PURWOREJO, purworejo24.com – Perum Jasa Tirta I bersama Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo melakukan pengerukan sedimentasi di Bendung Boro, Purworejo.
Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk mengembalikan fungsi bendung, meningkatkan daya tampung air, sekaligus menjaga pasokan air baku bagi masyarakat.
Pengerukan yang dikoordinasikan dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak tersebut menyasar endapan sedimentasi yang selama bertahun-tahun menumpuk di Bendung Boro. Pada tahap pertama, volume sedimentasi yang dikeruk mencapai 1.000 meter kubik dengan perkiraan waktu pengerjaan sekitar tujuh hari menggunakan satu unit alat berat.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo, Hermawan Wahyu Utomo, S.T., M.Si., mengatakan pengerukan dilakukan untuk mengantisipasi dampak penumpukan sedimentasi, terutama menjelang musim hujan.
“Ini merupakan upaya PDAM bekerja sama dengan Jasa Tirta di bawah koordinasi BBWS Serayu Opak untuk menormalisasi atau merevitalisasi Bendung Boro. Sedimentasinya sudah lama menumpuk dan belum ada pengerukan, sehingga dikhawatirkan mengganggu fungsi bendung,” jelas Hermawan, saat ditemui dilokasi pekerjaan, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, penumpukan sedimentasi tidak hanya mengurangi kapasitas tampungan air, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kerusakan tebing dan sempadan sungai ketika debit air meningkat saat musim hujan.
Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada bangunan pengambilan air (intake) PDAM. Karena itu, pengerukan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar pasokan air baku dan pelayanan kepada pelanggan tetap terjaga.
Hermawan menjelaskan, Bendung Boro memiliki peran strategis dalam mendukung kebutuhan air, baik untuk irigasi maupun penyediaan air baku PDAM. Bendung tersebut memiliki cakupan layanan irigasi sekitar 5.126 hektare.
Sementara itu, untuk kebutuhan air bersih, Bendung Boro 1 dan Bendung Boro 2 menjadi salah satu sumber air baku bagi wilayah Purworejo, Banyuurip, Purwodadi, hingga kawasan timur Sungai Bogowonto, termasuk Cangkrep dan Sidomulyo.
“Harapannya, melalui pengerukan ini, daya rusak air bisa dikurangi, terutama saat banjir. Selain itu, kapasitas tampungan dan cadangan air baku dapat meningkat sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat Purworejo tidak terganggu,” ungkapnya.
Ia berharap pengerukan tidak berhenti pada tahap pertama. Mengingat sedimentasi telah menumpuk dalam waktu lama, pemeliharaan Bendung Boro diharapkan dapat dilakukan secara bertahap setiap tahun hingga fungsinya kembali optimal.
Hermawan juga menyebutkan, sedimentasi yang terbawa dari kawasan hulu, termasuk dampak pembangunan Bendung Bener, turut mempercepat penumpukan endapan di Bendung Boro.
Sementara itu, Pelaksana Pengusahaan Perum Jasa Tirta I, Rofi Budiarto, mengatakan pengerukan tersebut merupakan bagian dari program kerja sama dengan BBWS Serayu Opak selaku pemilik wilayah sungai.
“Untuk kegiatan pengerukan ini memang merupakan program kami bersama BBWS Serayu Opak. Perum Jasa Tirta I sebagai BUMN pengelola sumber daya air mendapat penugasan untuk ikut mengelola wilayah sungai, termasuk di Bendung Boro,” jelas Rofi.
Ia menerangkan, penentuan lokasi pengerukan dilakukan berdasarkan sinkronisasi program antara Perum Jasa Tirta I dan BBWS Serayu Opak setiap tahun. Pada 2026, Bendung Boro menjadi salah satu lokasi yang mendapat penugasan.
Menurut Rofi, kegiatan tersebut merupakan hasil koordinasi yang telah berlangsung cukup lama dengan PDAM Tirta Perwitasari. Usulan itu kemudian diperkuat melalui surat Bupati Purworejo kepada BBWS Serayu Opak pada 2025.
“Setelah dikoordinasikan dan disinkronisasikan dengan BBWS, akhirnya kegiatan pengerukan di Bendung Boro ini bisa dilaksanakan pada 2026,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Perum Jasa Tirta I hanya melakukan pengerukan dan memindahkan material sedimentasi dari tampungan bendung ke tanggul. Material tersebut tidak dikeluarkan dari kawasan karena merupakan aset BBWS.
Rofi menambahkan, kegiatan pengerukan merupakan bagian dari program pemeliharaan sumber daya air yang dilaksanakan Perum Jasa Tirta I di sejumlah wilayah. Namun, lokasi pengerjaan setiap tahun disesuaikan dengan hasil koordinasi bersama BBWS.
Selain pengerukan Bendung Boro, PDAM Tirta Perwitasari juga merencanakan kerja sama konservasi sumber mata air di wilayah Loano dan sekitarnya. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan sumber air melalui pemeliharaan mata air dan penanaman vegetasi konservasi.
Melalui kolaborasi antara PDAM, Perum Jasa Tirta I, dan BBWS Serayu Opak, revitalisasi Bendung Boro diharapkan tidak hanya menjaga infrastruktur sungai, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan air baku bagi masyarakat Purworejo. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









