Sosial

BMT Binamas Purworejo Resmikan Sumur Wakaf di Desa Karangluas, Kemiri, Warga Kini Bisa Manfaatkan Air untuk Kebutuhan Masjid

2
×

BMT Binamas Purworejo Resmikan Sumur Wakaf di Desa Karangluas, Kemiri, Warga Kini Bisa Manfaatkan Air untuk Kebutuhan Masjid

Sebarkan artikel ini
Sumur wakaf Tirta Binamas di Desa Karangluas, Kecamatan Kemiri resmi digunakan warga
Sumur wakaf Tirta Binamas di Desa Karangluas, Kecamatan Kemiri resmi digunakan warga

KEMIRI, purworejo24.com – Di tengah kemarau panjang yang masih melanda Kabupaten Purworejo, keberadaan sumber air bersih menjadi harapan besar bagi masyarakat. Kehadiran sumur wakaf di Masjid Al Hidayah, Desa Karangluas, Kecamatan Kemiri, menjadi berkah tersendiri bagi jamaah dan warga sekitar yang selama ini menghadapi keterbatasan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sumur wakaf yang dibangun melalui program Baitul Maal BMT Binamas Purworejo tersebut diresmikan pada Selasa (20/10/2026).

Peresmian dilakukan oleh Direktur Utama BMT Binamas Purworejo, H. Karsiwi Tri Setyantoro, ditandai dengan penandatanganan prasasti dan serah terima sumur dari BMT Binamas kepada pengelola Masjid Al Hidayah.

Dalam kesempatan itu, Karsiwi juga meninjau langsung sumur yang telah selesai dibangun dan siap dimanfaatkan. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Muspika Kemiri, Pemerintah Desa Karangluas, para donatur, tokoh masyarakat, takmir masjid, serta warga setempat.

Kepala Divisi Baitul Maal BMT Binamas, Agus Arifin, mengatakan pembangunan sumur wakaf merupakan bagian dari program sosial untuk membantu masyarakat memperoleh akses air bersih, terutama ketika menghadapi musim kemarau panjang.

Menurutnya, program sumur wakaf telah berjalan sejak sekitar 2010-an dan pembangunan di Masjid Al Hidayah menjadi titik ketujuh yang direalisasikan Baitul Maal BMT Binamas.

“Alhamdulillah, untuk tahun ini pembangunan sumur wakaf bisa dilaksanakan di Desa Karangluas, Kecamatan Kemiri. Selain pembangunan sumur, kami juga memiliki program penyaluran air bersih atau dropping air ke daerah-daerah yang mengalami kekurangan air,” kata Agus.

Ia menjelaskan, pembangunan sumur dimulai sekitar dua pekan sebelum peresmian. Proses pengeboran sempat menghadapi kendala karena titik pertama pada kedalaman sekitar 70 meter belum menemukan sumber air.

Pengeboran kemudian dilanjutkan pada titik kedua. Pada kedalaman sekitar 63 meter, sumber air akhirnya ditemukan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan berdasarkan kesepakatan bersama warga.

Meski debit airnya belum maksimal, sumber air tersebut dinilai sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar masjid dan mulai dimanfaatkan masyarakat.

“Alhamdulillah, pada titik kedua di kedalaman 63 meter sudah ada airnya. Walaupun volumenya belum terlalu maksimal, air sudah bisa masuk ke tandon dan disalurkan ke Masjid Al Hidayah. Harapannya, air ini dapat dimanfaatkan jamaah maupun masyarakat di lingkungan masjid,” jelasnya.

Agus mengungkapkan, biaya pengeboran sumur hingga menemukan sumber air, termasuk pipa dan mesin, berkisar Rp15 juta hingga Rp16 juta. Sementara itu, kebutuhan instalasi tambahan berupa tandon, jaringan pipa penyaluran, keran, dan perlengkapan lainnya membuat total biaya pembangunan diperkirakan mencapai Rp20 juta hingga Rp25 juta.

Besaran biaya tersebut menyesuaikan kapasitas tandon serta panjang jaringan pipa yang dibutuhkan.

Adapun Desa Karangluas dipilih setelah adanya pengajuan proposal dari masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti melalui survei dan analisis kelayakan lokasi.

“Kami melakukan asesmen dan mengecek lokasi untuk memastikan apakah memungkinkan dilakukan pengeboran. Setelah melalui proses analisis dan komunikasi di kantor, akhirnya program sumur wakaf ini disetujui,” ungkapnya.

Agus menambahkan, pembangunan sumur wakaf menjadi salah satu bentuk kepedulian Baitul Maal BMT Binamas terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya saat kemarau berlangsung cukup panjang.

Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak wilayah yang membutuhkan akses air bersih.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur sumur wakaf. Semoga menjadi amal jariyah bagi semuanya. Kami berharap sumur ini benar-benar bermanfaat bagi jamaah dan masyarakat, serta ke depan kami bisa kembali membangun sumur di tempat lain,” tuturnya.

Selain program sumur wakaf dan distribusi air bersih, Baitul Maal BMT Binamas juga menjalankan berbagai program sosial lainnya, termasuk pemberdayaan masyarakat dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Serah terima sumur wakaf Tirta Binamas oleh H. Karsiwi Tri Setyantoro kepada pengurus masjid Al Hidayah
Serah terima sumur wakaf Tirta Binamas oleh H. Karsiwi Tri Setyantoro kepada pengurus masjid Al Hidayah

Manfaat sumur wakaf tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Susianto, salah seorang warga yang mewakili jamaah Masjid Al Hidayah, mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan BMT Binamas.

Ia menilai kehadiran sumur tersebut membawa perubahan nyata bagi aktivitas ibadah dan kehidupan masyarakat di sekitar masjid.

“Kami mengucapkan terima kasih sekali. Kami juga merasa terharu karena di tengah kondisi yang sekering ini ternyata masih ada mata air yang bisa dikeluarkan. Bagi kami, dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada air merupakan karunia Allah SWT,” ungkap Susianto.

Menurutnya, sebelum sumur tersebut tersedia, keterbatasan air membuat jamaah harus memprioritaskan penggunaannya untuk kebutuhan yang paling mendesak. Bahkan, untuk membersihkan lantai masjid menggunakan air, warga harus mempertimbangkan ketersediaan air yang ada.

Kini, setelah sumur mulai mengalir, jamaah dapat memanfaatkan air untuk membersihkan masjid dengan lebih leluasa.

“Dengan adanya sumur ini, tadi malam kami sudah berani mengepel masjid bersama-sama menggunakan air dari sumur tersebut. Itu bukti nyata bahwa bantuan ini sangat bermanfaat. Selama ini, air hanya digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar primer,” katanya.

Susianto menambahkan, air dari sumur tersebut juga mulai dimanfaatkan sejumlah kepala keluarga untuk mengisi bak penampungan di rumah masing-masing. Meski instalasi jaringan menuju rumah warga belum sepenuhnya selesai, keberadaan sumber air itu telah memberikan harapan baru bagi masyarakat.

Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya berhenti pada penyediaan air bersih, tetapi juga membuka peluang kerja sama dalam bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kami berharap ke depan ada pula pembinaan usaha atau pengembangan ekonomi bagi warga. Dengan begitu, kerja sama antara BMT Binamas dan masyarakat bisa semakin berkembang serta memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.

Pembangunan sumur wakaf di Masjid Al Hidayah menunjukkan bahwa wakaf dapat diwujudkan dalam bentuk yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Tidak hanya mendukung kebutuhan ibadah, ketersediaan air juga membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menjaga kebersihan lingkungan.

Di tengah kemarau panjang, sumber air tersebut menjadi aset bersama yang perlu dijaga dan dimanfaatkan secara bijaksana agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Bagi warga Desa Karangluas, sumur wakaf ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan juga wujud kepedulian sosial dan gotong royong yang menghadirkan harapan di tengah keterbatasan.

Melalui program tersebut, Baitul Maal BMT Binamas berharap semakin banyak masyarakat yang terbantu, sekaligus mengajak para donatur untuk terus berkontribusi dalam menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi sesama. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.