panitia.

“Potensi yang dimiliki Desa Banyuurip bisa tergali, dan memang kita ada ketertinggalan selangkah dengan desa lain, makanya dengan keberadaan sejarah asal usul Desa Banyuurip berupa petilasan, masjid tiban serta sumur yang ada, kita ingin membangun konsep wisata religi dan sektor pertanian di desa ini,” ungkap kepala desa Banyuurip, Teguh Susanto.

Dikisahkan, pada zaman dulu, terdapat cerita bahwa Putra Selir Raden Brawijaya bernama Pangeran Joyo Kusuma dan Nyi Galuhwati setiap hari adu gemek. Akhirnya mereka dipanggil dan diusir dari kraton lalu melakukan perjalanan hingga sampai di wilayah Banyuurip.

“Nyi Galuh haus dan menancapkan keris lalu keluar air. Kemudian mereka membuat sumur tinatah dan sumur beji. Dimana sumur itu tidak pernah kering. Maka wilayah ini kemudian dinamakan Banyuurip,” jelasnya.

Dengan memiliki potensi berupa peninggalan sejarah itu, pemdes berniat akan melakukan penataan, peningkatan infrastruktur dan rehabilitasi sehingga lokasi itu bisa menjadi ramai dan makin banyak dikunjungi sebagai wisata religi.

“Desa ini ada yang namanya Mesjid Tiban Nurul huda, Pasar Senen yang hanya digunakan pada hari Senin, Sumur Tinatah, sumur yang dibikin dengan tatah dan beji, Perigi petilasan Joyo Kusumo. Maka kami bermimpi untuk menghidupkan konsep wisata religi di desa ini,” ujarnya.

Sejumlah langkah telah dan akan dilakukan oleh pemdes, salah satunya dengan melakukan normalisasi sungai, rehabilitasi di lokasi pasar dan petilasan serta membuat sumur bor untuk lahan pertanian.

“Harapannya ada peran serta dari masyarakat dan dukungan dari pemerintah serta berbagai pihak, agar konsep desa wisata religi Desa Banyuurip bisa terwujud,” tutupnya. (P24-Drt)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.