Pendidikan

Rembugan Bocah Purworejo Jadi Ruang Anak Sampaikan Aspirasi, dari Perundungan hingga Ruang Ramah Anak

22
×

Rembugan Bocah Purworejo Jadi Ruang Anak Sampaikan Aspirasi, dari Perundungan hingga Ruang Ramah Anak

Sebarkan artikel ini
Saat kegiatan
Saat kegiatan

PURWOREJO, purworejo24.com – Anak-anak di Kabupaten Purworejo tidak hanya menjadi objek yang harus dilindungi, tetapi juga memiliki hak untuk didengar, menyampaikan pendapat, serta terlibat dalam pembangunan daerah. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Rembugan Bocah Purworejo (RBP) Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Kabupaten Purworejo, Selasa (4/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian sekaligus puncak rangkaian Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Kabupaten Purworejo Tahun 2026. Mengusung tema HAN 2026 “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, RBP tahun ini mengambil tema “Bangun Ketahanan Mental Anak, Wujudkan Generasi Tangguh dan Berdaya.”

RBP diikuti sekitar 300 peserta yang merupakan perwakilan siswa SMP/MTs, SMA/SMK/MA dari seluruh Kabupaten Purworejo. Kegiatan juga dihadiri jajaran perangkat daerah, camat, Forum Komunikasi Anak Kabupaten Purworejo (FORKARE), Forum Anak Kecamatan, Forum OSIS, Forum PMI, Forum Genre, Forum Makna, serta berbagai unsur terkait lainnya.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi sekaligus merumuskan gagasan dan solusi yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Purworejo dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih ramah anak.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3APMD Kabupaten Purworejo, Heni Safaryuni Tataningsih, S.H., M.A.P., mengatakan Rembugan Bocah Purworejo merupakan wadah untuk menampung aspirasi anak-anak.

Rembugan Bocah ini untuk menampung aspirasi, sebagai wadah aspirasi anak-anak Kabupaten Purworejo untuk menyampaikan ide, pendapat, atau sarannya untuk kemajuan Kabupaten Purworejo,” katanya.

Menurut Heni, hasil rembugan tersebut kemudian dirumuskan menjadi Suara Anak Purworejo. Aspirasi tersebut selanjutnya disampaikan kepada Bupati Purworejo dan seluruh perangkat daerah agar dapat menjadi salah satu masukan dalam proses perencanaan pembangunan pada tahun-tahun mendatang.

Dengan demikian, RBP tidak berhenti pada forum diskusi semata. Aspirasi yang disampaikan anak-anak diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembangunan, terutama kebijakan yang berkaitan dengan pemenuhan hak, perlindungan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga ruang tumbuh dan berkembang anak.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak menyampaikan sekitar 10 poin aspirasi yang menjadi perhatian mereka.

Salah satunya berkaitan dengan peningkatan akses literasi dan perpustakaan. Anak-anak menilai masih ada pelajar di wilayah pelosok yang mengalami keterbatasan akses untuk menjangkau fasilitas perpustakaan daerah.

Karena itu, mereka mendorong agar akses terhadap bahan bacaan dan fasilitas literasi dapat semakin mudah dijangkau oleh anak-anak di berbagai wilayah Kabupaten Purworejo.

Aspirasi tersebut dinilai penting mengingat literasi bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, mengolah pengetahuan, dan mengambil keputusan secara bijak.

Selain persoalan literasi, anak-anak juga menyuarakan pentingnya ruang bermain yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Ruang publik yang ramah anak diharapkan tidak hanya tersedia secara fisik, tetapi juga memenuhi aspek keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, serta dapat digunakan oleh anak dengan berbagai kondisi dan kebutuhan.

Aspirasi lainnya berkaitan dengan kawasan tanpa rokok. Anak-anak berharap penerapan kawasan tanpa rokok benar-benar berjalan sebagaimana ketentuannya sehingga mereka dapat tumbuh di lingkungan yang lebih sehat.

Heni mengatakan, sejumlah aspirasi tersebut menjadi bagian dari Suara Anak Purworejo yang diharapkan mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun perangkat daerah terkait.

Setidaknya ada sekitar 10 Suara Anak. Salah satunya kawasan bebas rokok, akses Perpustakaan Kabupaten Purworejo yang didekatkan, kemudian taman bermain ramah anak, dan beberapa aspirasi lainnya,” jelasnya.

Di tengah berbagai aspirasi pembangunan, persoalan perundungan atau bullying juga menjadi isu yang masih mendapat perhatian serius dari anak-anak Purworejo.

Ketua Forum Komunikasi Anak Kabupaten Purworejo, Sachio Rohman Putra, mengatakan perundungan masih menjadi salah satu persoalan yang cukup relevan di lingkungan anak dan pelajar.

Menurutnya, pencegahan perundungan tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah atau sekolah. Diperlukan keterlibatan anak, keluarga, guru, masyarakat, dan berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan yang aman.

FORKARE bersama pihak terkait selama ini terus melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai pencegahan perundungan dengan pendekatan yang dapat dipahami dan diterima anak-anak.

Upaya tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran bahwa perundungan bukan sekadar persoalan bercanda antarteman, tetapi dapat memberikan dampak terhadap rasa aman, kenyamanan, serta perkembangan anak.

Karena itu, anak-anak juga didorong untuk berani bersuara apabila mengalami atau mengetahui tindakan kekerasan maupun perundungan.

Pesan serupa disampaikan Bupati Purworejo Hj. Yuli Hastuti, S.H. dalam sambutan yang disampaikan Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kabupaten Purworejo, Rita Purnama, S.STP., M.M.

Bupati menegaskan bahwa anak bukan hanya pihak yang harus dilindungi, tetapi juga harus dihargai dan didengar pendapatnya.

Jangan takut untuk menyampaikan pendapat. Suara kalian penting bagi kami,” demikian pesan Bupati dalam sambutannya.

Melalui Rembugan Bocah, aspirasi anak-anak diharapkan dapat dirumuskan menjadi Suara Anak Purworejo yang kemudian menjadi bahan masukan bagi Pemerintah Kabupaten Purworejo dalam membuat kebijakan yang semakin berpihak kepada kepentingan anak.

Bupati juga mendorong anak-anak untuk menjadi pelopor dan pelapor.

Anak-anak diharapkan menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Sementara sebagai pelapor, mereka didorong untuk tidak takut bercerita atau melapor apabila mengalami maupun melihat kekerasan dan perundungan.

Pelaporan dapat dilakukan kepada orang tua, guru, maupun orang dewasa yang dipercaya.

Pemerintah Kabupaten Purworejo berkomitmen untuk terus memenuhi hak dan memberikan perlindungan kepada anak. Partisipasi kalian sangat penting dalam upaya bersama mewujudkan Kabupaten Purworejo sebagai Kabupaten Layak Anak,” pesan Bupati.

Persoalan perlindungan anak menjadi semakin penting karena kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih ditemukan di Kabupaten Purworejo.

Heni Safaryuni mengatakan, berdasarkan data penanganan yang masuk ke UPT hingga periode yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, terdapat sekitar 73 kasus terkait perempuan dan anak, dengan mayoritas korban merupakan anak.

Angka tersebut menjadi pengingat bahwa upaya perlindungan anak masih membutuhkan kerja bersama dan tidak boleh berhenti pada kegiatan sosialisasi.

Menurutnya, perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga, sekolah, pertemanan, serta lingkungan masyarakat.

Anak juga perlu dibekali pengetahuan mengenai hak-haknya, kemampuan mengenali situasi yang tidak aman, serta keberanian mencari bantuan kepada orang dewasa yang dapat dipercaya.

Harapan kami selaku DP3APMD terkait dengan perlindungan anak, kami ingin anak-anak Purworejo dapat melindungi dirinya sendiri, sadar akan dirinya sendiri untuk melindungi diri sendiri dan juga melindungi bersama, sayangi teman,” ujarnya.

Dalam Rembugan Bocah Purworejo, peserta tidak sekadar mengikuti acara seremonial. Mereka dibagi dalam kelompok atau klaster untuk mendiskusikan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan pemenuhan hak anak dan Kabupaten Layak Anak.

Sachio menjelaskan, terdapat lima klaster pembahasan yang menjadi ruang bagi para peserta untuk menyampaikan pandangan, persoalan, serta solusi.

Pembahasan tersebut berkaitan dengan berbagai isu hak anak dan implementasi prinsip-prinsip pemenuhan hak anak.

Salah satu materi yang turut diberikan dalam kegiatan tersebut adalah mengenai Suara Anak, yang disampaikan oleh Mastri Imammusadi, S.H., yang sebelumnya juga pernah menjadi bagian dari Forum Anak.

Materi tersebut menjadi bekal bagi peserta sebelum masuk ke sesi diskusi. Setiap kelompok kemudian diharapkan dapat menghasilkan gagasan yang konkret dan relevan untuk dirumuskan menjadi aspirasi anak.

Sachio menjelaskan bahwa Suara Anak Purworejo yang dideklarasikan dalam kegiatan tersebut merupakan hasil dari proses yang cukup panjang.

Aspirasi tidak hanya dikumpulkan melalui Rembugan Bocah Purworejo tahun sebelumnya, tetapi juga melalui Google Form atau angket yang disebarkan melalui media sosial dan sekolah.

Dengan mekanisme tersebut, suara yang dihimpun diharapkan dapat mewakili lebih banyak anak di berbagai wilayah Purworejo, bukan hanya peserta yang hadir dalam kegiatan RBP.

Menariknya, hasil RBP tahun ini akan menjadi salah satu bahan untuk penyusunan Suara Anak Purworejo tahun berikutnya. Artinya, proses partisipasi anak berlangsung secara berkelanjutan.

Suara Anak Purworejo tahun ini adalah hasil gabungan dari Rembugan Bocah Purworejo tahun sebelumnya dan angket yang kami sebarkan. Sedangkan hasil Rembugan Bocah Purworejo tahun ini akan digunakan untuk Suara Anak tahun berikutnya,” terang Sachio.

Hal tersebut menunjukkan bahwa partisipasi anak tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Aspirasi perlu diteruskan, dikawal, dan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan maupun program yang memberikan manfaat nyata.

Heni menjelaskan, Rembugan Bocah Purworejo menjadi puncak dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Kabupaten Purworejo.

Rangkaian HAN sendiri tidak hanya dilaksanakan oleh DP3APMD. Berbagai perangkat daerah dan sekolah juga turut mengambil bagian dalam memperingati Hari Anak Nasional.

Pada 23 Juli 2026, perangkat daerah melaksanakan upacara peringatan Hari Anak Nasional. Sekolah-sekolah juga didorong mengisi peringatan tersebut dengan berbagai kegiatan yang melibatkan anak, seperti senam bersama, permainan tradisional, dan kegiatan positif lainnya.

Sementara bagi FORKARE, rangkaian menuju RBP juga dilakukan melalui kegiatan NYORE atau Ngobrol Santai Bareng FORKARE, yang dikemas dalam bentuk podcast dan live streaming media sosial.

Kegiatan pra-RBP tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan RBP, membahas persiapan, serta membuka ruang komunikasi dengan anak-anak.

Setelah RBP, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan kolaborasi bersama Kominfo melalui Podcast Jo (Podcast-nya Orang Purworejo) serta NYORE episode kedua yang membahas perjalanan dan hasil Rembugan Bocah Purworejo.

Sachio berharap Rembugan Bocah Purworejo dapat meningkatkan pemahaman anak mengenai hak-hak dasar mereka, sekaligus membekali mereka dengan pengetahuan tentang berbagai persoalan yang dihadapi anak saat ini.

Selain perundungan, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai kekerasan terhadap anak di ranah daring atau Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA).

Pengetahuan tersebut penting di tengah perkembangan teknologi dan semakin luasnya aktivitas anak di ruang digital. Anak perlu memahami hak, keamanan, serta risiko yang dapat muncul di dunia maya.

Harapannya anak-anak Kabupaten Purworejo lebih memahami dan bisa mengaplikasikan materi yang disampaikan mengenai klaster, hak anak, bullying, dan OCSEA,” kata Sachio.

Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengalaman, wawasan, serta menjadi ruang bagi anak-anak untuk membangun keberanian menyampaikan pendapat.

Lebih jauh, ia berharap aspirasi yang telah disampaikan benar-benar dapat ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan dan organisasi perangkat daerah terkait.

Sebab, keberhasilan partisipasi anak bukan hanya diukur dari seberapa banyak anak yang hadir dalam forum, tetapi juga dari sejauh mana suara mereka didengar, dipertimbangkan, dan diterjemahkan ke dalam kebijakan.

Rembugan Bocah Purworejo 2026 pada akhirnya membawa pesan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak.

Anak-anak membutuhkan ruang untuk belajar, bermain, berkreasi, berpendapat, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan perundungan.

Karena itu, aspirasi mengenai akses literasi, ruang bermain ramah anak, kawasan bebas rokok, perlindungan dari kekerasan, hingga keamanan di ruang digital menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang mendukung masa depan generasi muda.

Melalui Rembugan Bocah Purworejo, pemerintah memberikan ruang agar anak-anak dapat berbicara tentang kebutuhan dan persoalan mereka sendiri.

Kini, tantangannya adalah bagaimana suara tersebut dapat dikawal bersama sehingga tidak berhenti sebagai deklarasi di atas kertas.

Dengan keterlibatan pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media, dan anak-anak itu sendiri, Suara Anak Purworejo diharapkan benar-benar menjadi bagian dari arah pembangunan daerah.

Semangat tersebut sejalan dengan tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.”

Karena membangun masa depan Purworejo berarti juga memastikan anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, berpendidikan, memiliki kesempatan yang setara, serta berani menyampaikan suara mereka.

Dari Rembugan Bocah, anak-anak belajar menyuarakan harapan. Dari Suara Anak, pemerintah memperoleh masukan. Dan dari sinilah diharapkan lahir kebijakan yang semakin nyata dalam mewujudkan Kabupaten Purworejo yang layak, aman, inklusif, dan ramah bagi anak. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.