PURWOREJO, Purworejo24.com – Sebanyak sekitar 1.000 guru dari jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP di Kabupaten Purworejo mengikuti Seminar Nasional dan Roadshow “How To Be a Great Teacher” yang digelar di Auditorium Kasman Singodimejo Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP), Jumat (7/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi DPD Teacherpreneur Nusantara (TPN) Jawa Tengah bersama Komisi Nasional Pemuda Indonesia (KPNPI) Kabupaten Purworejo dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo serta Kementerian Agama Kabupaten Purworejo.
Ketua DPD TPN Jawa Tengah, Slamet Muridan,M,M mengatakan seminar ini digelar sebagai bagian dari roadshow nasional untuk memperkuat kualitas guru dalam menghadapi tantangan pendidikan modern dan menyiapkan Generasi Emas 2045.
“Pagi dan siang ini ada kurang lebih sekitar 1.000 guru di Purworejo yang didukung Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama dalam rangka roadshow Jawa Tengah dan nasional,” ujar Slamet saat ditemui di sela kegiatan.
Menurut dia, persoalan guru saat ini semakin kompleks. Salah satu tantangan terbesar adalah perubahan perilaku generasi muda yang sangat dekat dengan teknologi digital.
“Nyuwun sewu, guru hari ini kadang tidak lebih menarik daripada HP. Anak-anak lebih tertarik pada telepon genggam daripada gurunya,” kata Slamet.
Ia menilai masih terdapat kesenjangan antara cara mengajar sebagian guru dengan karakter peserta didik masa kini yang berasal dari Generasi Z hingga Generasi Alpha.
“Masih banyak guru yang mendidik dengan pola lama, seperti kolonial, belum menyesuaikan kondisi anak-anak sekarang. Padahal yang kita hadapi sudah Generasi Alpha,” ujarnya.
Karena itu, seminar difokuskan pada guru pendidikan dasar dan pendidikan anak usia dini. Menurut Slamet, fase PAUD hingga SMP merupakan masa penting pembentukan karakter, pola pikir, dan keteladanan anak.
Ia menegaskan bahwa mengajar tidak boleh sekadar menjadi formalitas. Guru juga diminta mampu memisahkan persoalan pribadi dari tugas mendidik di sekolah.
“Ketika berangkat ke sekolah dan bertemu murid, semua permasalahan pribadi harus dihilangkan dulu karena guru adalah contoh terbaik bagi anak didiknya,” tuturnya.
Selain membahas teknik mengajar yang lebih komunikatif dan menyenangkan, kegiatan itu juga menyoroti cara pandang guru terhadap kecerdasan siswa.
Slamet mencontohkan pelajaran matematika yang sering dianggap sulit dan membuat banyak siswa tidak menyukainya. Ia berharap guru tidak hanya menilai kecerdasan dari satu sudut pandang akademik semata.
“Kita ingin guru memahami bahwa setiap anak punya kompetensi dan kecerdasannya masing-masing. Tidak semua harus unggul di matematika,” katanya.
Seminar tersebut menghadirkan Syafii Efendi, M.M., President & Founder IEC, President Indonesian BRICS Youth Forum, sekaligus President Islamic Young Economic Forum.
Dalam pemaparannya, Syafii menekankan pentingnya perubahan pola pikir guru agar tidak hanya sukses dalam aspek pengabdian, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi.
“Guru itu pekerjaannya sangat bernilai akhirat. Banyak yang gajinya kecil tetapi tetap bertahan. Yang perlu diperbaiki adalah mindset agar mereka juga bisa sukses di dunia,” ujar Syafii.
Ia menilai profesi guru tidak harus identik dengan keterbatasan ekonomi. Menurut dia, guru dapat mengembangkan keterampilan kewirausahaan tanpa meninggalkan tugas utama sebagai pendidik.
“Selain menjadi guru, mereka bisa menjadi entrepreneur. Yang penting pola pikirnya diubah terlebih dahulu,” katanya.
Syafii juga menyinggung kondisi guru honorer yang masih menghadapi persoalan kesejahteraan serta tingginya tekanan ekonomi di kalangan tenaga pendidik.
“Persoalan ini nyata dan perlu solusi jangka panjang. Hari ini kami mulai dari perubahan mindset dulu,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihato menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Seminar Nasional “How To Be a Great Teacher” yang dinilai menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas bagi para pendidik di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Ia menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga bagaimana guru mampu membentuk karakter, membangun kreativitas, serta menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik sejak usia dini.
Kepala dinas juga menyoroti pentingnya kemampuan guru untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan karakter generasi muda yang terus berubah.
Ia berharap para guru tidak berhenti belajar dan terus meningkatkan kompetensi, baik dalam metode pembelajaran, komunikasi dengan siswa, maupun pemanfaatan teknologi digital dalam proses pendidikan.
“Guru harus mampu menjadi sosok yang inspiratif, dekat dengan peserta didik, dan hadir sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang berkualitas lahir dari guru yang terus mau belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya (P24-byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









