PURWOREJO, purworejo24.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah unggahan di media sosial memperlihatkan menu yang diterima siswa di beberapa sekolah di Kabupaten Purworejo.
Warganet mempertanyakan kelayakan serta kandungan gizi dari makanan yang dibagikan karena dinilai tidak sesuai dengan semangat program yang bertujuan meningkatkan asupan nutrisi anak.
Dalam sejumlah tangkapan layar yang beredar di grup Facebook “Berita Purworejo Terkini”, terlihat menu MBG yang terdiri dari roti kemasan, pisang, telur rebus, jeruk, kacang polong dalam plastik kecil, abon, hingga susu kotak.
Beberapa unggahan bahkan hanya memperlihatkan roti, buah, dan sebungkus kecil lauk kering tanpa menu utama seperti nasi dan sayur.
Salah satu unggahan menyebutkan pembagian MBG di SDN Bragolan dan SDN Ketangi, Kecamatan Purwodadi, pada Selasa (24/2/2026). Foto yang dibagikan memperlihatkan satu butir telur rebus, sepotong roti dalam plastik dan satu buah pisang.
Unggahan lain menunjukkan variasi menu berupa roti, abon dalam plastik, jeruk, dan kacang polong.
Reaksi warganet pun beragam. Sebagian menyayangkan komposisi menu yang dianggap kurang lengkap sebagai standar makan bergizi. Ada pula yang membandingkan dengan ekspektasi awal program MBG yang digadang-gadang menyediakan makanan dengan komposisi karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan buah secara seimbang.
“Yo sehat sek duwe SPPG, ojo ngasi ono sek ngomong maling berkedok gizi,” tulis salah satu pengguna Facebook
Komentar lain mempertanyakan konsistensi menu yang dinilai berubah-ubah dan tidak mencerminkan satu standar yang jelas. Bahkan nilai MBG yang pagunya Rp 10.000 dirasa menu tersebut tidak sampai Rp 10.000.
“Gimana au Indonesia Emas, Hapus MBG atau berikan tunai kepada orang tua saja biar tiap hari anak bawa bekal,” kata Salah akun @Res*****
Secara konsep, MBG dirancang untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak sekolah guna mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar.
Idealnya, satu porsi makan bergizi mencakup sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, serat, serta vitamin dari buah dan sayur. Namun, dari foto-foto yang beredar, menu yang dibagikan cenderung berupa makanan ringan atau paket praktis tanpa sayuran segar.
Beberapa warga juga menyoroti aspek penyajian yang seluruhnya dikemas dalam plastik sekali pakai. Selain menimbulkan kekhawatiran soal kualitas dan kebersihan, penggunaan plastik berlebihan dinilai tidak ramah lingkungan.
Meski demikian, ada pula orang tua yang menilai anak-anak tetap antusias menerima makanan tersebut. Mereka berpendapat bahwa setidaknya program ini membantu meringankan beban orang tua, terutama bagi keluarga kurang mampu. Namun, kritik tetap mengemuka agar kualitas menu ditingkatkan dan pengawasan diperketat.
Masyarakat berharap ada evaluasi menyeluruh agar tujuan utama program benar-benar tercapai, bukan sekadar pembagian makanan tanpa memperhatikan keseimbangan gizi. (P24-byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







