PITURUH, purworejo24.com – Selain terkenal dengan tari Dolalak, Purworejo juga mempunyai kesenian lain yang tidak kalah unik yaitu Cepetan. Kesenian yang awalnya mempunyai nilai-nilai magis ini, hingga kini masih ada kendati hanya tampil saat-saat tertentu saja.
Salah satu kelompok kesenian Cepetan (huruf e dibaca seperti pada kata bebek) yang masih ada hingga kini salah satunya berada di Desa Prapaglor, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Ponijan (60), salah satu sosok sesepuh kesenian Cepetan menyatakan tarian ini sudah ada di Pituruh sejak puluhan tahun lalu.
“Kelompok kesenian ini tidak ada yang mengetahui tanggal persisnya didirikan, namun sejak tahun 1985 an sudah ada, ” ucapnya Minggu (14/7/2019) pagi.
Cepetan juga mempunyai nama lain yaitu Gobyugan. Kesenian ini, konon awalnya berasal dari tarian Ronggeng. Seiring berjalannya waktu, tarian ini mengikuti perkembangan zaman dan muncul beberapa kreasi baru. Awalnya, alat musik yang digunakan sangat sederhana, yaitu hanya menggunakan Gamelan Jawa dan Gong Bumbung. Namun saat ini alat musik yang dipakai sudah dikreasikan dengan tambahan alat musik calung.

Pemain memakai topeng, kostum lucu, yang mengundang gelak tawa bagi orang yang melihatnya. Ada salah satu pemain yang membawa bendera merah putih dengan mempunyai makna sebagai wujud melestarikan kesenian lokal yang berada di Indonesia.
“Kesenian ini juga terus kami kembangkan kreasinya supaya orang yang melihat tidak bosan dengan tariannya,” lanjutnya.
Anggota kelompok kesenian ini terdiri dari 13 orang, yang sudah turun temurun hingga generasi ke dua. Saat ini kelompok Cepetan diketuai oleh bapak Suroso warga RT 02 RW 04, Dukuh Bojongankidul, Desa Prapaglor.
Dulu, kesenian ini hanya tampil dan bermain dalam acara tertentu, seperti sedekah bumi, acara desa seperti penyambutan tamu yang digelar oleh kepala desa. Namun sekarang bisa disaksikan pada acara karnaval, pawai ta’aruf khotmil qur’an dan acara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di beberapa desa di Kecamatan Pituruh.

Slamet (45), salah satu pemain cepetan mengaku, bergabung dengan kesenian ini tidak lain sebagai upaya nguri-uri kebudayaan lokal yang ada didesa tercinta. Slamet berharap pemerintah mau ikut andil dalam pengembangan seni dan budaya yang ada di daerahnya
“Jangan sampai kesenian ini punah tanpa ada generasi penerus, dan kami berharap pemerintah ikut berkontribusi dalam pengembangan budaya masyarakat ini ” tutupnya. (P24-Byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







