PURWOREJO, purworejo24.com – Penyandang disabilitas didorong tidak hanya menjadi kelompok yang membutuhkan perlindungan saat terjadi bencana, tetapi juga berperan aktif dalam upaya pengurangan risiko dan penanggulangan bencana. Untuk mewujudkan hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Disabilitas dalam Penanggulangan Bencana Tahun Anggaran 2026 di Kedai Satu-Satu Purworejo, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Purworejo Hj Yuli Hastuti SH tersebut diikuti 30 peserta dari organisasi Purworejo Disabilitas Tangguh (PORDISTA). Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya membangun penanggulangan bencana yang inklusif dengan melibatkan penyandang disabilitas sebagai mitra strategis pemerintah daerah.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Purworejo, Wasit Diono, S.Sos., mengatakan, peningkatan kapasitas tersebut bertujuan memperkuat pengetahuan dan keterampilan anggota PORDISTA agar semakin profesional dalam mendukung pelayanan kebencanaan, khususnya bagi sesama penyandang disabilitas.
“Pengurus PORDISTA ini kami latih agar bertambah ilmu dan keterampilannya. Ke depan, mereka diharapkan semakin profesional dan bisa menjadi mitra BPBD apabila sewaktu-waktu terjadi bencana, terutama dalam memberikan pelayanan khusus kepada penyandang disabilitas,” ungkap Wasit.
Menurutnya, keterlibatan penyandang disabilitas dalam penanggulangan bencana sangat penting. Mereka dinilai memiliki pemahaman dan pengalaman yang lebih baik dalam mengenali kebutuhan serta pendekatan pelayanan kepada sesama penyandang disabilitas, termasuk dari sisi psikologis.
Materi pelatihan meliputi kebijakan penanggulangan bencana daerah, pengenalan potensi ancaman bencana di Kabupaten Purworejo, peran penyandang disabilitas dalam penanggulangan bencana, pemenuhan hak kemanusiaan dan aksesibilitas, serta pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
Narasumber berasal dari praktisi kebencanaan YAKKUM Emergency Unit (YEU) Daerah Istimewa Yogyakarta dan BPBD Kabupaten Purworejo.
Wasit berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas pelatihan formal. Para peserta diharapkan dapat mengembangkan dan mempraktikkan ilmu yang diperoleh secara mandiri, tetap dalam pendampingan BPBD.
“Harapan kami, ini bukan sekadar latihan formalitas. Dengan waktu yang terbatas, peserta nantinya bisa terus belajar dan berlatih di luar kegiatan, di bawah binaan BPBD. Sehingga ilmu yang didapat benar-benar bermanfaat untuk ke depannya,” tegasnya.
Selain penguatan kapasitas masyarakat, BPBD Purworejo juga mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi peralihan musim kemarau menuju musim hujan.
Wasit menyampaikan, berdasarkan perkiraan BMKG, hujan diprediksi mulai turun pada dasarian kedua November atau sekitar 10 November 2026. Namun, pada tahap awal, hujan diperkirakan belum merata dan puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Januari hingga Februari 2027.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD telah menyampaikan imbauan melalui surat edaran Bupati kepada para camat untuk diteruskan kepada kepala desa. Masyarakat diminta melakukan langkah antisipasi guna mengurangi potensi banjir dan tanah longsor.
Salah satunya dengan membersihkan saluran air dari sampah dan kotoran yang berpotensi menghambat aliran air. Warga yang tinggal di kawasan rawan longsor juga diminta memperhatikan kondisi lingkungan, termasuk menutup rongga atau retakan tanah yang berpotensi menjadi jalur masuknya air.
Selain itu, masyarakat diimbau memeriksa kondisi pohon-pohon besar di sekitar rumah. Pohon yang berpotensi tumbang akibat angin kencang perlu diantisipasi agar tidak membahayakan keselamatan warga.
Dari sisi kesiapan operasional, BPBD telah melakukan pemeriksaan dan servis terhadap peralatan pendukung penanganan bencana, baik peralatan berat seperti ekskavator maupun peralatan ringan dan mesin pemotong.
“Peralatan sudah kami siapkan. Baik alat berat maupun peralatan lainnya sudah kami servis, sehingga apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi yang tidak diinginkan di lapangan, kami siap melakukan penanganan,” jelasnya.
Di tengah persiapan menghadapi musim hujan, BPBD juga masih melanjutkan pelayanan distribusi air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.
Berdasarkan data per 3 November 2026 pukul 16.00 WIB, total distribusi air bersih telah mencapai 3,3 juta liter yang disalurkan ke 58 desa di 12 kecamatan. Jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai sekitar 15.000 jiwa.
Wasit menegaskan, distribusi air bersih akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan dan sumber air di wilayah terdampak belum mencukupi.
“Selama masyarakat masih membutuhkan, kami tetap melayani dropping air bersih. Masyarakat tidak perlu khawatir karena anggaran untuk pelayanan distribusi air bersih di Kabupaten Purworejo masih mencukupi,” katanya.
Ia menambahkan, meskipun hujan mulai turun, hal tersebut tidak serta-merta mengakhiri kondisi kekeringan. BPBD masih melakukan distribusi air di sejumlah wilayah, termasuk Donorejo dan Hardimulyo.
Melalui peningkatan kapasitas PORDISTA, kesiapan personel dan peralatan, serta keterlibatan masyarakat dalam mitigasi bencana, BPBD Purworejo berharap terbangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh dan inklusif.
Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar kelompok yang harus dilindungi ketika bencana terjadi, melainkan juga memiliki potensi dan peran penting dalam membangun ketangguhan masyarakat. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









