GEBANG, purworejo24.com – Kegiatan Sharing Learning Praktik Baik Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) yang digelar di Balai Desa Kroyo, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Rabu (1/7/2026), menjadi ajang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat komitmen berbagai pihak dalam membangun layanan sosial yang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsosdaldukkb) Kabupaten Purworejo, Andang Nugerahatara, menegaskan bahwa Rehabilitasi Berbasis Masyarakat bukan sekadar program layanan sosial, melainkan sebuah gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, keluarga, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan bebas stigma terhadap penyandang disabilitas.
Menurut Andang, Desa Kroyo layak menjadi contoh praktik baik karena berhasil membangun kolaborasi yang kuat antara pemerintah desa, kader kesehatan jiwa, keluarga, kelompok disabilitas, dan masyarakat dalam mendukung proses rehabilitasi serta pemberdayaan penyandang disabilitas.
“Rehabilitasi Berbasis Masyarakat mengajarkan bahwa pemulihan dan pemberdayaan tidak hanya dilakukan melalui layanan institusi, tetapi juga melalui dukungan lingkungan sekitar. Ketika masyarakat ikut terlibat, maka proses rehabilitasi menjadi lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebelum sesi diskusi dan berbagi pengalaman berlangsung, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke kebun pemanfaatan lahan pertanian yang dikelola Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Berkah Jaya.
Kebun tersebut menjadi salah satu bentuk aktivitas produktif yang melibatkan penyandang disabilitas dalam kegiatan pertanian dan pemberdayaan ekonomi.
Aktivitas tersebut dinilai memberikan manfaat yang luas. Selain menjadi sarana terapi sosial dan pemulihan kesehatan mental, kegiatan produktif juga mampu meningkatkan rasa percaya diri, kemandirian, serta membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat.
Model pemberdayaan seperti yang dilakukan KDD Berkah Jaya menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu menjadi pelaku pembangunan yang produktif apabila mendapatkan kesempatan dan dukungan yang tepat.
Dalam kesempatan itu, Andang juga menyoroti pentingnya pendekatan Every Life Matters atau setiap kehidupan memiliki nilai dan arti yang sama.
Prinsip tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan penghormatan terhadap hak-hak penyandang disabilitas, termasuk penyandang disabilitas psikososial.
“Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan, perlindungan, kesempatan, dan penghormatan atas martabat kemanusiaannya. Tidak boleh ada diskriminasi maupun stigma yang menghambat mereka untuk berkembang,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan yang inklusif tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana kelompok rentan dapat memperoleh akses terhadap layanan sosial, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan ruang partisipasi di masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kemensos RI, di antaranya Indra Gunawan, Dina Utari, Nyoman Surya, Donny Marshal, dan Stephanie Dwiyanti, beserta tim data, administrasi, dan humas. Selain itu hadir pula perwakilan Bappenas, Eva Nurhafiah Salsabilah dan Ellen Nadya Salbaina.
Turut mengikuti kegiatan tersebut perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Camat Gebang Endah Hana Rosanti, unsur TNI-Polri, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Pemerintah Desa Kroyo, pekerja sosial, kader kesehatan jiwa, organisasi penyandang disabilitas, serta berbagai komunitas yang bergerak dalam bidang rehabilitasi sosial dan kesehatan mental.
Andang memberikan apresiasi kepada Pusat Rehabilitasi YAKKUM yang selama ini konsisten melakukan pendampingan dan pemberdayaan penyandang disabilitas di Purworejo.
Apresiasi juga diberikan kepada Pemerintah Desa Kroyo, Kelompok Disabilitas Desa Berkah Jaya, kader, keluarga, dan masyarakat yang telah berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
Menurutnya, keberhasilan program rehabilitasi sosial berbasis masyarakat tidak dapat dicapai oleh pemerintah semata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha, lembaga sosial, tenaga kesehatan, keluarga, hingga masyarakat umum.
Melalui kegiatan Sharing Learning ini, Pemerintah Kabupaten Purworejo berharap praktik baik yang telah berkembang di Desa Kroyo dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain.
Dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah, model serupa berpotensi direplikasi untuk memperluas akses rehabilitasi sosial dan pemberdayaan penyandang disabilitas di berbagai daerah.
Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembangunan sosial yang inklusif dapat diwujudkan melalui gotong royong dan kepedulian bersama.
Desa Kroyo menunjukkan bahwa ketika masyarakat membuka ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas, maka tercipta lingkungan yang tidak hanya mendukung pemulihan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang dan berkontribusi.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, Purworejo terus mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih inklusif, peduli, dan berkeadilan, di mana setiap warga, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk hidup mandiri, produktif, dan bermartabat. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









