LOANO, purworejo24.com – Semangat berbagi dan menebar kebaikan di bulan suci Ramadan kembali ditunjukkan oleh Demaji Ecopark.
Melalui kegiatan Safari Ramadan, tim Demaji Ecopark mengunjungi Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa Tirto Jiwo yang berada di Desa Kalinongko, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, pada Senin (16/3/2026).
Kegiatan ini berlangsung penuh kehangatan dan kebersamaan. Tim Demaji Ecopark menghibur para penghuni panti dengan bernyanyi bersama, menari, serta berbincang hangat sebelum akhirnya berbuka puasa bersama.
Suasana yang semula tenang berubah menjadi lebih ceria, menghadirkan kebahagiaan bagi para penghuni panti yang selama ini menjalani proses pemulihan.
Owner Demaji Ecopark, Dwi Wahyu Atmaji, yang hadir bersama istrinya Endang Fanah Atmaji, mengatakan bahwa Safari Ramadan merupakan agenda sosial yang rutin dilakukan setiap bulan Ramadan dengan mengunjungi berbagai lembaga sosial.
“Selama Ramadan ini kami memang berkeliling ke berbagai lembaga sosial, seperti panti asuhan, panti rehabilitasi sosial, dan panti lansia. Menjelang akhir Ramadan ini kami menutup rangkaian kegiatan dengan berkunjung ke Panti Rehabilitasi Jiwa Tirto Jiwo,” ungkap Atmaji.
Ia menjelaskan, kunjungan tersebut juga menjadi momen silaturahmi dengan pengelola panti yang merupakan teman lamanya sejak masa sekolah.
“Panti ini dikelola oleh teman saya, Mas Bowo dan Mas Gunawan Setiadi. Dr. Gunawan Setiadi adalah teman saya di SMA Negeri 1 Purworejo. Saya sudah lama mendengar kegiatan mereka di sini, tetapi baru kali ini bisa datang langsung dan melihat kondisi di Tirto Jiwo,” ujarnya.
Setelah melihat langsung kondisi para penghuni panti, Atmaji mengaku tersentuh. Saat ini terdapat sekitar 50 hingga hampir 60 orang yang menjalani perawatan di panti tersebut dengan kondisi gangguan kejiwaan yang beragam.
“Secara fisik mereka relatif sehat, tetapi memang membutuhkan pendampingan intensif dalam hal psikologis dan kejiwaan. Tadi kami mencoba mengajak mereka bergembira, bernyanyi bersama, dan alhamdulillah mereka terlihat sangat senang,” tambahnya.
Sebelum mengadakan kegiatan di Purworejo, Atmaji bersama keluarganya juga sempat menggelar kegiatan serupa di Jakarta dengan mengunjungi sejumlah panti asuhan, panti rehabilitasi sosial, dan panti lansia.
Ia berharap kegiatan sederhana seperti ini dapat menumbuhkan kepedulian sosial masyarakat terhadap kelompok rentan.
“Saya juga mengajak teman-teman di Purworejo untuk lebih peduli kepada kelompok masyarakat yang mengalami permasalahan sosial. Bantuan tidak harus selalu besar. Bisa berupa makanan, obat-obatan, atau sekadar datang menghibur dan berbagi kebahagiaan seperti ini. Itu sudah sangat berarti bagi mereka,” katanya.
Sementara itu, Wibowo Setiadi, pengelola Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa Tirto Jiwo, menjelaskan bahwa panti tersebut didirikan sebagai tempat rehabilitasi bagi masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan dengan pendekatan yang menyeluruh.
Menurutnya, proses pemulihan di Tirto Jiwo dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu medis, psikologis-sosial, dan spiritual keagamaan.
“Tujuan kami adalah membantu mengubah kondisi yang kurang baik menjadi lebih baik. Kami memberikan berbagai kegiatan sesuai bakat dan minat para penghuni agar mereka bisa beraktivitas dengan lebih nyaman dan perlahan pulih,” jelasnya.
Dalam penanganannya, panti ini juga didukung tenaga medis. Wibowo bersama Dr. Gunawan Setiadi turut terlibat langsung dalam pendampingan, serta dibantu beberapa psikolog yang memberikan layanan pendampingan kejiwaan.
Panti Rehabilitasi Tirto Jiwo sendiri telah berdiri sekitar 15 tahun. Awalnya, kegiatan rehabilitasi dilakukan secara sederhana setelah Wibowo menemukan seseorang yang mengalami gangguan jiwa dan dipasung di sebuah desa.
“Dulu saya menemukan orang dipasung di Desa Gebang Pucuk. Saya bawa ke rumah sakit untuk diobati. Dari situ muncul keinginan agar ada tempat yang lebih layak untuk menangani orang dengan gangguan jiwa. Akhirnya kami membangun tempat rehabilitasi ini,” tuturnya.
Lembaga Tirto Jiwo berdiri atas dukungan keluarga besar almarhum Sungkono, yang juga menjadi cikal bakal berdirinya panti tersebut. Saat ini terdapat sekitar 60 pasien yang berasal dari berbagai daerah, meskipun pihak pengelola memprioritaskan masyarakat Purworejo.
Dalam operasionalnya, panti menerapkan sistem subsidi silang, di mana pasien yang mampu membantu menanggung biaya pasien yang kurang mampu.
“Ada yang membayar, ada juga yang tidak. Tapi kami tidak pernah menolak pasien hanya karena tidak punya biaya,” tegas Wibowo.
Bahkan bagi pasien yang belum memiliki identitas atau jaminan kesehatan, pihak panti berupaya membantu pengurusannya.
“Kalau belum punya KTP atau BPJS, kami bantu buatkan. Dengan begitu biaya pengobatan bisa lebih ringan,” jelasnya.
Selama ini, Tirto Jiwo juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Sosial Kabupaten Purworejo, Dinas Kesehatan, Satpol PP, Kepolisian, hingga Kementerian Sosial dalam penanganan pasien.
Ke depan, Wibowo berharap kualitas pelayanan dan fasilitas panti dapat terus ditingkatkan. Ia juga terus mengembangkan lingkungan panti agar lebih nyaman bagi proses pemulihan para penghuni.
“Di belakang ada kolam yang kami buat bersama teman-teman. Sambil menata lingkungan, tanpa sadar kami juga menata jiwa. Harapannya mereka bisa memiliki jiwa yang lebih baik dan berkualitas,” katanya.
Ia juga berharap Tirto Jiwo dapat terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
“Kami mohon doa dari semua pihak agar Tirto Jiwo bisa terus berkembang, memberikan pelayanan yang baik, dan menjadi tempat rehabilitasi yang bermanfaat serta berkualitas,” harapnya.
Melalui kegiatan Safari Ramadan ini, Demaji Ecopark tidak hanya menghadirkan hiburan dan kebahagiaan bagi para penghuni panti, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya kepedulian, empati, dan semangat berbagi, terutama kepada mereka yang membutuhkan perhatian dan dukungan dalam menjalani proses pemulihan hidup. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








